Tampilkan postingan dengan label tk di bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tk di bandung. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Desember 2017

Minggu, 18 Desember 2016

Merayakan Perjalanan Mereka

Ketika kami merasa tangan, hati, dan isi kepala kami tidak mampu menuliskan apa yang telah anak-anak lalui dalam perjalanan mereka hanya dalam satu atau dua digit angka, abjad, ataupun simbol-simbol lainnya, ketika kami merasa tidak "berhak" menilai apa yang telah anak-anak lakukan, maka akhirnya kami "hanya" dapat bercerita mengenai perjalanan mereka. 

Cerita itu diawali dengan pertanyaan Ibu Manda, salah seorang guru di Klab Anak Rabu sekaligus juga tempat kami bertanya ini dan itu. "Apakah udah tau gimana kepengennya orang tua dalam menyikapi raport? Apakah raport ini sangat penting dan sangat besar untuk orang tua? Jadi bahan orang tua menilai anak dan menilai sekolah seperti secara tradisional rapotan di Indonesia selama ini? Atau apakah rapotan ini hanya pelengkap dari peralatan pendidikan anak? Merupakan hal yang penting tetapi tidak sangat penting." Pertanyaan dalam beberapa kalimat yang kemudian kami cerna sebagai "Apakah kita, pihak sekolah, menginginkan orang tua memandang raport itu sesuatu yang segalanya yang dapat menjadi alat untuk menilai anak?" Suara hati ini kemudian menjawab "Tidak." 

Maka kami merangkai ribuan kata dalam sebuah buku cerita perjalanan mereka. Buku ini dapat kami selesaikan dalam waktu yang tidak begitu lama, namun apa yang ada  di dalamnya diambil dari cerita yang kami buat setiap hari. Apa yang dapat kami lihat, dengar, rasakan, dan kami ingat setiap harinya. Buku ini dan semua yang dilakukan anak-anak kemudian menjadi sumber pembelajaran kami.  Dari anak-anaklah kami banyak belajar. Anak-anak adalah guru kehidupan bagi kami. 



“Where is the book in which the teacher can read about what teaching is? The children themselves are this book. We should not learn to teach out of any book other than the one lying open before us and consisting of the children themselves.”  
-Rudolf Steiner-

Maka jika kita mencari satu bentuk "penilaian" dalam buku itu, mungkin inilah yang dapat ditemukan, "Apakah kami memberikan lingkungan yang aman bagi anak baik secara fisik maupun psikologis? Apakah kami sebagai guru merupakan sebuah kurikulum? Karena anak akan meniru apa-apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dari kami."

“You have no idea how unimportant is all that the teacher says or does not say on the surface, and how important what he himself is as teacher.” 
-Rudolf Steiner-

“You will not be good teachers if you focus only on what you do and not upon who you are.” 
-Rudolf Steiner-






























Buku ini dan beberapa hasil karya anak-anak kami bagikan untuk dilihat, dibaca, dan dijadikan bahan refleksi di rumah, karena kami berharap buku ini tidak semata menghasilkan komentar spontan berisi pujian berlebih, evaluasi, ataupun komentar spontan membanding-bandingkan anak, "waahh...liat temen kamu udah bisa gambar orang."  Kami ingin buku ini menjadi kenangan indah yang menggambarkan betapa besarnya perjuangan seorang anak dalam perjalanan hidupnya. 

Dan saat ini adalah saat untuk mensyukuri dan merayakan perjuangan mereka hingga sampai pada moment kehidupannya saat ini. "Memaknai Hari Kelahiran," itulah tema yang  kami ambil untuk moment ini bersamaan dengan kelahiran beberapa orang di Bulan Desember yang dalam perjalanan hidupnya dapat memberikan makna bagi kehidupan dirinya dan orang lain. Bersamaan juga dengan moment Hari Ibu di Indonesia. Betapa besar dan mulia perjuangan seorang ibu. Dan sebagai seorang ibu, ayah, ataupun guru, marilah kita membuka mata hati kita untuk merasakan betapa besar perjuangan seorang bayi di dalam kandungan, hingga ia menemukan jalan lahirnya, membuka matanya, menggerakkan tangan dan kakinya, sampai pada moment kehidupannya saat ini. 













Jumat, 29 Juli 2016

Class trial


Setiap anak memiliki keunikannya masing-masing. Bagi sebagian anak, hari pertama sekolah adalah momen yang sangat dinantikan. Namun bagi sebagian lainnya, bisa jadi momen ini memunculkan rasa kekhawatiran. Khawatir berpisah dengan orang tuanya, memasuki lingkungan baru, teman-teman dan guru baru. Cemas terhadap apa yang akan terjadi atau dialami di lingkungan yang baru. Jagad Alit Play & Kinder sangat memahami hal ini. Satu bulan sebelum hari pertama sekolah, kami melakukan home visit agar anak lebih mengenal gurunya dan demikian pula sebaliknya, sehingga ketika anak bersekolah, mereka akan teringat "oya, Ibu guru ini yang pernah main ke rumahku."










Beberapa hari sebelum hari pertama sekolah, kamipun mengundang anak dan orang tua untuk datang ke Jagad Alit guna merasakan ritme keseharian di Jagad Alit. Proses pengenalan lingkungan baru bersama orang tua, akan membantu anak dalam mengatasi separation anxiety pada hari-hari pertama sekolah.



Kegiatan dimulai dengan bermain bebas di area outdoor, sementara orang tua melakukan pekerjaan yang bermakna berupa working with woods (menghaluskan kayu, memahat, dan memoles) dan juga gardening dan membersihkan area outdoor. