Jumat, 19 Juni 2020

Inner child

ditulis oleh : Bu Kenny

Bagi kita, kalian para orang orang tua, guru, siapa saja, termasuk saya, yang telah hidup puluhan tahun di dunia ini yang masih memiliki sisa luka batin.

Sebuah dongeng dari saya teruntuk kalian dan saya ....



Pada suatu hari. 
Di masa yang lalu, kini, dan nanti. 
Suatu ruang kecil nyaris tak terlihat. 
Teronggok sebuah peti besi tertutup rapat. Terkunci. 
Mahluk kecil terperangkap di dalamnya. Tertidur tak bergeming. 
Lengan dan kakinya mengkerut melindungi dirinya, bagai seorang bayi 
di dalam ruang peranakan sang Ibu. 

Sebuah goncangan mengejutkannya. Lalu ia kembali tertidur. Tak bergeming. 
Sebuah goncangan datang lagi. Kejutan yang membuatnya terjaga. 
Lalu ia kembali tertidur. Tak bergeming. 
Sebuah goncangan datang lagi. Kejutan yang membuatnya terbangun, meronta, berusaha untuk keluar dari dalam peti besi yang tertutup rapat. 


Terkunci. 
Memerangkapnya





Sungguh gaduh suaranya menggedor-gedor peti besi. 
Ku menghampirinya sambil menggenggam kunci emas kecil. 
Ku cari lubang kuncinya. Ku masukan kunci emas ke dalam lubang itu. 
Kuputar perlahan lalu kubuka tutup peti besi itu hati-hati. 

Mahluk kecil itu menyerbu keluar. Kuterperanjat sejenak. 
Namun kubiarkan saja ia berteriak-teriak, berdentum-dentum 
menikmati kebebasannya tak terkendali. 
Kupejamkan mata sambil mengatur nafas. 




Ku hampiri ia perlahan. 
Ia tercenung. 
Kubelai rambutnya. 
Kusentuh pipinya. 
Kugenggam tangannya. 
Kurangkul ia. 
Dan ku berkata lirih 
“Ku tau kau ada di sini.”








Sabtu, 13 Juni 2020

Dari Hati ke Hati

ditulis oleh : Bu Irma

Ada yang bilang kehidupan itu ada di hati Jika hati sudah mati, maka hidup tak lagi berarti
Jika hati dapat memberi arti
Maka harus dijaga jangan sampai mati
Bukan hanya menjaga hati diri sendiri
Namun semua insan yang punya hati
Apalagi bagi yang sudah memberikan hatinya
Bukan hanya dijaga, tapi dihargai dan disyukuri
Karena apa?
Karena ia sudah bersedia membagi kehidupannya untuk hidup orang lain.


Hati berada di tempat yang tersembunyi
Tak tampak, abstrak, dan sulit ditebak
Hanya hati dengan hati yang mampu mengungkap
Apa yang tak dapat terucap
Hingga pengertian dan penghargaan pun muncul tanpa paksa
Menjadikan hidup damai terasa
Menambah syukur atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga

Jumat, 12 Juni 2020

Tak Kenal Maka Tak Sayang

ditulis oleh : Bu Mela

“Tak kenal maka tak sayang” sebuah ungkapan klasik yang sering kali aku dengar. 
Untuk kesekian kali aku mengalaminya. 
Saat kamu sayang dengan seseorang, pasti kamu sudah mengenalnya. 
Saat kamu mengenalnya, maka kamu menjadi sayang padanya. 
Sayangi orang-orang yang ada di sekitarmu, hargai dirinya, empati terhadapnya. 
Dan lihatlah apa yang akan terjadi....  

Kamis, 11 Juni 2020

Rupa Cinta

ditulis oleh : Bu Kenny

Jika aku bicara tentang cinta

Maka aku sebenarnya tak mengerti apa itu cinta

Jika aku melakukan sesuatu atas nama cinta

Maka aku sebenarnya tak memiliki cinta

Jika aku memejamkan mata

Setengah tertidur setengah sadar

Maka cinta kan datang

Dalam segala rupa



Jumat, 05 Juni 2020

Laku Sebuah Ilham

ditulis oleh : Bu Kenny

Sinar bulan pemberi terang
Angin bersilir sang juru bisik
Bintang gemerlap penghias malam
Menghantar ilham tak berpawang yang hilir mudik

Saya bukanlah pawang ide. Buah pikiran dari sebuah pohon yang tumbuh subur karena alam semesta dan Penciptanya. Inspirasi yang muncul dari orang-orang di sekeliling. Ilham yang datang dihantar bulan, angin, dan bintang di malam hari.  Dan ketika pagi merekah hingga senja tiba, mentari adalah juru masak sang buah pikiran. Bagi segala gemerlap alam semesta karunia Yang Maha Kuasa, maka laknat dari sebuah kutukan tak kan mempan. 

