Tampilkan postingan dengan label pendidikan waldorf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan waldorf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Desember 2022

SIMPLIFYING ENVIRONMENT - SIMPLIFYING TOYS

Tulisan ini diadaptasi oleh Ibu Kenny Dewi, guru Jagad Alit – Waldorf Play & Kinder, 
dari buku Simplicity Parenting yang ditulis oleh Kim John Payne. 
Penjelasan yang lebih detail dapat dibaca pada bab 3 dari buku tersebut.  


Tujuan simplifying toys :

1. Mengurangi jumlah mainan

2. Mengurangi kompleksitas mainan anak 


Beberapa manfaat simplifying toys :

1. Bukan hanya lebih menghargai mainan tetapi juga lebih menghargai aspek-aspek kehidupan 

3. Menangkap makna kata cukup/tidak berlebihan dalam hidup

4. Rentang fokus anak bisa lebih panjang

5. Bisa jadi hidup akan lebih tenteram


Mainan-mainan yang perlu dipertimbangkan untuk disingkirkan :

1.   Mainan yang rusak dan tidak dapat diperbaiki

Catatan : 

      • Mainan yang rusak tetapi dapat diperbaiki, perbaiki sekarang
      • Mainan yang rusak dan dapat diperbaiki tetapi belum tahu kapan bisa memperbaikinya, simpan di dalam box yang tidak dapat dijangkau oleh anak


2.   Mainan yang tidak sesuai lagi dengan usia anak

Mainan yang sudah ‘expired’, misalnya mainan baby gym, singkirkan/sumbangkan/berikan kepada anak yang usianya lebih sesuai


3.   Mainan yang terlalu fix atau terlalu detail

Mainan-mainan ini banyak ditemukan pada mainan-mainan karakter film, komik, acara TV atau yang sejenisnya. 


4.   Mainan yang yang terlalu rumit dan mudah rusak


5.   Mainan yang memberikan stimulasi tinggi pada anak

Mainan dengan cahaya, suara dan gerakan yang over stimulated/sensory overload.

 

6.   Mainan yang tidak enak dilihat

Misalnya boneka yang menyeramkan.


7. Mainan yang diberi label sebagai mainan untuk meningkatkan            perkembangan anak

Pemberian label mainan sebagai mainan yang dapat meningkatkan kreativitas, intelegensia, kemampuan sosialisasi, ataupun yang sejenisnya biasanya hanya sebagai salah satu strategi marketing. 


8. Mainan yang dibeli karena terpaksa atau karena pengaruh tekanan perasaan harus membeli

Mainan ini dibeli karena pengaruh pester power yaitu situasi dimana anak terus-menerus meminta untuk dibelikan suatu mainan karena pengaruh iklan atau karena teman-temannya memiliki mainan tersebut, “Teman-teman juga punya, masa aku ga punya.”


9.  Mainan yang mendorong permainan yang sifatnya merusak atau agresif

Misalnya pistol-pistolan atau senjata


10.  Mainan yang serupa jenisnya tetapi jumlahnya banyak

Misalnya anak sudah punya boneka gajah, tetapi kita berpikir kasihan boneka gajahnya tidak ada temannya. Kemudian kita membeli boneka gajah yang lain, lalu kita membeli juga boneka-boneka hewan yang lain. Jika mainan yang serupa sudah terlalu banyak, singkirkan/ sumbangkan.



Catatan tambahan :

  • Mengurangi jumlah mainan tidak perlu di hadapan anak dan tidak perlu meminta persetujuan anak.
  • Mainan yang sangat disukai anak/seringkali dimainkan, jangan disingkirkan. Tetapi kalau mainan tersebut masuk ke dalam 10 kategori di atas, cobalah untuk mengatakan bahwa mainan tersebut istirahat dulu, lalu simpan di dalam box di luar jangkauan anak
  • Mainan yang memiliki memori tertentu/ikatan emosional tertentu. bagi orang tua dan masuk ke dalam 10 kategori di atas, simpan di dalam box di luar jangkauan anak.
  • Jika ada mainan yang ingin disumbangkan/diberikan, pertimbangkan pula apakah mainan tersebut akan bermanfaat bagi anak lain. 
  • Open-ended toys merupakan jenis mainan yang dapat memberi ruang bagi imajinasi anak.
  • Lakukan simplifying toys ini dengan hati lapang, secara bertahap, perlahan saja, jangan malah membuat stress. 


Selasa, 21 Januari 2020

Banyak Pertanyaan Anak. Dua Jawaban, Takjub dan Takzim




“Tuhan itu siapa? Tuhan itu ada di mana?”


“Kenapa Nenek meninggal?”


“Bayi datangnya dari mana?”


“Ko rumputnya dipotongin?”


“Kenapa harus makan sayur?”


Pertanyaan-pertanyaan unik, ajaib, tak terduga. Bikin kita bengong selama beberapa detik, menghela napas diam-diam (khawatir keliatan kaget dan bingungnya), sampai akhirnya kita jawab panjang lebar atau bilang bentar ya, mau apa dulu atau kemana dulu, padahal mau ngumpet buka handphone googling. Buat yang lebih tenang dalam merespon, mungkin akan ngajak anak sama-sama buka buku yg kebeneran ada di rumah lalu ngejelasin apa yg ada di buku. Atau mungkin akan bilang “Ayah/Ibu belom tau jawabannya, nanti Ayah/Ibu pikirin dulu ya.” Lalu sampe kebawa mimpi atau pasang status di facebook atau ig story yg isinya pertanyaan anak tsb. Berharap ada reply yg isinya jawaban atau setidaknya sharing pengalaman yang sama dan kemudian sama-sama bingung.


Bikin kaget banget ketika ada sebuah artikel yang membahas mengenai pertanyaan-pertanyaan unik anak, diantaranya adalah, “Kenapa kita harus takut kepada Tuhan?” Jawaban yang disarankan dalam artikel itu adalah “Karena Tuhan yang menciptakan/ membuat kita. Ia bisa membuat kita melihat, mendengar, bernapas, bergerak, dan lainnya. Tapi Tuhan juga bisa membuat kita buta, tuli, meninggal, makanya kita juga harus takut kepada Tuhan.” Tak habis pikir  membayangkan dampak jawaban seperti ini terhadap jiwa seorang anak.


Seringkali pertanyaan-pertanyaan ajaib muncul sebagai pertanyaan lanjutan, “Itu apa?” atau “Lagi ngapain?” dan yang sejenisnya. Pada anak-anak tertentu dan pada usia tertentu, biasanya mulai usia 3 tahun, jawaban kita akan mengundang pertanyaan berikutnya, “Kenapa...bla...bla...bla..” Atau “Ko...bla..bla...bla” Dan jawaban-jawaban kita berikutnya akan diserbu dengan berseri-seri pertanyaan selanjutnya. Anak usia 5-7 tahun bagaikan seorang filsuf kecil, akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yg sifatnya makin dalam. Engga jarang kemudian akhirnya kita bikin rangkuman utk menutup pertanyaan itu, “Ya emang udah dari sananya gitu.” Atau “Ya pokoknya gitu lah.” Atau kita sudahi dengan mengalihkan perhatian anak.


Jadi orang tua, jadi guru atau apapun sebutannya sebagai orang yang mendampingi anak emang banyak tantangannya. Tantangan membuat kita belajar. Bukankah hidup adalah proses belajar untuk menjadi lebih baik? Mangkanya kita engga dikasih hidup yang mulus-mulus aja. Apa yang perlu dipelajari sebagai orang yg mendampingi anak? Ya tentunya kita perlu belajar mengenai anak itu sendiri. Tapi bukan hanya itu, kita perlu memahami diri kita sendiri. Dan bukan hanya dua itu, tapi kita juga perlu mempelajari lingkungan semesta tempat anak tinggal dan berinteraksi dengan alam semesta dan seisinya. Bersyukurlah kita sebagai orang tua, guru, dan orang-orang yang mendampingi anak karena artinya kita diberi kesempatan untuk mempelajari kehidupan! Diberi kesempatan untuk mencari makna kehidpan yang hakiki.


Nah, sekarang giliran kita yg bertanya kenapa anak engga brenti-brentinya nanyain ini dan itu dan kenapa jawaban-jawaban kita seringkali seolah engga memuaskan bagi mereka sehingga muncul pertanyaan beruntun macam ular naga panjangnya bukan kepalang. Itu karena anak memandang dunia ini dengan pandangan yang berbeda dengan kita. Mereka hadir di dunia ini masih dalam itungan jari, sedangkan kita udah puluhan tahun. Mereka masih dalam dreamy unconscious mind. Baru beberapa tahun mereka “dikirim” dari alam yang penuh keajaiban. Alam berpikir mereka adalah imajinasi yang tiada batasnya. Alam berpikir mereka tak seperti kita yang sudah penuh dengan konsep, logika dan teori. Mereka selalu bisa menemukan kemungkinan-kemungkinan lain dari setiap hal. Coba lihat ketika anak bermain. Segala sesuatu bisa jadi apa saja. Kursi misalnya. Bagi kita, kursi ya tempat duduk. Tapi bagi anak, kursi bisa jadi rumah, mobil, disusun jadi rangkaian kereta api, menara, bahkan jadi kompor! Bagi org dewasa sulit untuk dapat memasuki dunia imajinasi anak, karena kita udah full of theory dan cara berpikir yg logis. Oleh karena itu seringkali jawaban kita bukanlah jawaban yg dibutuhkan anak. “To offer them logical explanations (however true to a scientific mind) is to give them a stone when they ask for bread.”


Properties for storytelling by Tokecang Natural Toys
Simpanlah dalam kepala kita bahwa sampai usia 7 tahun, alam berpikir anak adalah imajinasi tak berbatas. Anak masih sangat terkait dengan alam spiritual. Mereka membutuhkan jawaban yang memberi gambaran utuh tentang suatu hal, dimana jawaban ini disampaikan dalam bentuk deskripsi yang imajinatif. Itulah mengapa dongeng merupakan salah satu cara yang lebih sesuai untuk “menjelaskan” sesuatu pada anak atas pertanyaan-pertanyaannya yang rumit, dibandingkan penjelasan panjang lebar yang berisi konsep, teori, ataupun hubungan sebab akibat.


Di sisi yang lain, mereka baru saja hadir di dunia ini, ingin hadir, ingin mengetahui segala yang ada, ingin melakukan banyak hal, ingin menjalin keterhubungan dengan segala yang ada di dunianya yang baru. Ketika anak bertanya, “Kenapa?” yang mereka inginkan bukanlah penjelasan sebab akibat, melainkan keterkaitan/hubungan/relasi antara apa yang ada dalam diri mereka dengan apa yang ada di luar diri mereka. Hal ini dapat mereka peroleh melalui jawaban yang kita sampaikan dengan suara kita yang lembut, hangat, penuh perhatian, dan segala kualitas suara, komunikasi, interaksi yang manusiawi. Bukan penyampaian yang “kering” seperti ketika menyampaikan sebuah teori yang bersifat intelektual. “They are seeking to bring around them the living tones of the human voice......A child is first nourished by his mother-milk, and then by his mother-tongue.” Keterkaitan/ hubungan/ relasi antara apa yang ada dalam diri anak dengan apa yang ada di luar diri mereka juga dapat mereka peroleh melalui jawaban yang berisi afirmasi yang menunjukkan rasa takjub. Ketika anak bertanya, “Itu apa?” Dan kita menjawab, “Buah naga.” Lalu anak bertanya lagi, “Buah naga itu apa?” Yang mereka butuhkan sebenarnya bukanlah definisi dari buah naga, melainkan afirmasi yang menunjukkan rasa takjub. “Ini dia yang namanya buah naga.” Suara, intonasi, ekspresi wajah, sinar mata kita yang akan menyampaikan ketakjuban itu.


Lain halnya dengan anak yang telah melewati tujuh tahun pertama kehidupannya. Mereka telah meninggalkan dreamy unconscious mind. Imajinasi mereka tak lagi sehebat sebelumnya. Mereka telah berada pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi untuk dapat mengkaitkan jawaban dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Namun bukan artinya mereka membutuhkan jawaban teoritis ataupun scientific. Bagi anak usia 7 hingga 12 ataupun 14 tahun, bukanlah penjelasan matahari sebagai pusat tata surya yang memiliki diameter ratusan kali lipat dari bumi dan memiliki suhu hingga ribuan derajat celcius, yang akan “memuaskan” mereka. Bukanlah penjelasan bahwa bintang adalah bola gas besar yang mempunyai komponen utama hidrogen dan helium. Bagi mereka, apa yang akan memuaskan jiwa mereka adalah matahari yang terbit setiap pagi dengan sinar keemasan yang menghangatkan, memunculkan rasa takjub dan syukur. Bagi mereka, apa yang akan memuaskan jiwanya adalah kilau bintang yang menghiasi langit malam, begitu indah, seolah menggambarkan jiwa mereka yang bercahaya. Apa yang menyentuh hati dan perasaan mereka, itulah yang dibutuhkan anak-anak usia 7-14 tahun.


Nah jadi, jika kita memberikan pengertian yang sifatnya ilmiah sebelum anak berusia 12 tahun, maka kita akan merusak imajinasi dan unsur rasa yang sejatinya ada dalam diri mereka. Dan karena daya dan kemampuan berpikir anak yang belum siap untuk menerima dasar-dasar pemikiran ilmiah, maka penjelasan yang scientific atau bersifat intelektual akan menjadi dogma yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan, bukanlah sebagai sebuah pengetahuan yang dapat tumbuh berkembang. Anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang cara berpikirnya tidak fleksibel, sulit untuk menerima pandangan-pandangan yang berbeda dengan apa yang diyakininya.


Bagian ini mungkin akan menjadi bagian yang paling mengejutkan. Buku-buku yang berisi penjelasan disertai gambar-gambar yang dengan kuat dan detail memvisualisasikan bagaimana cara kerja sesuatu, bagaimana membuat sesuatu, bagaimana sesuatu itu muncul, dan buku-buku sejenis, memberikan kemudahan bagi anak untuk mengetahui bagaimana suatu proses berjalan. Namun juga ternyata memberi pengertian yang sangat dangkal dan terlalu disederhanakan. Ketika anak bertanya gua itu apa, apa yang ada di dalam gua, gimana kalau rumahnya seperti gua, dan kita memberikan sebuah buku yang menjelaskan segala hal tentang gua beserta gambar gua dengan stalaktit, stalakmit dan orang yang jaman dulu tinggal di gua, maka anak akan segera berpikir bahwa ia telah memahami segala hal tentang gua. Anak mengumpulkan segala informasi bersifat teoretis yang membuatnya “lupa” untuk mengamati sesuatu yang akan menghadirkan pemahaman yang berasal dari dalam dirinya sendiri. 


Sangatlah penting bagi anak untuk dapat membentuk gambaran di dalam kepalanya sendiri dari apa yang mereka lihat, dengar dan alami secara langsung. Hal ini akan menumbuh suburkan kreativitas anak dibandingkan jika mereka mendapatkan pengetahuan dari gambar atau foto yang membuat anak dengan mudahnya membuat suatu kesimpulan yang sebenarnya terlalu sederhana dan dangkal. Gambar atau foto yang mengilustrasikan cara kerja sesuatu memberikan kemudahan bagi anak untuk mengetahui bagaimana suatu proses berjalan, namun sangat sedikit unsur rasa dari kondisi nyata yang dapat disampaikan oleh gambar-gambar tersebut. Informasi dari buku dengan ilustrasi seindah apapun, akan sangat berbeda dengan pemahaman yang mengandung unsur rasa yang didapat dari apa yang kita ceritakan kepada anak mengenai suasana gelap dan dinginnya di dalam gua, bagaimana menakjubkannya “taring-taring” yang menggantung di langit-langit gua dan menancap kokoh pada dasar gua, bagaimana suara air yang mengalir di dalam gua dan kehidupan penuh tantangan yang dialami orang-orang jaman dulu di dalam gua. Ketika kita bercerita, anak membentuk gambaran di dalam kepalanya, muncul rasa tertentu di dalam hatinya, dan ketika mereka beranjak dewasa, timbul kehendak untuk mengetahui lebih jauh mengenai kehidupan di dalam gua.

