Kamis, 30 April 2020

Setitik Pemikiran tentang Imajinasi

ditulis oleh : Bu Kenny

Fantasi dan imajinasi. Merupakan tahap awal proses berpikir anak. Ketika anak bermain, ia menggunakan berbagai objek yang ada di sekitarnya. Seringkali objek-objek ini digunakan bukan sebagai fungsi yang semestinya. Bantal-bantal kursi dijadikan perahu atau jembatan. Anak masuk ke dalam laundry bag, yang baginya adalah sebuah mobil. Guling-guling disusun berjejer menjadi rangkaian kereta api. Berbagai peralatan dapur dijadikan alat musik. Bunga, ranting, pasir, tanah menjadi bahan-bahan untuk memasak. Objek yang ditemui anak, bisa menjadi apa saja. Inilah fantasi. 



Saat anak berusia sekitar 4-5 tahun, ia mulai merancang permainannya. Ia ingin berperan sebagai petugas pemadam kebakaran. Ia mencari objek-objek yang bisa dijadikan alat untuk bermain pemadam kebakaran. Potongan kayu menjadi selang airnya. Ia ingin berperan sebagai seorang puteri. Kain-kain dililitkan menjadi gaunnya. Ia ingin menjadi penjual makanan. Biji-biji pinus dan batu menjadi ikan goreng. Tanpa objek di hadapannya, ia membayangkan sebuah konsep, lalu mencari objek yang dapat mewujudkan konsep di kepalanya. Inilah imajinasi. 




Apakah orang dewasa memiliki fantasi dan imajinasi? Tentu saja atau mungkin saja. Namun tak sehebat fantasi dan imajinasi anak. Mengapa? Karena kita sudah dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran yang (menurut kita) logis, yang seringkali membuat kita tidak lentur dalam berpikir. Apakah hal ini akan mempengaruhi kita untuk memperoleh inspirasi dalam ranah feeling dan mempengaruhi kita dalam melakukan sesuatu berdasarkan intuisi? Itulah bahasan yang dibawakan oleh salah seorang orang tua murid, Bu Nanda, pada sesi ngobrol bersama orang tua hari Senin yang lalu. 

Saya tidak akan membahasnya disini. Karena nalar belum mampu mengkolaborasikan antara imajinasi, inspirasi, dan intuisi. Namun ada yang mampir di kepala saya. Saat kita dipertemukan dengan seseorang. Kita tahu orang itu. Bahkan kemudian kita bisa mengenal orang itu. Kita terlibat dalam berbagai interaksi dengan orang tersebut. Tetapi apakah kita memahami orang itu? Apa yang dia pikirkan? Apa yang dia rasakan? Mengapa ia mengambil keputusan itu? Mengapa ia melakukan hal tersebut? Kita mencoba memahami orang tersebut, namun  tak mudah. Kita mencoba menerima orang tersebut, tetapi cukup sulit. Proses apa yang terjadi saat kita mencoba memahami dan menerima seseorang dengan segala kondisi yang dimiliki orang tersebut? Mungkin banyak sekali prosesnya namun seperasaan saya salah satunya adalah proses imajinasi. Kita membayangkan diri kita ada pada posisi orang tersebut. Kita membayangkan apa yang ia alami. Kita membayangkan apa yang ia rasakan. Semua kita lakukan tanpa kehadiran objeknya yaitu orang yang bersangkutan dalam artian kita tak bisa "melihat" pikiran dan perasaan orang itu. Kita bisa melihat apa yang ia lakukan, namun yang terlihat hanyalah yang ada di permukaan. Imajinasi kita harus bekerja. 




Empati menjadi satu kata yang sangat penting dalam kehidupan kita sekarang. Empati terhadap orang lain....empati terhadap bumi dan seisinya. Empati adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain. Bukankah imajinasi masuk ke dalam spektrum yang luas itu? Jika iya, maka apakah kita masih pantas mengesampingkan proses bertumbuhnya imajinasi pada diri seorang anak? Apakah kita masih lebih mendewakan proses intelektualisasi yang kaku bagi seorang anak? 

Jumat, 24 April 2020

Di Tengah Perubahan

ditulis oleh : Bu Irma


"Mba sedih ya ga bisa mudik" ujar adik

"Toko jam segini udah tutup aja" ujar ibu

"Bapak kangen ke Masjid tapi pada ditutup" ujar bapak

"Ketemuan sama orang-orang semakin sering ya sekarang, tapi virtual hehe" ujarku

Banyak hal berubah. Banyak hal yang tak lagi sama terjadi di semua sektor kehidupan baik ekonomi, pendidikan, keagamaan dan yang lainnya. Mudah sekali menyebutkan perbedaan kondisi saat ini dengan sebelumnya dan itu yang lebih banyak terdengar di telinga ku juga yang sering keluar dari mulut ku.

Ramadhan tetap datang tak mengenal kondisi. Membuat ku merenung dan mencoba merasakan kehadirannya. Tersadar bahwa cahaya Rahman dan Rahim Nya tak pernah berubah, tak pernah luput, tak pernah sirna. Tetap sama! Hanya kami yang perlu lebih berlapang dan menengadah untuk menerima kasih-Nya.
Berusaha lebih baik memanfaatkan kesempatan yang diberikan-Nya sebagai bentuk syukur baik lewat lisan maupun tindakan. Syukur harus lebih banyak di serukan daripada membandingkan apa yang tak seperti biasanya lagi.

Selasa adalah waktu kami berkarya. Tertuang sedikit kata tentang apa yang dirasa.




Seringkali kita hanya berpusat pada apa yang tampak namun melupakan apa yang membuat hal-hal tersebut menjadi tampak. Berlian, emas, permata tak akan terlihat  kilaunya jika tak ada yang menyinarinya. Penglihatan menjadi gelap tanpa ada yang meneranginya. Cahayalah yang memberi arti.


Semoga dengan cahaya-Nya juga kehidupan ini menjadi lebih berarti.

Bumi dan Pandemi

ditulis oleh : Bu Mela


Tanggal 22 April kemarin adalah Hari Bumi. Aku masih ingat, tahun lalu saat hari Bumi, Jagad Alit outing ke Babakan Siliwangi. Sebelum jalan-jalan, kami melakukan operasi semut. Aku cukup banyak menemukan sampah bekas kemasan makanan yang masih utuh. Belum terurai, tapi terlihat udah lama banget dia berada di situ. Bekas mi instan, minuman sachet, sedotan plastik dll. Saat itulah titik balik aku menyadari bahwa... kasian banget ya bumi ini. Langsung sedih, banget. Sepulang dari sana, aku yang tadinya masih belum peduli sama pisahin sampah sesuai kategori, langsung cari tau tentang cara pilah sampah. Alhamdulillah sampai saat ini masih berjalan, walau ya memang belum 100% sempurna pilah sampahnya.


Manusia terkadang memang suka seenaknya sama bumi ini. Buang sampah sembarangan, banyak pakai kemasan-kemasan sulit terurai. Ah dan banyak lagi! Ga heran ya, bumi sekarang minta istirahat dulu. Seluruh dunia. Bukan cuma di Indonesia aja. Kita harusnya menyadari bahwa pandemi yang sedang dialami bumi ini, sedikit banyaknya adalah karena ulah manusia juga. Kita harus berlapang dada kalau saat ini bumi minta istirahat. Berapa lamanya, kita ga ada yang tau.


Aku baru dua bulan menjalani pola makan vegan, banyak alasan kenapa aku mau melakukan ini. Salah satunya, untuk bumi. Agar kelak kalau nanti aku punya cucu cicit mereka masih bisa lihat hewan-hewan dan bumi yang semakin indah dan hijau. Itu saja belum cukup, aku masih harus banyak melakukan hal-hal untuk bumi ini.


Ramadhan kali ini pun akan sangat berbeda. Walau berbeda, Ramadhan tidak akan pernah kehilangan makna. Punya cahaya dan ceritanya sendiri. Dengan banyak di rumah aja, semoga kita bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta.


Selamat berpuasa ya. Semoga Ramadhan dgn bumi & pandemi ini tetap penuh keberkahan dariNya 🙏🏼

Kamis, 23 April 2020

Ilmu Pengetahuan, Seni dan Spiritualitas

ditulis oleh : Bu Kenny




"Apa yang kau cari akan mencarimu." Itu yang saya dengar dari seorang sahabat saya Pujiastuti Sindhu. 

Ilmu pengetahuan yang dijabarkan sebagai keluasan wawasan. Seni yang dijabarkan sebagai harmoni dan keindahan. Spiritualitas yang dijabarkan sebagai kedalaman esensi. Itu yang saya dapat dari sahabat saya, Nanda Indriana. Yang kemudian dalam kepala saya terbersit pula kebijakan dalam bernalar sebagai bagian dari ilmu pengetahuan. 




