Tampilkan postingan dengan label waldorf indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label waldorf indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Agustus 2021

Waldorf Early Childhood Education

 







Pendaftaran masih dibuka
Info : waldorf.indonesia@gmail.com atau melaui CP tiap centre
Penyelenggaraan di kota Jakarta dipindahkan ke Bandung






Selasa, 21 Januari 2020

Banyak Pertanyaan Anak. Dua Jawaban, Takjub dan Takzim




“Tuhan itu siapa? Tuhan itu ada di mana?”


“Kenapa Nenek meninggal?”


“Bayi datangnya dari mana?”


“Ko rumputnya dipotongin?”


“Kenapa harus makan sayur?”


Pertanyaan-pertanyaan unik, ajaib, tak terduga. Bikin kita bengong selama beberapa detik, menghela napas diam-diam (khawatir keliatan kaget dan bingungnya), sampai akhirnya kita jawab panjang lebar atau bilang bentar ya, mau apa dulu atau kemana dulu, padahal mau ngumpet buka handphone googling. Buat yang lebih tenang dalam merespon, mungkin akan ngajak anak sama-sama buka buku yg kebeneran ada di rumah lalu ngejelasin apa yg ada di buku. Atau mungkin akan bilang “Ayah/Ibu belom tau jawabannya, nanti Ayah/Ibu pikirin dulu ya.” Lalu sampe kebawa mimpi atau pasang status di facebook atau ig story yg isinya pertanyaan anak tsb. Berharap ada reply yg isinya jawaban atau setidaknya sharing pengalaman yang sama dan kemudian sama-sama bingung.


Bikin kaget banget ketika ada sebuah artikel yang membahas mengenai pertanyaan-pertanyaan unik anak, diantaranya adalah, “Kenapa kita harus takut kepada Tuhan?” Jawaban yang disarankan dalam artikel itu adalah “Karena Tuhan yang menciptakan/ membuat kita. Ia bisa membuat kita melihat, mendengar, bernapas, bergerak, dan lainnya. Tapi Tuhan juga bisa membuat kita buta, tuli, meninggal, makanya kita juga harus takut kepada Tuhan.” Tak habis pikir  membayangkan dampak jawaban seperti ini terhadap jiwa seorang anak.


Seringkali pertanyaan-pertanyaan ajaib muncul sebagai pertanyaan lanjutan, “Itu apa?” atau “Lagi ngapain?” dan yang sejenisnya. Pada anak-anak tertentu dan pada usia tertentu, biasanya mulai usia 3 tahun, jawaban kita akan mengundang pertanyaan berikutnya, “Kenapa...bla...bla...bla..” Atau “Ko...bla..bla...bla” Dan jawaban-jawaban kita berikutnya akan diserbu dengan berseri-seri pertanyaan selanjutnya. Anak usia 5-7 tahun bagaikan seorang filsuf kecil, akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yg sifatnya makin dalam. Engga jarang kemudian akhirnya kita bikin rangkuman utk menutup pertanyaan itu, “Ya emang udah dari sananya gitu.” Atau “Ya pokoknya gitu lah.” Atau kita sudahi dengan mengalihkan perhatian anak.


Jadi orang tua, jadi guru atau apapun sebutannya sebagai orang yang mendampingi anak emang banyak tantangannya. Tantangan membuat kita belajar. Bukankah hidup adalah proses belajar untuk menjadi lebih baik? Mangkanya kita engga dikasih hidup yang mulus-mulus aja. Apa yang perlu dipelajari sebagai orang yg mendampingi anak? Ya tentunya kita perlu belajar mengenai anak itu sendiri. Tapi bukan hanya itu, kita perlu memahami diri kita sendiri. Dan bukan hanya dua itu, tapi kita juga perlu mempelajari lingkungan semesta tempat anak tinggal dan berinteraksi dengan alam semesta dan seisinya. Bersyukurlah kita sebagai orang tua, guru, dan orang-orang yang mendampingi anak karena artinya kita diberi kesempatan untuk mempelajari kehidupan! Diberi kesempatan untuk mencari makna kehidpan yang hakiki.


Nah, sekarang giliran kita yg bertanya kenapa anak engga brenti-brentinya nanyain ini dan itu dan kenapa jawaban-jawaban kita seringkali seolah engga memuaskan bagi mereka sehingga muncul pertanyaan beruntun macam ular naga panjangnya bukan kepalang. Itu karena anak memandang dunia ini dengan pandangan yang berbeda dengan kita. Mereka hadir di dunia ini masih dalam itungan jari, sedangkan kita udah puluhan tahun. Mereka masih dalam dreamy unconscious mind. Baru beberapa tahun mereka “dikirim” dari alam yang penuh keajaiban. Alam berpikir mereka adalah imajinasi yang tiada batasnya. Alam berpikir mereka tak seperti kita yang sudah penuh dengan konsep, logika dan teori. Mereka selalu bisa menemukan kemungkinan-kemungkinan lain dari setiap hal. Coba lihat ketika anak bermain. Segala sesuatu bisa jadi apa saja. Kursi misalnya. Bagi kita, kursi ya tempat duduk. Tapi bagi anak, kursi bisa jadi rumah, mobil, disusun jadi rangkaian kereta api, menara, bahkan jadi kompor! Bagi org dewasa sulit untuk dapat memasuki dunia imajinasi anak, karena kita udah full of theory dan cara berpikir yg logis. Oleh karena itu seringkali jawaban kita bukanlah jawaban yg dibutuhkan anak. “To offer them logical explanations (however true to a scientific mind) is to give them a stone when they ask for bread.”


Properties for storytelling by Tokecang Natural Toys
Simpanlah dalam kepala kita bahwa sampai usia 7 tahun, alam berpikir anak adalah imajinasi tak berbatas. Anak masih sangat terkait dengan alam spiritual. Mereka membutuhkan jawaban yang memberi gambaran utuh tentang suatu hal, dimana jawaban ini disampaikan dalam bentuk deskripsi yang imajinatif. Itulah mengapa dongeng merupakan salah satu cara yang lebih sesuai untuk “menjelaskan” sesuatu pada anak atas pertanyaan-pertanyaannya yang rumit, dibandingkan penjelasan panjang lebar yang berisi konsep, teori, ataupun hubungan sebab akibat.


Di sisi yang lain, mereka baru saja hadir di dunia ini, ingin hadir, ingin mengetahui segala yang ada, ingin melakukan banyak hal, ingin menjalin keterhubungan dengan segala yang ada di dunianya yang baru. Ketika anak bertanya, “Kenapa?” yang mereka inginkan bukanlah penjelasan sebab akibat, melainkan keterkaitan/hubungan/relasi antara apa yang ada dalam diri mereka dengan apa yang ada di luar diri mereka. Hal ini dapat mereka peroleh melalui jawaban yang kita sampaikan dengan suara kita yang lembut, hangat, penuh perhatian, dan segala kualitas suara, komunikasi, interaksi yang manusiawi. Bukan penyampaian yang “kering” seperti ketika menyampaikan sebuah teori yang bersifat intelektual. “They are seeking to bring around them the living tones of the human voice......A child is first nourished by his mother-milk, and then by his mother-tongue.” Keterkaitan/ hubungan/ relasi antara apa yang ada dalam diri anak dengan apa yang ada di luar diri mereka juga dapat mereka peroleh melalui jawaban yang berisi afirmasi yang menunjukkan rasa takjub. Ketika anak bertanya, “Itu apa?” Dan kita menjawab, “Buah naga.” Lalu anak bertanya lagi, “Buah naga itu apa?” Yang mereka butuhkan sebenarnya bukanlah definisi dari buah naga, melainkan afirmasi yang menunjukkan rasa takjub. “Ini dia yang namanya buah naga.” Suara, intonasi, ekspresi wajah, sinar mata kita yang akan menyampaikan ketakjuban itu.


Lain halnya dengan anak yang telah melewati tujuh tahun pertama kehidupannya. Mereka telah meninggalkan dreamy unconscious mind. Imajinasi mereka tak lagi sehebat sebelumnya. Mereka telah berada pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi untuk dapat mengkaitkan jawaban dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Namun bukan artinya mereka membutuhkan jawaban teoritis ataupun scientific. Bagi anak usia 7 hingga 12 ataupun 14 tahun, bukanlah penjelasan matahari sebagai pusat tata surya yang memiliki diameter ratusan kali lipat dari bumi dan memiliki suhu hingga ribuan derajat celcius, yang akan “memuaskan” mereka. Bukanlah penjelasan bahwa bintang adalah bola gas besar yang mempunyai komponen utama hidrogen dan helium. Bagi mereka, apa yang akan memuaskan jiwa mereka adalah matahari yang terbit setiap pagi dengan sinar keemasan yang menghangatkan, memunculkan rasa takjub dan syukur. Bagi mereka, apa yang akan memuaskan jiwanya adalah kilau bintang yang menghiasi langit malam, begitu indah, seolah menggambarkan jiwa mereka yang bercahaya. Apa yang menyentuh hati dan perasaan mereka, itulah yang dibutuhkan anak-anak usia 7-14 tahun.


Nah jadi, jika kita memberikan pengertian yang sifatnya ilmiah sebelum anak berusia 12 tahun, maka kita akan merusak imajinasi dan unsur rasa yang sejatinya ada dalam diri mereka. Dan karena daya dan kemampuan berpikir anak yang belum siap untuk menerima dasar-dasar pemikiran ilmiah, maka penjelasan yang scientific atau bersifat intelektual akan menjadi dogma yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan, bukanlah sebagai sebuah pengetahuan yang dapat tumbuh berkembang. Anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang cara berpikirnya tidak fleksibel, sulit untuk menerima pandangan-pandangan yang berbeda dengan apa yang diyakininya.


Bagian ini mungkin akan menjadi bagian yang paling mengejutkan. Buku-buku yang berisi penjelasan disertai gambar-gambar yang dengan kuat dan detail memvisualisasikan bagaimana cara kerja sesuatu, bagaimana membuat sesuatu, bagaimana sesuatu itu muncul, dan buku-buku sejenis, memberikan kemudahan bagi anak untuk mengetahui bagaimana suatu proses berjalan. Namun juga ternyata memberi pengertian yang sangat dangkal dan terlalu disederhanakan. Ketika anak bertanya gua itu apa, apa yang ada di dalam gua, gimana kalau rumahnya seperti gua, dan kita memberikan sebuah buku yang menjelaskan segala hal tentang gua beserta gambar gua dengan stalaktit, stalakmit dan orang yang jaman dulu tinggal di gua, maka anak akan segera berpikir bahwa ia telah memahami segala hal tentang gua. Anak mengumpulkan segala informasi bersifat teoretis yang membuatnya “lupa” untuk mengamati sesuatu yang akan menghadirkan pemahaman yang berasal dari dalam dirinya sendiri. 


Sangatlah penting bagi anak untuk dapat membentuk gambaran di dalam kepalanya sendiri dari apa yang mereka lihat, dengar dan alami secara langsung. Hal ini akan menumbuh suburkan kreativitas anak dibandingkan jika mereka mendapatkan pengetahuan dari gambar atau foto yang membuat anak dengan mudahnya membuat suatu kesimpulan yang sebenarnya terlalu sederhana dan dangkal. Gambar atau foto yang mengilustrasikan cara kerja sesuatu memberikan kemudahan bagi anak untuk mengetahui bagaimana suatu proses berjalan, namun sangat sedikit unsur rasa dari kondisi nyata yang dapat disampaikan oleh gambar-gambar tersebut. Informasi dari buku dengan ilustrasi seindah apapun, akan sangat berbeda dengan pemahaman yang mengandung unsur rasa yang didapat dari apa yang kita ceritakan kepada anak mengenai suasana gelap dan dinginnya di dalam gua, bagaimana menakjubkannya “taring-taring” yang menggantung di langit-langit gua dan menancap kokoh pada dasar gua, bagaimana suara air yang mengalir di dalam gua dan kehidupan penuh tantangan yang dialami orang-orang jaman dulu di dalam gua. Ketika kita bercerita, anak membentuk gambaran di dalam kepalanya, muncul rasa tertentu di dalam hatinya, dan ketika mereka beranjak dewasa, timbul kehendak untuk mengetahui lebih jauh mengenai kehidupan di dalam gua.

Amatlah penting menjaga kehendak anak untuk bertanya tumbuh subur hingga mereka beranjak dewasa. Ketika mereka memasuki usia 14 tahun dan siap untuk menerima pemahaman secara intelektual, mereka harus memiliki keinginan yang kuat untuk menyelidiki setiap pertanyaan dalam hidup hingga ke dasarnya, bukan hanya terpuaskan oleh teori tanpa pengetahuan. Pada beberapa situasi, sangatlah bijaksana jika kita menjawab pertanyaan anak dengan, “hmmmhhh...apa ya?” Hal ini memberi ruang bagi anak untuk berpikir dalam dunia imajinasinya sekaligus memberi nafas bagi anak untuk menjaga pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tetap hidup. Tak jarang anak kemudian dapat menghadirkan jawabannya sendiri dalam ruang imajinasinya. Suatu hari seorang anak bertanya, “Ko pohonnya ga boleh dipanjat banyakan?” Ketika kita menjawab dengan penuh perhatian dan nada takjub, “hmmmh...kenapa ya?” Anak kemudian berkata, “Soalnya pohonnya kecapean, ngegendong banyak anak.” Jawaban seperti ini juga memberikan gambaran pada anak bahwa tak semua pertanyaan harus terjawab saat ini. Banyak pertanyaan yang harus tetap menempati dan hidup di hati mereka dimana pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan dijawab oleh kehidupan itu sendiri.


“You are so young, so much before all beginning, and I would like to beg you, dear Sir, as well as I can, to have patience with everything unresolved in your heart and to try to love the questions themselves as if they were locked rooms or books written in a very foreign language. Don't search for the answers, which could not be given to you now, because you would not be able to live them. And the point is, to live everything. Live the questions now. Perhaps then, someday far in the future, you will gradually, without even noticing it, live your way into the answer. Perhaps you do carry within you the possibility of creating and forming, as an especially blessed and pure way of living; train yourself for that but take whatever comes, with great trust, and as long as it comes out of your will, out of some need of your innermost self, then take it upon yourself, and don't hate anything.” -Rainer Maria Rilke, Letters to a Young Poet-






Sumber : 




Sabtu, 04 Agustus 2018

Parenting - Public Talk - Balikpapan, Jogja, Bandung, Jakarta, Ubud Bali




BALIKPAPAN

Tidak bisa dihindari, bahwa kita hidup di zaman yang serba cepat. Sebagai orang dewasa, kita dituntut untuk mampu berpikir dan bergerak cepat. Kita berharap anak-anak pun demikian. Ketika ada anak yang sedang asik bermain, tiba-tiba kita minta untuk membereskan mainannya karena harus segera tidur, ketika anak sedang tidur, kita membangunkannya untuk segera mandi, ataupun mengajak anak bergegas untuk segera pergi ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi. Apakah masa kecil anak-anak layak untuk diburu-buru?

Dunia ini juga penuh dengan stimulasi. Mulai dari banyaknya buku dan mainan yang bertumpuk di kamar anak, berbagai pilihan game di gadget dan program anak-anak yang tiada henti di televisi, variasi aktivitas yang berbeda setiap hari, topik obrolan seputar dunia orang dewasa saat di rumah. Setiap hari anak akan dibombardir dengan banyak sekali stimuli, yang bisa jadi terlalu banyak, bahkan terlalu berat untuk diproses sekaligus oleh indera-inderanya yang masih sangat sensitif. Sampai mana batas cukup yang bisa diterima anak untuk melindungi pertumbuhan jiwanya?

Ritme keluarga yang terlalu cepat serta stimulasi mainan atau aktivitas yang terlalu banyak dapat memicu berbagai tantangan perilaku, seperti anak yang tidak mau tidur sendiri, anak yang hanya menyukai jenis makanan tertentu, anak yang tidak mau main sendiri tanpa ditemani, anak yang rewel ketika pulang sekolah, anak sering tantrum serta gangguan perilaku lainnya yang menyerupai ADHD.

Solusi dari permasalahan tersebut adalah melalui penyederhaan (simplify). Salah satu caranya, melalui ritme. Ritme bukan merupakan jadwal kegiatan yang tersusun dari jam sekian sampai dengan jam sekian. Lalu apa itu ritme? Bagaimana cara membuat hidup lebih sederhana bagi anak-anak?

"Simplicity Parenting: Less is More for Your Child" yang akan disampaikan oleh Edith mengajak kita untuk memahami arti penyederhanaan (simplify) untuk hidup yang lebih tenang sekaligus melindungi masa kecil anak.

Seiring dengan tema seminar Simplicity Parenting, akan ada juga Workshop Puppet Storytelling), dimana cerita disampaikan dengan suara yang mengalun lembut dan disertai permainan boneka sederhana yang akan membebaskan anak untuk berimajinasi.

Sebagai pelengkap, di area Sunday Market tersedia aneka kuliner dan pameran kerajinan serta mainan yang terbuat dari bahan-bahan natural.
Public Talk: Simplicity Parenting (Less is More for your Child) 
Hari/tanggal : Minggu/29 Juli 2018
Jam: 09.30 - 12.30 WITA
Tempat: Rumah Dinas Wakil Walikota Balikpapan 
Htm: early bird selama bulan juni Rp.100.000
Harga di bulan juli Rp. 125.000

Workshop: Puppet Storytelling
Hari/tanggal : Minggu/29 Juli 2018
Tempat: Rumah Dinas Wakil Walikota Balikpapan 
Jam: 14.00 - 16.30 WITA
Htm: early bird selama bulan juni Rp.150.000
Harga di bulan juli Rp. 175.000


Harga paket public talk + workshop : 
- selama bulan juni: Rp. 225.000
- di bulan juli: Rp. 275.000
Tempat terbatas!
Informasi dan pendaftaran: Ayu (08115459122)




JOGJAKARTA

Di taman kanak kanak waldorf setiap harinya akan sering kita temui anak2 sedang asik bermain panjatan, bergelantungan, berayun-ayun di tali atau ada beberapa anak yang terlihat sedang membantu guru mereka memotong kayu, memasak, mencuci, menyapu atau ada juga yang sedang asik menjahit, menyulam, dan merajut. Lalu kapan mereka akan belajar hal2 yang lebih akademik, seperti membaca menulis dan berhitung? Di taman kanak kanak waldorf membaca, menulis Dan berhitung memang tidak diajarkan secara formal, kenapa?

Di public talk kali ini, Edith Van der Meer akan menjelaskan lebih dalam bagaimana anak anak di taman kanak kanak waldorf belajar dasar - dasar Untuk membaca, menulis dan berhitung .

Public talk Akan diadakan di: Kulila Playgroup, Jumat, 3 Agustus 2018 jam 3 sore.
Info pendaftaran : okta (081513596303)
*tempat terbatas




BANDUNG

"Awaaas...awaaas nanti jatuuh! Tuh kan, udah dibilangin, jangan naek-naek mangkanya!"

"Ga maen basah-basahan gitu ah, nanti nenek ga mau temenin lagi loh. Udah, masuk aja kalo maen aer terus!"

"Naahhh...bilangin Ayah loh nanti. Kotor kan itu, banyak kuman!"

Ayah, Ibu, Kakek, Nenek...ingin memberi kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi tetapi seringkali khawatir akan keamanan mereka? Apalagi kalau liat anak naik tangga, kursi, meja, lemari. Apalagi kalau liat anak lari-lari. Apalagi kalau liat anak maen kotor-kotoran dan basah-basahan. Dan segala macem apalagi lainnya. Bagaiamana cara kita mengawasi anak tetapi tetap memberikan ruang pada mereka untuk bereksplorasi dan mengembangkan kemampuannya? Apalagi kalau kita tinggal bersama orang tua atau mertua. Apalagi kalau sehari-hari anak ditemani oleh nenek, kakek ataupun pendampingnya.

Yu Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, kita cari tahu!
Sabtu 11 Agustus 2018
10.00-12.00
Wisma Joglo
Jl. Raya Resort 19-20 Dago Pakar - Bandung

Discount 50% bagi :
1. Orang tua murid Jagad Alit Waldorf Play & Kinder
2. Peserta kakek atau nenek

Discount 25% bagi :
1. Orang tua Klab Rabu
2. Peserta yang sudah pernah mengikuti public talk Jagad Alit sebanyak minimal tiga kali
3. Peserta umum yang datang bersama dengan suami/istrinya

Discount 15% bagi siapa saja yang bersedia membantu share info ini kepada minimal tiga group whatsapp dan satu social media. 

Discount 100% bagi siapa saja yang dapat mengajak minimal tiga orang menjadi peserta. 

Ket : Tiap orang dengan kriteria dia atas hanya bisa menggunakan kesempatan discountnya untuk satu kriteria saja.




JAKARTA

Membangun ritme keluarga yang kuat, mencari keseimbangan antara kegiatan aktif dan waktu tenang, antara waktu makan dan beristirahat mungkin menjadi hal paling penting dalam pendidikan di rumah. Dari ritme yang sudah sehat kita belajar mengalirkan energi anak ke tempat yang baik, membantu merawat dan memperkuat jiwa raga anak.

Dalam filosofi pendidikan Waldorf, ritme adalah salah satu komponen utama yang memelihara karsa, rasa dan akal anak-anak dengan harapan mereka akan tumbuh menjadi manusia yang seutuhnya. 

Mari, kami undang teman - teman untuk ngobrol tentang bagaimana memelihara ritme bersama Pembicara Edith Van Der Meer, seorang guru Waldorf Kindergarten dari Taikura Rudolf Steiner School New Zealand, Sabtu 18 Agustus nanti di Perpustakaan Nasional RI. 

Ritme adalah hadiah untuk anak dan seluruh keluarga, ritme akan memudahkan kehidupan kita sehari - hari, ritme yang dibangun dengan baik di usia dini akan menjadi bekal yang bisa anak petik manfaatnya kelak ketika ia dewasa nantinya.




UBUD BALI


Edith was a handwork teacher for 14 years and a kindergarten teacher for 7 years at Taikura Rudolf Steiner School in Hastings New Zealand. She is a mother of 4 and grandmother of 7 grandchildren. She is currently coordinating the Steiner Early Childhood Teachers course under the auspices of Steiner Education Aotearoa New Zealand and endorsed by the International Association for Steiner /Waldorf Early Childhood Education (IASWECE). She has been appointed as a mentor for Waldorf Early Childhood in Indonesia by IASWECE and in that capacity visits Indonesia on a yearly basis.

Selasa, 10 Juli 2018

CELEBRATION OF THEIR JOURNEY - HONOURING THE END OF THEIR KINDERGARTEN YEARS

This is our journey, as teachers. parents, and children. We went up and down the hill. There were  times the wind blows gently and so hard at another time. Once the sun was shining brightly, yet so warm. In every moment we felt so grateful. It's precious to celebrate!




























































Kamis, 26 April 2018

Bertumbuhnya karsa, rasa, dan akal




Pohon yang berbunga merah ini mungkin sudah puluhan tahun bertumbuh di halaman kami. Begitu setianya menemani anak-anak bermain. Berjatuhan bunganya, dikumpulkan anak-anak dan mereka menyebutnya “cabe,” saat mereka membuat masakan sup pedas yang dicampur adonan pasir dan air. Mereka menyebutnya “stroberi,” saat anak-anak meminta kami untuk merasakan masakan sup pedas dan melihat kami kepedesan, lalu mereka memberi kami minuman stroberi.

Suatu hari sang cabe dan stroberi bermunculan begitu meriah dan indahnya. Sepanjang perjalanan kami menemani anak-anak, konsep celebration ataupun festival masih terus berproses untuk bisa kami berikan kepada anak-anak. Celebration yg punya makna, bukan sekedar perayaan. Ketika bunga-bunga merah itu bermunculan begitu kentaranya, kami merasakan hadirnya bisikan sang alam.  Begitu merdu, begitu indah. Kami kemudian mengumpulkan bunga-bunga itu dan membuat lingkaran-lingkaran di atas rumput. Sesaat setelah anak-anak datang, terdengar suara mereka, “waahh apa ini?” Suara-suara kecil yang penuh rasa kagum dan takjub. 







Anak-anak kemudian lompat dari satu lingkaran ke lingkaran yang lainnya. Anak-anak kemudian ikut membuat bentuk-bentuk yang mereka inginkan dari bunga-bunga itu. Seorang anak membuat bentuk kucing!





Lalu kamipun ingin lebih menikmati keindahan sang bunga merah. Kami buat menjadi mahkota. Anak-anak semakin tenggelam dalam rasa keindahan yang tersaji.

Lalu salah seorang dari mereka berkata, “Aku mau tanem ini.” Ia menanam bunga itu! Anak-anak lain segera mengikuti, “Aku mau tanem ini.” Beramai-ramailah mereka menanam apa yang ada di sekitar mereka. Biji pinus, biji salak, bahkan rumput liar yg sdh tercabutpun mereka tanam. 



Begitulah mereka menumbuhkan karsa, rasa, dan akal. Willing, feeling, and thinking. Alam adalah harta karun bagi mereka. Kami hanya memberikan sedikit petunjuk dimana harta karun itu berada. Anak-anak menggali dan membuka kotak harta karun tersebut. Merayakannya....

Senin, 25 Desember 2017

Free Trial

Free Trial for 3-6yo
Jan 5, 2018
08.00 - 10.00

Info : jagadalit.waldorfschool@gmail.com
WA 087823152314


One day at Jagad Alit


Waktu bermain Senin, Selasa, Kamis, Jumat
Jam 08.00 - 11.00

Rhythm of the day
Outdoor free play
Tidy up
Circle time
Indoor free play
Tidy up
Snack time
Story time


Rabu, 06 Desember 2017

Pendaftaran Semester Baru


Kami membuka pendaftaran di semester baru ini. Semester baru akan dimulai tanggal 8 januari 2017. Info dan pendaftaran bisa menghubungi  
jagadalit.waldorfschool@gmail.com atau WA 087823152314


Senin, 11 September 2017

Free Parenting Discussion



Twice a month we have parenting discussion and discussion. Not only parents can come. Also not only parents of Jagad Alit's children. Everyone can come and share their thoughts. This is how we build our community to give the meaning for children's life. Last Saturday we talked about the late talker or the late bloomer. We got this wonderful article to discuss. 

Why Waldorf Works: From a Neuroscientific Perspective
By Dr. Regalena “Reggie” Melrose

Why Waldorf works has more to do with how the brain develops and functions optimally than Rudolf Steiner ever could have known. Sure the educator and founder of Waldorf Education theorized convincingly about how children learn best, but until MRIs and other sophisticated measures of the brain were developed, we had no way to prove or disprove any of Steiner’s theories, not with the kind of precision and accuracy we can now. An overwhelming body of evidence from the last 20 years of neuroscientific inquiry supports Steiner’s theories, including some of the most fundamental foci of Waldorf Education.

Three foci thrill me the most, both as a parent of a Waldorf student and as an international speaker on the topic of learning, behavior, and the brain: holism, play, and nature. An emphasis on all three is consistent with how the brain learns best: when the whole brain is engaged at any given moment, when its foundational neural connections have been given ample time to develop, and when it is in an optimally aroused state.Knowing how the brain develops is essential to understanding why these three foci are so important to the success of any educational program. Let us first learn some basic fundamentals of the brain. First of all, it is “triune,” that is, it has three parts. More importantly, not all three parts are fully developed at birth as we once believed. In fact, very little of a newborn’s brain is “online” and “ready to go.” When the brains of newborn babies are observed with an MRI, the only part of the brain that is lit up or active is the most primal part – the brain stem, sensing brain, or “animal brain,” as it is also called. (Small underdeveloped parts of the auditory and visual cortices are the only exceptions.) This primal part of the brain is responsible for our experience of arousal and stress. It kicks into high gear and mediates our fight or flight response when needed. I like to call it the “sensory brain” because it only speaks the language of sensations, the only language that most consistently enables our survival. When we encounter a bear in the woods, for example, our words will not save us, but our heightened senses do.

The second and third parts of our brain – the limbic, feeling brain and the neocortex or thinking brain, respectively – only begin to develop after birth. This is critical new knowledge that provides a compelling answer to the long, highly debated question of nature versus nurture. We now know that because we only have use of a very small part of our brain at birth, the brain is literally sculpted by the experiences we have interacting with others in the environment. It is not until 3 to 4 months of age, when the feeling brain has become activated by experience that newborns are able to express more than just states of distress or contentment, as it does with only the sensory brain. At this somewhat older age, babies can share a wide range of emotions, thereby giving us a more social baby.
The third part of the brain, the neocortex, thinking brain, begins to develop after the limbic, feeling brain. Indications of this maturation include babbling between 6 and 9 months, a first word around the age of 1, and 2 to 3 words strung together by the age of 2. Whereas sensations are the language of the sensory brain and feelings are the language of the limbic brain, the neocortex speaks the language of words and mediates all of what most educators value. For example, the neocortex mediates impulse control, the ability to plan ahead, to organize, and to understand that a choice we make now may continue to have consequences later. Empathy for another is mediated by the neocortex, as are our abilities to use ration, reason, and logic. We think and analyze with our neocortex, and of course, understand and have use of both receptive and expressive verbal language. If you’ve heard about “right brain” versus “left brain” functioning, it will make sense to you now that it is the neocortex that controls the functions of the left hemisphere whereas the sensing and feeling parts of the brain control the functions of the right hemisphere. The brain operates optimally when all its parts are equally developed, valued, and engaged. Why Waldorf works is because it does just that.
Steiner’s approach to education was a holistic one. He recognized that our senses, feelings, and cognitions must all be actively engaged at each stage of development in order for students to maintain, over the long term, a joy and love of learning. Waldorf educators do not make the same mistake made by a number of other more traditional, conventional, and mainstream models of education. Waldorf educators do not overvalue the development of the neocortex and left brain to the exclusion of the right brain, that which senses and feels deeply. It does not focus at too young of an age, before the brain is ready, on purely academic endeavors that attempt with rigor to engage a part of the brain that the child has little access to, the underdeveloped neocortex. (The neocortex is not fully developed until we are in our mid- to late twenties!) Instead, what Waldorf educators do successfully is involve and nourish the sensing, feeling parts of the brain, those easily accessed by young children, so that essential foundational neural connections needed for later academic learning are solidly laid.

Let me expand: You now know that the brain develops in a hierarchical fashion from more to less primitive, from the animal to more uniquely human. What that means is that the healthy development of the more sophisticated neocortex DEPENDS upon the healthy development of the feeling, limbic brain which DEPENDS upon the healthy development of the sensory brain. The problem with today’s mainstream educational models is that they want the brain to walk before it can crawl. Well, let’s be accurate: Most school systems today want children to RUN before they can crawl. We encounter proud parents who say, “My child was walking at 9 months! She didn’t even need to crawl, just up and went! Isn’t that terrific?” And what I want to say is, “No! No, that’s not terrific! Push her to the floor! Make her crawl!” That might be an overzealous reaction, but it is grounded in sound knowledge that every single stage of development is essential to the next, laying a neural foundation to support what is to come. Our children need ample time and practice to “marinate in their mastery,” of one skill or another, at each and every juncture of their development. This is not happening in enough schools across the country today, but it is happening at Waldorf.
Take the case of play. From the very beginning of a child’s educational career at a Waldorf school, he or she is supported to play in a variety of different fashions and settings throughout the entire school day. Steiner knew that play is the invaluable foundation for any kind of healthy, human growth, including academic progress. And let’s be clear about what kind of play this is. It is what Dr. David Elkind calls “the purest form of play: the unstructured, [spontaneous], self-motivated, imaginative, independent kind, where children initiate their own games and even invent their own rules.” This kind of play, he warns us, is disappearing from our homes, schools, and neighborhoods at an alarming rate with great cost to the health, well-being, and achievement of our children.
Numerous studies have shown that play at every stage of development improves IQ, social-emotional functioning, learning, and academic performance. The findings of several studies conducted over a 4 year period found that spending one-third of the school day in physical education, art, and music improved not only physical fitness, but attitudes toward learning, and test scores, according to Dr. Elkind. Furthermore, when the performance of children who attended academic pre-schools was compared to the performance of children who attended play-oriented preschools, the results showed no advantage in reading and math achievement for the “academic children,” but did show that they had higher levels of test anxiety, were less creative, and had more negative attitudes toward school than did the “play children.”

This is precisely the point we are missing in today’s achievement-driven culture. We have bought into a myth in education that “more equals more.” A formula of more time spent on academics, starting earlier in development, with more homework, is not increasing the output of our children. It’s decreasing it! Cutting time out for the arts, physical activity, and time in nature, so our children can spend more time reading, writing, and doing arithmetic is not the answer. It is the culprit. Our children are burning out and dropping out at catastrophic rates not just because more doesn’t equal more, but also because it equals shut-down.

The brain functions its best only when in an optimum state of arousal. Our children cannot attend, listen, process information, retain, or perform well when in an either under- or over-aroused state. Overwhelm is what causes these states. When before the brain is ready children are exposed to and required to participate in academics, media, technology, and organized play, such as team sports, the premature and often prolonged stress they experience can eventually shut the system down. Teachers all over the United States and Canada tell me they see “it” by the beginning of third grade. In far too many of their students, they say “the light has gone out.” The joy, curiosity, and wonder that are essential to the learning process are already dulled by too much of one thing and not another. Whereas the mainstream educational system today focuses almost exclusively on academics, a mostly left brain function, Waldorf educators focus more on the whole brain, emphasizing the right hemisphere at each stage of development. Steiner could only have observed and therefore hypothesized that this keeps our children in the optimum zone of arousal where all of learning and adaptive behavior are possible. With current scientific findings, we now know he was right. Tapping into the sensory gifts of the right hemisphere provides the “flow” necessary for the marathon of achievement, not just the sprint.

Now that we’ve learned about the importance of holism and play to the learning process, let us consider the invaluable role of nature. A given within education is the engagement of the left brain. Learning almost always involves a verbal, analytical process. What is not a given, is the stimulation and expression of the right brain. The functions of the right hemisphere of the brain have somehow been deemed less important to the achievement and ultimate success of our children, at least “success” as most define it in the U. S. Our bodies are supported to move less, our minds to race more. Cuts have been made not only to recess and physical education, but also to creative endeavors such as theater, music, and fine art, all of which make important contributions to the optimal functioning of the brain, achievement, AND success no matter how you define it. What does nature have to do with it? A whole lot, according to the neuroscience: nothing stimulates and resonates with the right brain more powerfully, and therefore, nothing keeps us in the optimum zone of arousal better than nature.

Remember, the optimum zone of arousal, when anxiety is neither too high nor too low, is the only physiological state within which all of learning and adaptive behavior is possible. Nature beautifully promotes that state. According to years of research recently compiled by Dr. Eeva Karjalainen, natural green settings reduce stress, improve mood, reduce anger and aggression, increase overall happiness, and even strengthen our immune system. Nature is one critical antidote to the increases in stress, overwhelm, burnout, and dropout we are witnessing in the educational system today. Lack of exposure to nature causes such a detrimental state to the brain, and is so pervasive today we have a name for it: “Nature Deficit Disorder.” Dr. Karjalainen reports that “after stressful or concentration-demanding situations,” we do not recover nearly as well in urban settings as we do in natural ones. When we experience nature, our blood pressure, heart rate, muscle tension, and level of stress hormones all decrease faster than when we are in urban settings. In children in particular, we know that ADHD symptoms are reduced when they are given the opportunity to play in green settings.

As a mother myself, I can’t imagine a parent on earth that doesn’t want all of these benefits and more for their children. I can’t imagine that once parents and educators know the research findings pointing the way to optimal brain functioning, that any of us would ever agree to the kind of educational system we have now. The alternative of Waldorf exists, and I am grateful. I urge every parent to learn more about it and strongly consider it for their children. I am also aware, however, that not every parent has access to a Waldorf school for financial, geographical, or other reasons. For those parents and all of us really, I have an additional urging, that we vote, petition, write letters, make calls, and fight however we can to ensure that the reform about to take place in the current educational system be founded on the invaluable neuroscientific findings of the last 20 years. We must demand changes that are backed by sound science, based on how we know the brain works best, not just in the short-term, but for all the years to come.

Dr. Regalena “Reggie” Melrose is a licensed clinical and credentialed school psychologist with nearly 20 years experience working with children and adolescents in schools, clinical settings, and private practice. She is the author of several books including, “You Can Heal Your Child: A Guide for Parents of Misdiagnosed, Stressed, Traumatized, and Otherwise Misunderstood Children,” and the groundbreaking, “Why Students Underachieve: What Educators and Parents Can Do about It.” Dr. Melrose is an international speaker on the effects of stress and trauma on the brain, learning, and behavior and maintains a private practice healing the effects of stress and trauma in children, adolescents, and adults, in Long Beach, CA.