Hari Rabu tanggal 3 Juni pukul dua siang. 
Terhidang sajian indah sepenuh hati. 
Hasil dari sebuah ide tak berpawang. 
Wujud upaya banyak tangan kanan dan kiri




Kami berkumpul dalam sebuah ruang virtual yang lapang. Pinjaman dari seseorang yang berhati lapang. Dari sekitar 250 orang yang menyatakan ingin hadir, sekitar 170 orang dari berbagai daerah di Indonesia dan negeri seberang dipertemukan dalam sebuah ruang pertemuan yang bertajuk "Menjadi Seorang Guru Waldorf." Lima orang guru menghantarkan sajian yang memiliki ciri khas cita rasa dari sekolahnya masing-masing. 



Moderator : Nanda
Host : Andina
Co-host : Ari & Iwan


"Memahami suatu filosofi bukan berarti menelannya bulat-bulat sebagai sebuah dogma. Keterbukaan kita untuk mempelajari kehidupan merupakan jalan pembuka bagi kita untuk mendekati sebuah kebenaran yang hakiki." - Kenny, guru Jagad Alit Play & Kinder di Bandung -

"Saya merasa diperlukan keterbukaan untuk menggali lagi, belajar lagi. Bukan hanya tentang anak-anak tapi juga mengajari diri sendiri....Dengan belajar, saya merasa sedikit demi sedikit bertumbuh bersama anak-anak. Jadi bukan saya yang mengajari anak-anak, tapi saya yang banyak belajar dari anak-anak. Satu mentor pernah mengatakan You have to have something to be able to give. Apa yang bisa saya berikan..... Memberi menurut saya bukan apa yang saya inginkan sebagai orang tua, orang dewasa atau guru ingin berikan, tapi lebih kepada apa yang anak-anak perlukan."- Puspa, guru Madu Playhouse di Ubud Bali -

"Yang sangat berkesan bagi saya menjadi guru Waldorf adalah di persiapan dirinya.... Kalau kamu terpanggil, kamu harus bersedia untuk merubah dirimu (untuk menjadi a person of initiative, interested in every facet of life, never compromise with untruth and always be fresh, never sour)." - Erika, guru TK Arunika di Bandung -

"Pertemuan dengan Kulila, perjalanan saya sampai dengan hari ini bisa dibilang life changing experience karena aku merasa belajar Waldorf itu tidak hanya belajar bagaimana mendidik anak, tapi bagaimana kita mengenal diri kita, bagaimana kita menjalani kehidupan. Selama ini, anak-anak itu mengajari saya bagaimana menahan diri, tidak reaktif dalam menanggapi sesuatu. Saya juga belajar untuk bersyukur di setiap harinya. Ketika di Kulila, saya belajar menikmati keindahan yang ada di sekitar. Dan saya merasa betul ketika keindahan itu hadir di dalam diri saya, rasa syukur seketika hadir. " - Okta, guru Playgroup dan TK Kulila di Yogya -


"Saya background-nya  belajar psikologi klinis anak di Unpad, jadi rasanya pendidikan Waldorf itu benar-benar memanusiakan manusia, menurut saya....holistik...memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan usianya, respect pada anak....pada fase mana anak itu berada. Semua berdasar kebutuhan perkembangan anak itu sendiri."- Demira, guru SD Madu di Ubud Bali -


Sebuah dongeng manis menutup ruang pertemuan kami kala senja kan bergulir malam. Menanti kembali hantaran bulan, angin malam dan bintang. Bagi hadirnya kembali sebuah ide tak berpawang. Dalam segala gemerlap alam semesta karunia Yang Maha Kuasa, dimana laknat dari sebuah kutukan tak kan mempan.







Rekaman zoom meeting Menjadi Seorang Guru Waldorf
Kanal youtube Waldorf Indonesia


Kembali "Normal"

ditulis oleh : Bu Irma

Hari ini akhirnya datang. Hari yang mungkin ditunggu banyak orang dan didoakan. Momen ini disebut-sebut sebagai Normal Baru, dimana kami beraktivitas kembali seperti biasa dengan cara yang baru, yang perlu disesuaikan dengan kondisi saat ini.

Setelah lebih dari 3 bulan kami melaksanakan ritme baru, yaitu ritme "di rumah aja" kerja di rumah, berdiskusi dari rumah, berkarya di rumah, dan segala halnya di rumah, tentunya perlu adaptasi kembali saat harus beraktivitas kembali ke luar rumah. Butuh persiapan baik lahir dan juga batin untuk menghadapi keadaan ini. Hal-hal apa saja? Mari dijabarkan. 

1. Membuat ritme baru
Seperti awal saat pandemi terjadi, kali ini terjadi lagi. Rasanya kita harus semakin membiasakan diri untuk cepat beradaptasi di tengah kondisi yang banyak ketidak pastian seperti saat ini. Ritme tidur hingga tidur kembali perlu di persiapkan dan diatur lagi agar semuanya tetap berjalan baik. Waktu tidur yang mungkin bergeser ke pertengahan malam harus di ubah lagi agar waktu istirahat tetap tercukupi. Jika waktu masak dan bebersih rumah di pagi hari, mungkin bisa bergeser ke sore hari. Perlahan saja dan lakukan saja. 

2. Perlengkapan Diri
Ini penting. Di saat seperti ini memang perlu persiapan lebih. Sebelumnya aku tipe yang santai, jarang bawa perlengkapan diri. Tas dengan isi dompet dan hp rasanya sudah cukup :D. Saat seperti ini perlu sekali perlengkapan diri. Minimal masker, hand santizer/sabun  dan sarung tangan harus ada di dalam tas. Perlengkapan lain seperti botol minum, tempat makan, baju ganti, face shield, dll juga bisa disiapkan jika memang diperlukan. Banyak anjuran protokol kesehatan yang telah beredar yang dapat diikuti.

3. Setting mindset
Ini penting banget. Saat keluar rumah perlu pikiran yang positif dan yakin. Selain ikhtiar secara lahir, secara batin pun sangat perlu. Doa meminta perlindungan kepada Sang Pencipta dan yakin dengan segala ikhtiar yang dilakukan akan baik-baik saja. 

4. Beretika dan saling menjaga
Ini juga harus diperhatikan. Tentu rasanya senang sekali dapat kembali berkumpul, bertemu, bersosialisai secara langsung. Namun mari kita saling menjaga untuk tetap aman bagi diri dan juga orang lain. 

Empat hal tersebut pula yang sedang kami pikirkan untuk dapat mewujudkan momen "Kembali Bersekolah", bukan hanya kami yang kembali tapi anak-anak juga. Tentunya hal ini tidak mudah. Di tengah pandemi dimana setiap orang punya standar keamanan, kondisi kesehatan, situasi lingkungan yang berbeda atau latar belakang pemikiran lain yang berbeda. Bismillah, semoga kami dapat dengan bijak mengambil langkah untuk kebaikan bersama. Bantu kami juga ya untuk mencapai hal itu :). 

Kembali...

ditulis oleh : Bu Mela

Setelah hampir tiga bulan tidak menghirup udara Bandung selain bagian Utara, akhirnya kemarin merasakannya. Selama ini perjalananku hanya sekitar Dago (Superindo, Borma). Ga lebih dari itu. Kembali menaiki jembatan Pasupati, menuruninya lalu kembali melewati Jl. Dr. Djunjunan. Seperti biasa...kalau melewati jembatan Pasupati aku selalu melihat ke arah kanan karena terdapat dua gunung (entah gunung apa namanya) yang kadang terlihat jelas, kadang tertutup awan. Kemarin terlihat jelas bentuknya :) 

Motor suamiku melaju lebih cepat dari biasanya. Sepi sekali. Masih lebih ramai jalanan di sekitar Dago. Banyak yang sepedahan dan lari pagi. Motor dan mobil juga lebih banyak yang berlalu lalang. 


Kembali ke daerah Pasteur, melewati Jalan Babakan Jeruk. Sepi juga. Tampak hanya beberapa orang saja. Tiba di sekolah. Kembali menginjakkan kaki di halaman bermain. Yang pertama kuhampiri adalah pojok kebun. Melihat pohon-pohon yang tadinya pendek dan daunnya belum begitu banyak. Sekarang sudah tinggi dan daunnya lebat sekali. Pohon arbei yang tadinya tingginya ga sampai selututku sekarang sudah hampir sedadaku sepertinya 😅 bunga telang ada dimana-mana, bunga alamanda dahannya semakin tinggi dan bunganya banyak sekali, pohon bunga kamboja daunnya semakin besar sekali, pohon sawo daunnya semakin lebat, pohon pisang daunnya banyak sekali dan sangat besar!  Rumput di halaman bermain juga yang tadinya gundul di beberapa bagian, sekarang sudah tumbuh lagi dan hijau. Sejuk rasanya. Alhamdulillah. Semuanya sehat, semuanya menghirup udara yang semakin segar karena minim polusi selama pandemi ini. Memang berkah. Alhamdulillah....