Amatlah penting menjaga kehendak anak untuk bertanya tumbuh subur hingga mereka beranjak dewasa. Ketika mereka memasuki usia 14 tahun dan siap untuk menerima pemahaman secara intelektual, mereka harus memiliki keinginan yang kuat untuk menyelidiki setiap pertanyaan dalam hidup hingga ke dasarnya, bukan hanya terpuaskan oleh teori tanpa pengetahuan. Pada beberapa situasi, sangatlah bijaksana jika kita menjawab pertanyaan anak dengan, “hmmmhhh...apa ya?” Hal ini memberi ruang bagi anak untuk berpikir dalam dunia imajinasinya sekaligus memberi nafas bagi anak untuk menjaga pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tetap hidup. Tak jarang anak kemudian dapat menghadirkan jawabannya sendiri dalam ruang imajinasinya. Suatu hari seorang anak bertanya, “Ko pohonnya ga boleh dipanjat banyakan?” Ketika kita menjawab dengan penuh perhatian dan nada takjub, “hmmmh...kenapa ya?” Anak kemudian berkata, “Soalnya pohonnya kecapean, ngegendong banyak anak.” Jawaban seperti ini juga memberikan gambaran pada anak bahwa tak semua pertanyaan harus terjawab saat ini. Banyak pertanyaan yang harus tetap menempati dan hidup di hati mereka dimana pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan dijawab oleh kehidupan itu sendiri.


“You are so young, so much before all beginning, and I would like to beg you, dear Sir, as well as I can, to have patience with everything unresolved in your heart and to try to love the questions themselves as if they were locked rooms or books written in a very foreign language. Don't search for the answers, which could not be given to you now, because you would not be able to live them. And the point is, to live everything. Live the questions now. Perhaps then, someday far in the future, you will gradually, without even noticing it, live your way into the answer. Perhaps you do carry within you the possibility of creating and forming, as an especially blessed and pure way of living; train yourself for that but take whatever comes, with great trust, and as long as it comes out of your will, out of some need of your innermost self, then take it upon yourself, and don't hate anything.” -Rainer Maria Rilke, Letters to a Young Poet-






Sumber : 




Sabtu, 04 Agustus 2018

Parenting - Public Talk - Balikpapan, Jogja, Bandung, Jakarta, Ubud Bali




BALIKPAPAN

Tidak bisa dihindari, bahwa kita hidup di zaman yang serba cepat. Sebagai orang dewasa, kita dituntut untuk mampu berpikir dan bergerak cepat. Kita berharap anak-anak pun demikian. Ketika ada anak yang sedang asik bermain, tiba-tiba kita minta untuk membereskan mainannya karena harus segera tidur, ketika anak sedang tidur, kita membangunkannya untuk segera mandi, ataupun mengajak anak bergegas untuk segera pergi ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi. Apakah masa kecil anak-anak layak untuk diburu-buru?

Dunia ini juga penuh dengan stimulasi. Mulai dari banyaknya buku dan mainan yang bertumpuk di kamar anak, berbagai pilihan game di gadget dan program anak-anak yang tiada henti di televisi, variasi aktivitas yang berbeda setiap hari, topik obrolan seputar dunia orang dewasa saat di rumah. Setiap hari anak akan dibombardir dengan banyak sekali stimuli, yang bisa jadi terlalu banyak, bahkan terlalu berat untuk diproses sekaligus oleh indera-inderanya yang masih sangat sensitif. Sampai mana batas cukup yang bisa diterima anak untuk melindungi pertumbuhan jiwanya?

Ritme keluarga yang terlalu cepat serta stimulasi mainan atau aktivitas yang terlalu banyak dapat memicu berbagai tantangan perilaku, seperti anak yang tidak mau tidur sendiri, anak yang hanya menyukai jenis makanan tertentu, anak yang tidak mau main sendiri tanpa ditemani, anak yang rewel ketika pulang sekolah, anak sering tantrum serta gangguan perilaku lainnya yang menyerupai ADHD.

Solusi dari permasalahan tersebut adalah melalui penyederhaan (simplify). Salah satu caranya, melalui ritme. Ritme bukan merupakan jadwal kegiatan yang tersusun dari jam sekian sampai dengan jam sekian. Lalu apa itu ritme? Bagaimana cara membuat hidup lebih sederhana bagi anak-anak?

"Simplicity Parenting: Less is More for Your Child" yang akan disampaikan oleh Edith mengajak kita untuk memahami arti penyederhanaan (simplify) untuk hidup yang lebih tenang sekaligus melindungi masa kecil anak.

Seiring dengan tema seminar Simplicity Parenting, akan ada juga Workshop Puppet Storytelling), dimana cerita disampaikan dengan suara yang mengalun lembut dan disertai permainan boneka sederhana yang akan membebaskan anak untuk berimajinasi.

Sebagai pelengkap, di area Sunday Market tersedia aneka kuliner dan pameran kerajinan serta mainan yang terbuat dari bahan-bahan natural.
Public Talk: Simplicity Parenting (Less is More for your Child) 
Hari/tanggal : Minggu/29 Juli 2018
Jam: 09.30 - 12.30 WITA
Tempat: Rumah Dinas Wakil Walikota Balikpapan 
Htm: early bird selama bulan juni Rp.100.000
Harga di bulan juli Rp. 125.000

Workshop: Puppet Storytelling
Hari/tanggal : Minggu/29 Juli 2018
Tempat: Rumah Dinas Wakil Walikota Balikpapan 
Jam: 14.00 - 16.30 WITA
Htm: early bird selama bulan juni Rp.150.000
Harga di bulan juli Rp. 175.000


Harga paket public talk + workshop : 
- selama bulan juni: Rp. 225.000
- di bulan juli: Rp. 275.000
Tempat terbatas!
Informasi dan pendaftaran: Ayu (08115459122)




JOGJAKARTA

Di taman kanak kanak waldorf setiap harinya akan sering kita temui anak2 sedang asik bermain panjatan, bergelantungan, berayun-ayun di tali atau ada beberapa anak yang terlihat sedang membantu guru mereka memotong kayu, memasak, mencuci, menyapu atau ada juga yang sedang asik menjahit, menyulam, dan merajut. Lalu kapan mereka akan belajar hal2 yang lebih akademik, seperti membaca menulis dan berhitung? Di taman kanak kanak waldorf membaca, menulis Dan berhitung memang tidak diajarkan secara formal, kenapa?

Di public talk kali ini, Edith Van der Meer akan menjelaskan lebih dalam bagaimana anak anak di taman kanak kanak waldorf belajar dasar - dasar Untuk membaca, menulis dan berhitung .

Public talk Akan diadakan di: Kulila Playgroup, Jumat, 3 Agustus 2018 jam 3 sore.
Info pendaftaran : okta (081513596303)
*tempat terbatas




BANDUNG

"Awaaas...awaaas nanti jatuuh! Tuh kan, udah dibilangin, jangan naek-naek mangkanya!"

"Ga maen basah-basahan gitu ah, nanti nenek ga mau temenin lagi loh. Udah, masuk aja kalo maen aer terus!"

"Naahhh...bilangin Ayah loh nanti. Kotor kan itu, banyak kuman!"

Ayah, Ibu, Kakek, Nenek...ingin memberi kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi tetapi seringkali khawatir akan keamanan mereka? Apalagi kalau liat anak naik tangga, kursi, meja, lemari. Apalagi kalau liat anak lari-lari. Apalagi kalau liat anak maen kotor-kotoran dan basah-basahan. Dan segala macem apalagi lainnya. Bagaiamana cara kita mengawasi anak tetapi tetap memberikan ruang pada mereka untuk bereksplorasi dan mengembangkan kemampuannya? Apalagi kalau kita tinggal bersama orang tua atau mertua. Apalagi kalau sehari-hari anak ditemani oleh nenek, kakek ataupun pendampingnya.

Yu Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, kita cari tahu!
Sabtu 11 Agustus 2018
10.00-12.00
Wisma Joglo
Jl. Raya Resort 19-20 Dago Pakar - Bandung

Discount 50% bagi :
1. Orang tua murid Jagad Alit Waldorf Play & Kinder
2. Peserta kakek atau nenek

Discount 25% bagi :
1. Orang tua Klab Rabu
2. Peserta yang sudah pernah mengikuti public talk Jagad Alit sebanyak minimal tiga kali
3. Peserta umum yang datang bersama dengan suami/istrinya

Discount 15% bagi siapa saja yang bersedia membantu share info ini kepada minimal tiga group whatsapp dan satu social media. 

Discount 100% bagi siapa saja yang dapat mengajak minimal tiga orang menjadi peserta. 

Ket : Tiap orang dengan kriteria dia atas hanya bisa menggunakan kesempatan discountnya untuk satu kriteria saja.




JAKARTA

Membangun ritme keluarga yang kuat, mencari keseimbangan antara kegiatan aktif dan waktu tenang, antara waktu makan dan beristirahat mungkin menjadi hal paling penting dalam pendidikan di rumah. Dari ritme yang sudah sehat kita belajar mengalirkan energi anak ke tempat yang baik, membantu merawat dan memperkuat jiwa raga anak.

Dalam filosofi pendidikan Waldorf, ritme adalah salah satu komponen utama yang memelihara karsa, rasa dan akal anak-anak dengan harapan mereka akan tumbuh menjadi manusia yang seutuhnya. 

Mari, kami undang teman - teman untuk ngobrol tentang bagaimana memelihara ritme bersama Pembicara Edith Van Der Meer, seorang guru Waldorf Kindergarten dari Taikura Rudolf Steiner School New Zealand, Sabtu 18 Agustus nanti di Perpustakaan Nasional RI. 

Ritme adalah hadiah untuk anak dan seluruh keluarga, ritme akan memudahkan kehidupan kita sehari - hari, ritme yang dibangun dengan baik di usia dini akan menjadi bekal yang bisa anak petik manfaatnya kelak ketika ia dewasa nantinya.




UBUD BALI


Edith was a handwork teacher for 14 years and a kindergarten teacher for 7 years at Taikura Rudolf Steiner School in Hastings New Zealand. She is a mother of 4 and grandmother of 7 grandchildren. She is currently coordinating the Steiner Early Childhood Teachers course under the auspices of Steiner Education Aotearoa New Zealand and endorsed by the International Association for Steiner /Waldorf Early Childhood Education (IASWECE). She has been appointed as a mentor for Waldorf Early Childhood in Indonesia by IASWECE and in that capacity visits Indonesia on a yearly basis.

Minggu, 22 Juli 2018

Usia Enam Tahun : Mereka Tampak Berbeda!



“Ga ada yang mau ngajak maen,” sambil terisak duduk menyendiri.

“Tadi itu aku kan yang ngomong...aku yang bikin!” menyuarakan bahwa itu adalah idenya.

“Bukan, namanya bukan itu, tau!.....Iya, tapi kan....” terus berusaha untuk berargumentasi.

Acap kali perkataan-perkataan yang senada seperti itu terdengar dari beberapa anak yang berusia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun. Disertai pula dengan pola permainan mereka yang tampak tidak tentu arah, cenderung rusuh dan heboh. Balok-balok kayu, ranting, batu-batu, papan kayu, ban bekas, pasir, bunga dan daun kering, yang tadinya seringkali mereka gunakan untuk membuat api unggun, perlengkapan halang rintang, kereta api, mobil, tampak kurang menarik perhatian mereka lagi. Peran sebagai petugas kebersihan, petugas pemadam kebakaran, pegawai bangunan, dan yang lainnya mulai jarang terdengar. Bukannya sama sekali tidak terlihat lagi, tetapi tampak berkurang intensitasnya. Mereka lebih senang berlarian kesana dan kemari, berkejar-kejaran menangkap salah seorang temannya sambil mengeluarkan suara-suara keras. Namun terkadang, anak-anak yang berada pada rentang usia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun ini tampak duduk termenung memperhatikan teman-temannya bermain. Seringkali  beberapa anak yang berusia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun ini tampak lebih emosional. Hal kecil dapat menjadi suatu masalah yang membuat mereka gusar, kesal, marah,  tersinggung (dalam Bahasa Sundanya, pundung), ataupun menangis.



Apa yang sedang tejadi dengan anak-anak ini? Jika kita memandangnya sebagai pola perkembangan willing, feeling, dan thinking yang dialami oleh anak-anak usia 0-7 tahun, maka mungkin kita akan menganggapnya sebagai bentuk dari mengalirnya will semata, dimana ada saatnya will ini perlu dimunculkan ke permukaan dan ada kalanya will ini perlu diarahkan ketika mengalir deras bagaikan aliran sungai yang tak terbendung. Namun seperti juga pada anak usia kisaran tiga tahun, pada anak usia kisaran enam tahun ini, sedang terjadi sesuatu yang ISTIMEWA. Mengetahui dan mengerti hal yang istimewa ini akan membantu kita memberikan respon yang mereka butuhkan.

PERKEMBANGAN FISIK, ETHERIC, ASTRAL, DAN EGO (FOUR-FOLD HUMAN BEING)
Proses kehadiran ego/”I” pada cycle tiga tahunan, dibarengi oleh rasa antipati dengan derajat yang berbeda-beda pada setiap individu. Antipati ini membantu seseorang untuk menemukan dunianya dan hadir di bumi ini sebagai seorang individu yang utuh. 

Sedangkan cycle enam tahunan menandakan waktu dimana etheric seseorang berproses memisahkan diri dari orang tuanya. Perasaan berpisah menyelimuti anak maupun orang tua. Kedua cycle ini menunjukkan pada kita bahwa pada usia 6, 12, dan 18 tahun terjadi proses kehadiran ego sekaligus pula keberpisahan etheric, sehingga ada waktu dimana anak merasa tidak ingin berpisah dengan orang tuanya dan ada waktu dimana anak ingin mengekspresikan kemandiriannya.  Pada anak yang berusia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun, suatu hari mereka tidak mau ditinggalkan orang tuanya ketika datang ke sekolah, namun di hari lain mereka meminta orang tuanya untuk cepat pergi setelah mengantarkannya ke sekolah. Dalam tingkatan yang berbeda pada proses ini, seorang anak berusia dua belas tahun tiba-tiba ingin dipeluk oleh orang tuanya, namun pada saat ia diantarkan ke sekolah, ia tidak mau orang tuanya berada dekat dengannya.  Proses bekerjanya kedua cycle ini pun berdampak pada perkembangan fisik anak. Pada anak yang berada di rentang usia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun, etheric body anak berusaha untuk melakukan penetrasi ke dalam tubuhnya. Berusaha melepaskan diri dari keterikatan faktor keturunan untuk menjadikan tubuhnya menjadi tubuh miliknya. Anak seolah menggunakan seluruh kekuatannya untuk keperluan pertumbuhan fisiknya. Lengan, tungkai dan kaki menjadi lebih panjang.  Pergelangan tangan, pinggang, dan leher akan makin tampak bentuknya. Pada sebagian anak rentang usia ini, akan sering merasakan lapar dan nyeri pada kaki, sendi-sendi, bahkan perutnya sebagai dampak dari proses pertumbuhan fisik tersebut. Terjadi pula proses pergantian gigi susu oleh gigi tetap. Proses ini merupakan proses yang mendebarkan dan tak jarang menimbulkan rasa tidak nyaman. Sekarang bisa kita bayangkan begitu banyaknya proses yang terjadi pada anak kisaran usia enam tahun ini.  Sesuatu yang istimewa! Maka jangan heran jika hal ini kemudian menyebabkan mereka merasa tidak nyaman baik secara fisik maupun psikologis, moody, ataupun menunjukkan ekspresi emosi lain yang begitu ekspresif. Kadang terlihat pula anak menjadi kikuk ketika bergerak, menyebabkan segelas air yang dibawanya tumpah atau tiba-tiba menyenggol kursi hingga terjatuh ketika berjalan. 


PERKEMBANGAN WILLING, FEELING, THINKING (THREE-FOLD HUMAN BEING)


Sejalan dengan perkembangan fisik, etheric, astral, dan ego-nya, ketika anak berusia sampai dengan 5,5 tahun, mereka bermain dengan menggunakan apa-apa yang ada di sekitarnya. Ide permainan datang dari luar, dari apa yang ada di sekitarnya. Ketika mereka berusia 5,5 tahun, mereka terlihat mulai berusaha untuk memunculkan ide dari dalam diri mereka sendiri. Proses berpikir mereka yang masih imajinatif mencoba menciptakan skenario permainan dan kemudian mencari benda-benda yang dapat digunakan dalam skenario tersebut. Seringkali mereka meluangkan waktu lebih lama untuk merancang permainan ketimbang bermainnya. Proses memunculkan ide dari dalam diri mereka sendiripun terkadang membuat mereka terlihat berdiam diri, merenung, memperhatikan sekelilingnya. Tak jarang pula mereka berkata “bosen ah!” Hal ini juga  yang tampaknya menjadi penyebab mengapa acap kali mereka terlihat berlari-larian tak menentu.  Pada proses perkembangan ini, tentunya tidak terlepas pula mereka mencoba hal-hal yang baru, sekaligus melakukan eksperimen atau mengetes apakah hal tersebut boleh dilakukan atau tidak.




Keberpisahan etheric anak dengan orang tuanya, sekaligus pula perkembangan egonya menyebabkan anak pada rentang usia 5,5 sampai dengan 7 tahun ini merasakan kesendiriannya. Ada anak yang berkata “ga ada yang mau maen sama aku.”  Hal ini didukung pula oleh peralihan fokus perkembangan anak dari willing menuju feeling menjelang anak berusia tujuh tahun. Anak menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, menjadi lebih perasa. Rasa sedih ataupun kecewa yang terjadi hari ini mungkin akan berlanjut keesokan harinya. Seorang anak yang dikata-katai oleh temannya, keesokan harinya datang masih dengan wajah murung dan tidak mau bermain dengan temannya tersebut.

Keinginan anak untuk melakukan berbagai eksperimen dalam permainan, juga muncul dalam bentuk rasa ingin tahu mereka akan banyak hal. “Ini terbuat dari apa? Kalau yang ini dari apa?” Tak jarang proses mencari tahu ini menjadi sebuah proses argumentasi sebagai ekspresi dari seorang individu yang ingin menyatakan keberadaannya. “Bukan gitu caranya!....Iya aku juga tau!”......Itu tadi aku yang buat!” Anak akan segera mengetahui kesalahan yang diucapkan atau dilakukan orang tua, guru, ataupun temannya dan kemudian menyatakan apa yang menurutnya benar. Suatu hari seorang anak berusia enam tahun terlihat sedang memegang dan menggoyang-goyangkan gigi susunya yang hampir tanggal. Lalu seorang temannya yang juga berusia enam tahun berkata, “kata mamaku, gigi yang goyang nanti juga copot sendiri! Kalau giginya dicabut nanti pas tumbuh giginya jelek kaya kakek!” Kemudian anak yang mengoyang-goyangkan gigi itu berkata, “harus dibeginikan, itu mah orang tua kamu aja, aku ga mau punya orang tua kayak orang tua kamu!” Pada rentang usia 5,5 sampai dengan 7 tahun mulai muncul pula pembicaraan mengenai Tuhan. Sesuai dengan kapasitas berpikirnya pada rentang usia tersebut, mereka membicarakan hal mengenai surga dan neraka. Sebuah obrolan bernada argumentatif, suatu hari terdengar. Seorang anak mengucapkan kata Tuhan. Anak yang lain mengucapkan kata Allah. Kemudian seorang anak berusia enam tahun berkata, “Allah dan Tuhan itu sama tau!” Tingkah polah anak yang seperti ini disertai pula oleh willing, feeling, dan thinking mereka untuk menjadi seorang bos, seorang pemimpin. Suatu hari seorang anak berusia enam tahun menggunakan mahkota dan menggunakan kain untuk dijadikan jubah. Ia berkata, “aku yang jadi raja binatangnya,” saat ia sedang bermain dalam sebuah skenario kerajaan binatang. Di sela-sela permainan, ia menyuruh temannya untuk mengambil ini dan itu, melakukan apa yang ia suruh, layaknya seorang bos.

Bagaimana kita meresponnya?

Tanamkan empati dan pengertian yang mendalam pada diri kita. Katakan dalam hati dengan kesadaran penuh, “Saya tahu kamu sedang melalui proses transformasi. Saya menyayangi kamu dan hal-hal baru yang terjadi pada dirimu. Saya akan membantumu!”


Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita membantunya? Keberpisahan etheric anak dari orang tuanya yang kemudian berusaha menjadi tubuh miliknya sendiri, menimbulkan rasa tidak nyaman baik secara fisik maupun psikologis untuk melakukan suatu hal. Terjadi pula perkembangan proses kehadiran ego/”I” yang mengubah pandangan anak akan hubungan dirinya dengan apa yang ada di sekitarnya. Menimbulkan perubahan dalam perasaan dan proses berpikirnya. Maka sekali lagi tanamkan dalam benak kita  “Saya tahu kamu sedang melalui proses transformasi. Saya menyayangi kamu dan hal-hal baru yang terjadi pada dirimu. Saya akan membantumu!” Kita membantu anak dengan memberikan saluran untuk mengalirkan perubahan-perubahan ini. Kerjakanlah berbagai pekerjaan yang bermakna yang layak ditiru anak. Pekerjaan-pekerjaan ini akan memberikan gambaran-gambaran  baru bagi anak untuk dapat memunculkan ide dari dalam dirinya sendiri. Imajinasi yang sempat hilang, seolah datang kembali. Ide-ide baru inipun dapat muncul ketika anak terlihat berdiam diri memperhatikan teman-temannya bermain atau memperhatikan alam sekitarnya. Seolah ia sedang menambah pustaka imajinasinya. Proses imitasi pekerjaan-pekerjaan yang bermakna ini juga dapat mengalihkan perasaannya yang sedang tidak menentu. Ketika tangan bekerja, perlahan pikiran dan perasaan terarah kepada pekerjaan yang sedang dilakukan. Mencuci piring atau pakaian, menyapu dan mengepel, menggunting rumput, mengupas atau memotong buah dan sayur, menyetrika atau melipat pakaian-pakaian yang telah disetrika, menyapu halaman atau membuang sampah, bahkan menggergaji atau menghampelas kayu merupakan pekerjaan-pekerjaan sederhana yang dapat dilakukan anak. Namun rasa tidak nyaman baik secara fisik maupun psikologis, dapat membuat anak enggan untuk ikut melakukan apa yang kita kerjakan. Padahal ketika usianya belum beranjak 5 atau 6 tahun, ia sangat gemar ikut melakukan apa saja yang kita kerjakan. Jika hal ini terjadi, maka “manfaatkan” proses perkembangan kehadiran ego/”I. Kita bisa mengatakan “Ibu/Ayah tidak bisa ngerjain ini sendiri. Butuh bantuan. Sepertinya kamu bisa/sepertinya kamu kuat. Tolong bantu ya.” Perkataan seperti ini akan membuat anak merasa dirinya dibutuhkan. Merasa dirinya punya kemampuan lebih untuk melakukan sesuatu. Dan ketika anak sudah selesai membantu, jangan lupa katakan “terimakasih sudah membantu.” Tentunya dengan intonasi dan ekspresi yang benar-benar tulus berterimakasih.



Saluran apa lagi yang bisa kita berikan untuk membantu anak di usia ini? Tanggung jawab yang lebih besar yang sudah kita ukur bahwa mereka bisa melakukannya. Ya, mereka sangat senang saat diberi tanggung jawab yang lebih besar daripada sebelumnya. Membawa mangkuk saji berisi sup dari dapur ke ruang makan, mengangkat benda-benda yang berat (sesuai dengan takaran kemampuan fisiknya) seperti meja kecil saat merapikan ruangan, membantu menjaga adik (setelah kita yakin bahwa lingkungan sekitarnya aman), dan bentuk tanggung jawab lainnya. Di sekolah, kami melakukan hal-hal semacam ini. Anak-anak yang berusia 3-4 tahun biasanya memiliki rentang fokus yang lebih pendek. Termasuk ketika mendengarkan dongeng. Mereka akan menampakkan gerak-gerik yang menunjukkan kegelisahan. Kami berkata kepada anak yang berusia 5-6 tahun, “Tolong jaga temanmu ini ya.” Saat anak yang lebih kecil ini terlihat gelisah, anak yang berusia 5-6 tahun tersebut kemudian meletakkan tangannya di atas pangkuan teman kecilnya itu, seperti yang biasa kami lakukan untuk menenangkan anak tersebut. Dan mereka melakukannya dengan ekspresi wajah yang menampakkan keseriusan, seperti benar-benar sedang mengemban tugas yang sangat penting! Hal ini juga merupakan manfaat dari sebuah mixed-age class.



Seiring dengan perkembangan kehadiran ego/”I”, dan berkaitan dengan pemberian tanggung jawab yang lebih besar tersebut, maka ketika kita mendengar perkataan yang bernada “aku bisa dan kamu tidak bisa,” maka daripada kita mengatakan “ga apa-apa, dia kan masih kecil,” sebaiknya kita berkata, “hhhmmm, kalau gitu, bisakah kamu membantunya?” Perkataan semacam ini akan menghembuskan angin win-win solution. Tidak ada yang merasa “lebih” dan tidak ada yang merasa “kurang.”



Begitulah kira-kira apa yang bisa diceritakan, dimana kesemuanya ini dapat dilakukan jika kita mengerti apa yang sedang dialami anak. Bagaimana kita bisa mengerti? Dengan mempelajari dan memperhatikan tahap demi tahap perkembangan anak. Tidak ada waktu untuk melakukannya? Jika itu yang dirasakan, mungkin anak adalah prioritas kesekian dalam hidup kita.


Semoga berkenan. 

Senin, 11 September 2017

Free Parenting Discussion



Twice a month we have parenting discussion and discussion. Not only parents can come. Also not only parents of Jagad Alit's children. Everyone can come and share their thoughts. This is how we build our community to give the meaning for children's life. Last Saturday we talked about the late talker or the late bloomer. We got this wonderful article to discuss. 

Why Waldorf Works: From a Neuroscientific Perspective
By Dr. Regalena “Reggie” Melrose

Why Waldorf works has more to do with how the brain develops and functions optimally than Rudolf Steiner ever could have known. Sure the educator and founder of Waldorf Education theorized convincingly about how children learn best, but until MRIs and other sophisticated measures of the brain were developed, we had no way to prove or disprove any of Steiner’s theories, not with the kind of precision and accuracy we can now. An overwhelming body of evidence from the last 20 years of neuroscientific inquiry supports Steiner’s theories, including some of the most fundamental foci of Waldorf Education.

Three foci thrill me the most, both as a parent of a Waldorf student and as an international speaker on the topic of learning, behavior, and the brain: holism, play, and nature. An emphasis on all three is consistent with how the brain learns best: when the whole brain is engaged at any given moment, when its foundational neural connections have been given ample time to develop, and when it is in an optimally aroused state.Knowing how the brain develops is essential to understanding why these three foci are so important to the success of any educational program. Let us first learn some basic fundamentals of the brain. First of all, it is “triune,” that is, it has three parts. More importantly, not all three parts are fully developed at birth as we once believed. In fact, very little of a newborn’s brain is “online” and “ready to go.” When the brains of newborn babies are observed with an MRI, the only part of the brain that is lit up or active is the most primal part – the brain stem, sensing brain, or “animal brain,” as it is also called. (Small underdeveloped parts of the auditory and visual cortices are the only exceptions.) This primal part of the brain is responsible for our experience of arousal and stress. It kicks into high gear and mediates our fight or flight response when needed. I like to call it the “sensory brain” because it only speaks the language of sensations, the only language that most consistently enables our survival. When we encounter a bear in the woods, for example, our words will not save us, but our heightened senses do.

The second and third parts of our brain – the limbic, feeling brain and the neocortex or thinking brain, respectively – only begin to develop after birth. This is critical new knowledge that provides a compelling answer to the long, highly debated question of nature versus nurture. We now know that because we only have use of a very small part of our brain at birth, the brain is literally sculpted by the experiences we have interacting with others in the environment. It is not until 3 to 4 months of age, when the feeling brain has become activated by experience that newborns are able to express more than just states of distress or contentment, as it does with only the sensory brain. At this somewhat older age, babies can share a wide range of emotions, thereby giving us a more social baby.
The third part of the brain, the neocortex, thinking brain, begins to develop after the limbic, feeling brain. Indications of this maturation include babbling between 6 and 9 months, a first word around the age of 1, and 2 to 3 words strung together by the age of 2. Whereas sensations are the language of the sensory brain and feelings are the language of the limbic brain, the neocortex speaks the language of words and mediates all of what most educators value. For example, the neocortex mediates impulse control, the ability to plan ahead, to organize, and to understand that a choice we make now may continue to have consequences later. Empathy for another is mediated by the neocortex, as are our abilities to use ration, reason, and logic. We think and analyze with our neocortex, and of course, understand and have use of both receptive and expressive verbal language. If you’ve heard about “right brain” versus “left brain” functioning, it will make sense to you now that it is the neocortex that controls the functions of the left hemisphere whereas the sensing and feeling parts of the brain control the functions of the right hemisphere. The brain operates optimally when all its parts are equally developed, valued, and engaged. Why Waldorf works is because it does just that.
Steiner’s approach to education was a holistic one. He recognized that our senses, feelings, and cognitions must all be actively engaged at each stage of development in order for students to maintain, over the long term, a joy and love of learning. Waldorf educators do not make the same mistake made by a number of other more traditional, conventional, and mainstream models of education. Waldorf educators do not overvalue the development of the neocortex and left brain to the exclusion of the right brain, that which senses and feels deeply. It does not focus at too young of an age, before the brain is ready, on purely academic endeavors that attempt with rigor to engage a part of the brain that the child has little access to, the underdeveloped neocortex. (The neocortex is not fully developed until we are in our mid- to late twenties!) Instead, what Waldorf educators do successfully is involve and nourish the sensing, feeling parts of the brain, those easily accessed by young children, so that essential foundational neural connections needed for later academic learning are solidly laid.

Let me expand: You now know that the brain develops in a hierarchical fashion from more to less primitive, from the animal to more uniquely human. What that means is that the healthy development of the more sophisticated neocortex DEPENDS upon the healthy development of the feeling, limbic brain which DEPENDS upon the healthy development of the sensory brain. The problem with today’s mainstream educational models is that they want the brain to walk before it can crawl. Well, let’s be accurate: Most school systems today want children to RUN before they can crawl. We encounter proud parents who say, “My child was walking at 9 months! She didn’t even need to crawl, just up and went! Isn’t that terrific?” And what I want to say is, “No! No, that’s not terrific! Push her to the floor! Make her crawl!” That might be an overzealous reaction, but it is grounded in sound knowledge that every single stage of development is essential to the next, laying a neural foundation to support what is to come. Our children need ample time and practice to “marinate in their mastery,” of one skill or another, at each and every juncture of their development. This is not happening in enough schools across the country today, but it is happening at Waldorf.
Take the case of play. From the very beginning of a child’s educational career at a Waldorf school, he or she is supported to play in a variety of different fashions and settings throughout the entire school day. Steiner knew that play is the invaluable foundation for any kind of healthy, human growth, including academic progress. And let’s be clear about what kind of play this is. It is what Dr. David Elkind calls “the purest form of play: the unstructured, [spontaneous], self-motivated, imaginative, independent kind, where children initiate their own games and even invent their own rules.” This kind of play, he warns us, is disappearing from our homes, schools, and neighborhoods at an alarming rate with great cost to the health, well-being, and achievement of our children.
Numerous studies have shown that play at every stage of development improves IQ, social-emotional functioning, learning, and academic performance. The findings of several studies conducted over a 4 year period found that spending one-third of the school day in physical education, art, and music improved not only physical fitness, but attitudes toward learning, and test scores, according to Dr. Elkind. Furthermore, when the performance of children who attended academic pre-schools was compared to the performance of children who attended play-oriented preschools, the results showed no advantage in reading and math achievement for the “academic children,” but did show that they had higher levels of test anxiety, were less creative, and had more negative attitudes toward school than did the “play children.”

This is precisely the point we are missing in today’s achievement-driven culture. We have bought into a myth in education that “more equals more.” A formula of more time spent on academics, starting earlier in development, with more homework, is not increasing the output of our children. It’s decreasing it! Cutting time out for the arts, physical activity, and time in nature, so our children can spend more time reading, writing, and doing arithmetic is not the answer. It is the culprit. Our children are burning out and dropping out at catastrophic rates not just because more doesn’t equal more, but also because it equals shut-down.

The brain functions its best only when in an optimum state of arousal. Our children cannot attend, listen, process information, retain, or perform well when in an either under- or over-aroused state. Overwhelm is what causes these states. When before the brain is ready children are exposed to and required to participate in academics, media, technology, and organized play, such as team sports, the premature and often prolonged stress they experience can eventually shut the system down. Teachers all over the United States and Canada tell me they see “it” by the beginning of third grade. In far too many of their students, they say “the light has gone out.” The joy, curiosity, and wonder that are essential to the learning process are already dulled by too much of one thing and not another. Whereas the mainstream educational system today focuses almost exclusively on academics, a mostly left brain function, Waldorf educators focus more on the whole brain, emphasizing the right hemisphere at each stage of development. Steiner could only have observed and therefore hypothesized that this keeps our children in the optimum zone of arousal where all of learning and adaptive behavior are possible. With current scientific findings, we now know he was right. Tapping into the sensory gifts of the right hemisphere provides the “flow” necessary for the marathon of achievement, not just the sprint.

Now that we’ve learned about the importance of holism and play to the learning process, let us consider the invaluable role of nature. A given within education is the engagement of the left brain. Learning almost always involves a verbal, analytical process. What is not a given, is the stimulation and expression of the right brain. The functions of the right hemisphere of the brain have somehow been deemed less important to the achievement and ultimate success of our children, at least “success” as most define it in the U. S. Our bodies are supported to move less, our minds to race more. Cuts have been made not only to recess and physical education, but also to creative endeavors such as theater, music, and fine art, all of which make important contributions to the optimal functioning of the brain, achievement, AND success no matter how you define it. What does nature have to do with it? A whole lot, according to the neuroscience: nothing stimulates and resonates with the right brain more powerfully, and therefore, nothing keeps us in the optimum zone of arousal better than nature.

Remember, the optimum zone of arousal, when anxiety is neither too high nor too low, is the only physiological state within which all of learning and adaptive behavior is possible. Nature beautifully promotes that state. According to years of research recently compiled by Dr. Eeva Karjalainen, natural green settings reduce stress, improve mood, reduce anger and aggression, increase overall happiness, and even strengthen our immune system. Nature is one critical antidote to the increases in stress, overwhelm, burnout, and dropout we are witnessing in the educational system today. Lack of exposure to nature causes such a detrimental state to the brain, and is so pervasive today we have a name for it: “Nature Deficit Disorder.” Dr. Karjalainen reports that “after stressful or concentration-demanding situations,” we do not recover nearly as well in urban settings as we do in natural ones. When we experience nature, our blood pressure, heart rate, muscle tension, and level of stress hormones all decrease faster than when we are in urban settings. In children in particular, we know that ADHD symptoms are reduced when they are given the opportunity to play in green settings.

As a mother myself, I can’t imagine a parent on earth that doesn’t want all of these benefits and more for their children. I can’t imagine that once parents and educators know the research findings pointing the way to optimal brain functioning, that any of us would ever agree to the kind of educational system we have now. The alternative of Waldorf exists, and I am grateful. I urge every parent to learn more about it and strongly consider it for their children. I am also aware, however, that not every parent has access to a Waldorf school for financial, geographical, or other reasons. For those parents and all of us really, I have an additional urging, that we vote, petition, write letters, make calls, and fight however we can to ensure that the reform about to take place in the current educational system be founded on the invaluable neuroscientific findings of the last 20 years. We must demand changes that are backed by sound science, based on how we know the brain works best, not just in the short-term, but for all the years to come.

Dr. Regalena “Reggie” Melrose is a licensed clinical and credentialed school psychologist with nearly 20 years experience working with children and adolescents in schools, clinical settings, and private practice. She is the author of several books including, “You Can Heal Your Child: A Guide for Parents of Misdiagnosed, Stressed, Traumatized, and Otherwise Misunderstood Children,” and the groundbreaking, “Why Students Underachieve: What Educators and Parents Can Do about It.” Dr. Melrose is an international speaker on the effects of stress and trauma on the brain, learning, and behavior and maintains a private practice healing the effects of stress and trauma in children, adolescents, and adults, in Long Beach, CA.


Rabu, 02 Maret 2016

Study group

Mengundang teman-teman pengajar untuk diskusi bersama di acara rutin study group
Sabtu, 5 Maret 2016
Jam 10-12.30
di Jagad Alit - Waldorf
Play and Kinder
Jl. Babakan Jeruk IIIE

Kita bisa bahas public talk kemarin. juga kali ini kita mau bahas "How to Communicate With Parents. "
Juga artwork nya kita mau bikin boneka yg simple. 
Konfirmasi by email jagadalit.waldorfschool@gmail.com


Minggu, 31 Januari 2016

How can we prepare them for a world we cannot envision?

Our world is experiencing rapid, unprecedented and unforeseen change. How then, can we begin to imagine the world our young children will face in the years to come? And, more importantly, how can we prepare them for a world we cannot envision? -Rebeca Henry-

Public talk
February 6, 2016
at Jagad Alit Waldorf Playgroup & Kindergarten


Rabu, 09 Desember 2015

Konsep Pendidikan Waldorf

Buat teman-teman yang bertanya ttg konsep pendidikan Waldorf, mudah-mudahan tulisan yang agak panjang ini bisa memberikan gambaran.

Pendidikan Waldorf
Rudolf Steiner (1861-1925)


TUJUAN 
Menghasilkan individu yang mampu, dalam diri dan dari diri mereka sendiri, memberi makna bagi kehidupan mereka.

Ini artinya sangat dalam. Coba tanya pada diri sendiri apakah sepanjang usia kita ini kita sudah mengetahui apa makna kehidupan kita? Dalam menjalankan peran kita sebagai orang tua, guru, ataupun peran yang berkaitan dengan profesi kita, nilai dan manfaat apa yang sudah kita berikan bagi diri kita sendiri dan orang lain? Ketika kita kuliah, apakah tujuan kita hanya sekedar mendapatkan nilai baik untuk bisa diterima bekerja di suatu perusahaan? Ketika sudah bekerja apakah tujuan kita hanya uang dan karir? Atau bekerja dengan label demi kepentingan anak ataupun keluarga tetapi kemudian ternyata kita hanya menyuplai kebutuhan material mereka dan lupa bahwa anak dan keluargapun butuh waktu, perhatian, kasih sayang, dan pengasuhan serta pendidikan yang tepat?

Coba tanya pada diri sendiri berapa jam dalam sehari kita punya waktu yang benar-benar didedikasikan pada anak kita? Benar-benar fokus mengobrol santai, bermain bersama anak, memasak untuk keluarga, dan kegiatan lainnya yang berfokus pada keluarga.

Seringkali terjadi, “doktrin” yang kita berikan kepada anak adalah : “Sekolah yang rajin ya, supaya nilainya bagus.” Karena tujuannya adalah supaya nilainya bagus, segala cara akan ditempuh anak asalkan nilainya bagus. Termasuk misalnya copy paste tugas dari temen, browsing bahan tugas tanpa memperhatikan sumbernya bisa dipercaya atau tidak. Yang penting adalah nilai bagus, ilmunya dikuasai atau tidak, itu masalah nanti....

Tujuan dari pendidikan Waldorf, 
Menghasilkan individu yang mampu, dalam diri dan dari diri mereka sendiri, memberi makna bagi kehidupan mereka dapat dicapai dengan memberikan pendidikan secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada intelegensia ataupun kognitif anak saja tetapi melalui TANGAN, HATI, dan KEPALA. 
Apa yang dikerjakan oleh tangan, akan membangun keinginan yang kuat yang berasal dari dalam dirinya sendiri, (bukan karena orang lain) untuk mengerjakan sesuatu (WILLING). 
Apa yang meresap masuk ke dalam hati, akan dirasakan oleh anak sebagai sesuatu hal yang menyenangkan (FEELING). 
Apa yang masuk ke dalam kepala, akan menstimulasi proses berpikir anak (THINKING).

Integrasi (bukan hal yang terpisah-pisah) dari willing, feeling, thinking melalui tangan, hati, dan kepala merupakan ciri khas dari pendidikan Waldorf dalam memberikan pendidikan yang utuh bagi anak sehingga nantinya mereka akan mampu menemukan makna dalam kehidupan mereka.
Coba tanya pada diri sendiri, berapa banyak orang dengan profesi/perkerjaan tertentu yang “terpaksa” menjalankan profesinya karena tuntutan kebutuhan? Bagaimana hasil pekerjaan mereka?

Melalui pendidikan yang terintegrasi ini, anak diharapkan akan mampu menghasilkan sendiri sebuah solusi, bukan meniru solusi yang sudah ada; mampu berpikir, bukan menghafal; melakukan inisiatif (self motivation) bukan menunggu perintah.

Pendidikan yang menyeluruh ataupun terintegrasi ini diberikan dengan memperhatikan perkembangan alamiah anak. Berdasarkan perkembangan fisik dan psikologis anak, secara umum, Rudolf Steiner membagi tahapan perkembangan anak menjadi 3 kelompok usia, yaitu 0-7th, 7-14th, dan 14-21th.
Hal ini dikaitkan dengan tahapan perkembangan indera anak. Steiner mengemukakan 12 indera yang fokus pengembangannya berdasarkan ketiga kelompok usia tersebut. 

Pada kelompok usia 0-7th, fokus pengembangan pada indera tingkatan pertama (LOWER SENSES), yaitu indera peraba (SENSE OF TOUCH), indera yang berkaitan dengan kesehatan baik secara fisik ataupun psiklogis (SENSE OF LIFE), indera gerak (SENSE OF MOVEMENT), indera keseimbangan (SENSE OF BALANCE).

Pada kelompok usia 7-14th, fokus pengembangan indera tingkatan kedua (MIDDLE SENSES), yaitu indera penglihatan (SENSE OF SIGHT), indera penciuman (SENSE OF SMELL), indera perasa (SENSE OF TASTE), indera yang berkaitan dengan temperatur baik secara fisik maupun psikologis (SENSE OF WARMTH).

Pada kelompok usia 14-21th, fokus pengembangan pada indera tingkatan ketiga (HIGHER SENSES), yaitu (SENSE OF HEARING), indera bicara (SENSE WORD/SPEECH), indera pemikiran (SENSE OF THOUGHT), indera individualitas (SENSE OF EGO).
Perkembangan lower senses akan mempengaruhi perkembangan higher senses, dimana higher senses ini bukan hanya berfokus pada diri sendiri tetapi juga pada kehadiran orang lain. Kemampuan mendengarkan orang lain, memahami perkataan orang lain, empati terhadap orang lain.

Pada pendidikan Waldorf, proses pembelajaran sangat memperhatikan kemampuan anak berdasarkan usianya. Anak usia 0-7th belajar melalui proses imitasi dari apa yang ia lihat (IMITATION). Anak usia ini akan melihat dan menyerap segala sesuatunya sebagai suatu hal yang baik yang ada di dunia ini. Mereka akan meniru apa yang mereka lihat karena mereka menganggap semua yang dilihat adalah hal yang baik untuk ditiru (ketika kita melakukan hal yang buruk, maka anak tetap akan menirunya).  Anak usia 7-14th belajar melalui proses imajinasi (IMAGINATION). 
Usia 14-21th belajar melalui proses pemberian nilai (JUDMENT) .

Agar tujuan pendidikan tercapai melalu proses pembelajaran yang berpihak kepada anak, maka semua yang telah diuraikan di atas tadi dilaksanakan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang mengikuti/selaras dengan ritme kehidupan (RHYTHM), kegiatan-kegiatan yang diulang-ulang selama rentang waktu tertentu sehingga menjadi sesuatu yang melekat (REPETITION), dan dilaksanakan dengan cara yang sangat menghormati/menghargai anak sebagai makhluk spiritual (REVERENCE).

Gambaran keseharian anak di Playgroup/TK Waldorf yang mencerminkan hal-hal yang diuraikan di atas tadi :Ritme harian disusun selaras dengan ritme kehidupan siang dan malam, ritme tubuh menghirup udara (BREATHING IN) dan menghembuskan udara (BREATHING OUT)

Anak datang dan disambut oleh guru. Guru menatap anak dengan hangat, tersenyum dan menyalami anak satu persatu (reverence). Pada saat menyalami anak, guru dapat merasakan mood anak melalui genggaman tangan dan ekspresi muka anak. Setelah anak menyimpan perlengkapannya, anak bermain bebas (FREE PLAY) di luar atau di dalam ruangan. Free play adalah bermain bebas tanpa arahan atau instruksi dari guru. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan WILLING. Sementara anak bermain bebas, guru tidak “ikut campur,” guru mengerjakan pekerjaan lain yang “bermakna,” misal menyirami tanaman,menyapu, merapikan sesuatu, dll. Ingat, anak akan meniru. Dan tentunya kita mengharapkan anak meniru hal-hal baik. Free play merupakan kegiatan BREATHING OUT, menyalurkan energi anak. Free play ini sangat penting untuk menstimulasi SENSE OF TOUCH, SENSE OF LIFE, SENSE OF MOVEMENT, SENSE OF BALANCE. Tanpa kita sadari, anak belajar banyak ketika melakukan free play.

Setelah itu biasanya, kita melakukan circle time. Anak berkumpul dalam lingkaran untuk melakukan gerakan olah tubuh ataupun finger play yang disertai dengan nyanyian ataupun kata berima atau bahkan disertai dengan bercerita sambil melakukan beberapa gerakan yang sesuai dengan jalan ceritanya. Circle time merupakan kegiatan BREATHING IN, dimana kegiatan ini membutuhkan fokus dan konsentrasi anak.

Demikian seterusnya semua kegiatan disusun berdasarkan ritme breathing in dan out atau sebaliknya secara berselang seling, sehingga anak tidak akan merasa kehabisan energi ataupun merasa bosan dan letih.

Kegiatan selanjutnya adalah snack time. Snack disiapkan oleh guru dan anak. Anak ikut memotong buah atau sayuran, membuat adonan roti, menyiapkan piring, dll. Di sekolah Waldorf, aktivitas “rumah tangga” adalah hal yang penting diperkenalkan kepada anak. Setelah anak selesai menikmati snack sehat, aktivitas selanjutnya adalah free play. Sekali lagi, free play menjadi bagian yang sangat penting. Mainan yang digunakan adalah mainan sederhana dari bahan-bahan natural, misal mainan kayu, boneka dengan bahan natural, ranting, kerang, potongan kayu, kain-kain dari bahan natural, dll. Open ended toys seperti ini akan dapat mengembangkan imajinasi anak, karena potongan kayu misalnya dapat menjadi sebuah perahu, jembatan, kursi, dan yang lainnya tergantung imajinasi. 
Kali ini, guru biasanya mengerjakan hal baik berupa kegiatan seni dan kerajinan. Misal melukis (di TK Waldorf, melukis dengan teknik wet on wet dan bukan menggambar bentuk), merajut dengan jari, atau beeswax modelling (seperti membuat bentuk dengan playdough). Biasanya anak akan menghampiri guru dan kemudian mereka ingin melakukannya. Sekali lagi, ini akan membangun WILL anak. Melakukan sesuatu dari dalam diri mereka sendiri, tanpa disuruh.

Sebelum pulang, anak mendengarkan cerita (storytelling bukan storyreading). Cara bercerita di Waldorf berbeda dengan yang biasanya kita lihat. Tujuan bercerita di sekolah Waldorf adalah terutama untuk mengembangkan IMAJINASI dan menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa, sehingga nantinya anak akan merasakan keindahan bahasa dalam sebuah cerita yang akan menjadikan mereka sebagai anak yang cinta membaca. Tujuan bercerita di sekolah Waldorf bukan untuk entertaining, sehingga cerita disampaikan dengan suara dan intonasi yang tenang dan ekspresi wajah guru adalah ekspresi yang natural. Bercerita biasanya juga dilakukan dengan menggunakan boneka ataupun properti sederhana lainnya seperti batu-batuan, ranting, daun, dll. Boneka yang digunakan juga sederhana, tanpa mata, hidung, telinga, mulut. Ini dilakukan agar anak bisa berimajinasi sendiri. Boneka bisa menggambarkan karakter yang sedang senang ataupun sedih sesuai dengan jalan ceritanya.

Perpindahan dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya dilakukan secara “lembut,” biasanya menggunakan nyanyian yang mengajak anak dan juga melalui contoh tindakan, bukan dengan seruan atau perintah. Misal ketika selesai bermain, guru membereskan mainan sambil bernyanyi dan biasanya anak-anak sudah tahu bahwa itu tandanya waktu bermain sudah selesai. Karena hal yang seperti ini dilakukan berulang-ulang setiap harinya REPETITION, maka tanpa disuruh, anak akan mengikuti guru membereskan mainan. Anakpun akan menangkap kesan bahwa aktivitas membereskan mainan adalah sesuatu hal yang menyenangkan karena guru melakukannya dengan bernyanyi, ekspresi wajah yang menyenangkan dan membereskan mainan tidak dilakukan dengan terburu-buru.

Kira-kira demikian gambarannya....