Ritme wfh kami para guru di hari Selasa adalah Selasa berbagi. Membuat arts atau craft yang kemudian kami kirim melalui email kepada para orang tua untuk diprint dan diperlihatkan pada anaknya. Sudah lama saya ingin membuat wet on wet water color painting. Tapi tak cukup keberanian. Merasa tak cukup mumpuni untuk menghasilkan keindahannya. 


Saya teringat saat mengikuti Early Childhood Teacher Training di Bangkok. Para peserta diminta membuat veil painting. Melukis dengan teknik pewarnaan transparan yang berlapis-lapis. Kemudian kami diminta untuk memandangi hasilnya. Kami diminta untuk mencari sebuah bentuk dari lapisan warna-warna tersebut. Kala itu saya tak mengerti kedalaman makna dari cara melukis seperti itu. 









Di malam Selasa  saya teguhkan niat. Mengumpulkan keberanian untuk membuat veil painting. Dan gagal...hahaha. Namun....inilah hasilnya. Saya menyapukan kuas. Warna merah dan kuning. Mengalir di atas kertas yang sebelumnya direndam air. Merah dan kuning saling menghampiri. Berbaur berpadu. Sedikit warna biru turut serta. Berbaur berpadu. Saya memandangi hasilnya. Mencoba mencari sesuatu. "Apa yang kau cari akan mencarimu."




Tiba-tiba bagaikan hadir ke dalam diri saya. Sebuah bentuk. Bentuk yang hidup. Lekat saya tatap. Ia bagai menyampaikan sesuatu pada saya. Sesuatu yang merangkai banyak pemikiran di kepala saya. Sesuatu yang merangkai banyak pemikiran menjadi sebuah kedalaman esensi. Maka hadirlah untaian kata. Sebuah karya yang bagi saya merupakan harmoni dari ilmu pengetahuan, seni dan spiritualitas. 



Kamu tercipta dari sekian banyak warna
Yang mengalir dan melebur
Kamu mungkin merasa tak ada
Tapi aku bisa melihatmu
Dari sekian banyak warna 
Yang mengalir dan melebur
Kamu adalah cahaya






Jumat, 17 April 2020

Hikmah Karantina

ditulis oleh : Bu Mela


Masih dalam masa karantina. Sudah mulai bosan belum ya di rumah aja? Aku sendiri masih menikmatinya. Dengan ritme baru yang ada tentunya punya keseruan dan cerita tersendiri. Kadang juga aku menikmati waktu tanpa hal produktif. Menurutku untuk ga produktif sesekali, ga apa-apa juga. Enak lho! Hehehe....

Dalam masa seperti ini sebenarnya banyak hal yang bisa kita pelajari, banyak juga hikmah yang bisa diambil. Salah duanya adalah lebih dekat dengan keluarga & semakin merasakan arti kehadiran seseorang di dalam hidup kita. Ya ga sih? Juga... Dengan adanya pandemi ini, orang-orang banyak yg reuni virtual, padahal tadinya mungkin jarang sekali kontakan. Banyak juga yang jadi jago masak, padahal tadinya jarang ke dapur. Jadi jago baking, padahal tadinya ga bisa sama sekali bikin kue. Jadi sering main sama anaknya, padahal tadinya buat ngobrol aja  jaraaang banget 😁




Seru ya. Alhamdulillah. Ada aja memang caraNya untuk kita belajar lebih banyak tentang hidup. Mengutip dari salah satu study group bersama Ibu Manda “Esensi dari belajar adalah perubahan”. Berati kalau ga berubah? Apa ya...?

Semoga setelah pandemi ini banyak hal yang kita pelajari ya :)

Menangkap Makna

ditulis oleh : Bu Irma



Sore itu cerah sekali. Cahayanya tampak kuning kemerahan. Mengisi setiap sudut pandang menjadi terang. Terlihat tunas-tunas telang tumbuh riang dimana saja, bunganya tak kalah senang ikut tumbuh berkembang. Daun bawang cepat sekali tumbuh meninggi, tak hanya tinggi namun cukup lebat dan tampak enak tuk di aduk menjadi telor dadar. Tanaman mangga, lerak, pepaya, arbei dan jeruk semakin jangkung. Warna kuning dan merah di tanaman Alamanda dan Dadap yang mencolok itu tertangkap mata sedang tumbuh subur dan merekah. Daun pohon pisang terlihat memberi kode siap dipanen untuk dijadikan sampul pepes. Mint kesukaan ku tampak baik-baik saja dan daunnya semakin banyak. Tanaman rambutan yang terakhir kali ku lihat 15cm, kini tak tampak. Kemana dia? Ternyata aku merasakan social distancing bukan dengan manusia saja, namun dengan tanaman juga. Ya itu semua tanaman kami di sekolah. Aku melihat kondisi itu dari layar gadget ku. Dalam waktu sebulan ternyata banyak sekali ku lewatkan tumbuh kembang tanaman yang biasanya ku tengok hampir setiap hari. Dalam sehari ada saja perbedaan dari tanaman yang dapat kami temui. Ada biji yang mulai bertunas, ada daun muda yang mulai merekah, ada buah yang sudah memerah, bahkan yang hampir mati karena hama pun dapat kami temukan. Pilu, karena tak tahu pasti bagaimana mereka tumbuh, namun tetap bahagia saat tau mereka yang baik-baik saja dan semakin baik. 


Merasakan semua itu, hati dan pikiran berlari kencang pada murid-murid ku. Selama ini tak bertemu, sudah seperti apa kamu anak-anakku? Setiap harinya biasanya aku mendapat "laporan-laporan" penting dari mereka. Dari celotehannya, dari permainannya, dari interaksinya dan hal lainnya. Pilu, tak ikut serta membersamai perjalanannya. Namum, bahagia karena aku tau mereka selalu berada bersama dengan sosok-sosok terbaik untuknya. 

Jarak ternyata membuat banyak insan semangkin sadar akan berartinya masa saat sedang berdekatan. Sadar, hadir, penuh, utuh itu menjadi hal yang perlu ditanam dalam diri agar mampu menciptakan hal-hal terbaik di setiap momennya. 

Merindukan momen kebersamaan tercurah pada karya dan surat cinta minggu ini. Ku putuskan membuat family portrait. Saat menggambarnya aku bayangkan satu persatu sosoknya. Formasi lengkap! dimana kalau di kenyataan foto dalam formasi lengkap itu agak sulit terjadi hehe. 



Banyak momen bersama yang melintas dihati. Ini salah satu momen terbaik yang dapat tertuang



Parenting minggu ke 3 ini berjalan seperti biasanya. Ku temukan satu kutipan yang berbunyi:

“Something very beautiful happens to people when their world has fallen apart: a humility, a nobility, a higher intelligence emerges at just the point when our knees hit the floor. Perhaps, in a way, that’s where humanity is now: about to discover we’re not as smart as we thought we were, will be forced by life to surrender our attacks and defences which avail us of nothing, and finally break through into the collective beauty of who we really are.”
-Marianne Williamson-

Menarik! Kutipan ini bilang kalau suatu keindahan itu dapat terjadi di fase terendahnya kehidupan. Situasi sulit, terpuruk dan mungkin tak nyaman. Namun kondisi tersebut dapat menyadarkan akan ketidakmampuan dan keterbatasan yang menjadi obat kerasnya diri. Sehingga kemudian sanggup menangkap hikmah dengan lebih jernih yang membawa kepada kondisi yang lebih baik. 

Kutipan itu rasanya mewakili kondisi pandemi saat ini. Situasi sulit, tak nyaman dan penuh keterbatasan sedang terjadi dimana-mana. Pernyataan dan pertanyaan muncul beriringan, "Sekarang aku jadi ga bisa lakuin ini, ini, ini dan ini lagi, terus apa yang bisa aku lakukan?" kalau kata orang sunda mah intinya "urang kudu kumaha atuuuuuh?" 
Rasanya ini jadi waktu yang tepat untuk merenung, menyadari segala ketidakmampuan diri dan melepaskan segala "kesombongan" yang selama ini menjadi tiang untuk menggantungkan diri.

Semoga kami mampu melewati masa ini dengan segala kerendahan hati, dengan segala modal yang masih dititipkan-Nya saat ini, dengan segala kenikmatan-Nya yang masih tercurah hingga detik ini. Teriring doa dan segala upaya semoga akhir yang baik dan indah dapat kami rasakan bersama. Aamiin. 


Kamis, 16 April 2020

Selimut rindu

ditulis oleh : Bu Kenny

Tiga minggu berlalu. Kami para guru menjalani ritme work from home. Senin membahas artikel dan ngobrol dengan para orang tua melalui zoom. Selasa membuat art work atau craft dan mengirimkan fotonya melalui email untuk diprint oleh para orang tua dan diperlihatkan pada anaknya. Rabu istirahat. Kamis ngobrol antar guru termasuk melakukan child study dan interview calon guru melalui zoom. Kami juga menulis surat untuk anak-anak dan mengirimkan foto surat untuk diprint dan dibacakan oleh orang tua pada anaknya. Jumat membuat tulisan seperti ini. 



Artikel yang dibahas selalu  membuka wawasan baru. Obrolan selalu seru. Foto arts, craft dan surat selalu mendapat tanggapan hangat dari para orang tua dan anak-anak. Para orang tua menceritakan anaknya yang minta dibacakan suratnya berulang kali. Beberapa anak mengekspresikan apa yang muncul di benak mereka akan sekolah dalam bentuk gambar. Permainan di rumah pun diwarnai dengan permainan dengan setting sekolah-sekolahan. Hal-hal seperti itulah yang kami dengar dari cerita para orang tua. Keterhubungan kami dengan anak-anak dan para orang tua terus terjaga. Kita semua bagai sedang menata selimut rindu. Membentangkannya dengan hati-hati, merapikan ujung-ujungnya yang bersudut, menariknya hingga ke ujung leher agar memberi kehangatan ke seluruh tubuh. 



Sementara itu undangan pertemuan virtual dari sana dan sini untuk keperluan ini dan itu semakin kerap. Undangan mengisi atau menyaksikan obrolan live-pun berdatangan. Tak berbatas jarak. Kita dapat bertemu dengan orang-orang yang dulu sulit kita temui karena tinggal di kota atau negara yang berbeda. Tak ada kendala lalu lintas yang macet atau jarak yang jauh untuk menemui orang-orang di kota yang sama. Dan....tak berbatas waktu! Pertemuan virtual dapat dilakukan kapan saja sepanjang kita mau. Pagi, siang, sore atau malam hari. Hujan deras tak jadi penghalang. Belum mandi pun tak jadi masalah. Sambil masak, sambil mencuci pakaian atau menyeterika, menjadi mungkin untuk tetap dapat pergi secara virtual menghadiri sebuah meeting. Bahkan ada pula yang mengadakan pertemuan virtual sambil sarapan, makan siang, atau makan malam di hadapan layar dengan video on seakan sedang makan bersama-sama di satu meja. Pertemuan dan kebersamaan yang dulu seringkali terkendala, sekarang malah jadi pertemuan yang bisa dilakukan kapan saja kita mau. Namun kemudian mulai muncul agenda pertemuan virtual yang waktunya berbarengan. Itu mungkin sekarang yang menjadi kendala. Tetapi pertemuan virtual yang berbarengan waktunya bisa saja kita lakukan jika kita mau. Dulu kita tidak bisa datang ke tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan, namun sekarang kita bisa hadir di tempat virtual yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. 

Aneh ya.... Entah apa yang aneh. Tapi saya merasakan keanehan itu. Dan diantara keanehan itu, saya merasakan keanehan yang lain. Aneh bahwa ternyata pertemuan virtual itu melelahkan. Bukan karena frekuensinya yang sering, tapi setelah saya selesai di satu pertemuan virtual, badan terasa letih sekali. Cukup lama saya berpikir (seperti biasa....kelamaan mikir...hehe). Mungkin ini penyebabnya. Etheric, astral dan I kita bekerja keras. Keras sekali. Kenapa? Karena physical body kita tidak hadir saat kita melakukan keterhubungan virtual. Empat indera dasar kita, yaitu movement, balance, life dan touch tidak berperan sebesar atau seaktif ketika kita melakukan interaksi langsung dengan orang lain. Kita duduk di hadapan layar, berbicara kepada layar, mendengar suara orang melalui earphone atau speaker komputer, bahkan kini ada istilah virtual hug. Semuanya membantu....sangat membantu di saat seperti ini. Tetapi di lain sisi, banyak sekali yang hilang dengan bentuk keterhubungan seperti ini. Ketidakhadiran kita secara fisik ternyata malah membuat kita letih! Membuat kita harus bersusah payah. Saya teringat pembicaraan dulu saat study group, bahwa physical body adalah kendaraan bagi etheric. Ketika kendaraan ini tidak hadir, dan tidak pula aktif berinteraksi melalui movement, balance dan touch, maka apa yang terjadi dengan etheric? Apa yang kemudian terjadi dengan astral dan I? 




Aneh...dan menarik. Menarik untuk ditelisik lebih lanjut. Saat ini marilah kita membentangkan selimut rindu dengan hati-hati, merapikan ujung-ujungnya yang bersudut, menariknya hingga ke ujung leher agar memberi kehangatan ke seluruh tubuh. Hingga nanti suatu pagi kita terbangun dan melipat selimut itu dengan hati-hati, merapikan lipatan ujung-ujungnya yang bersudut, menyimpannya di sisi tempat tidur kita.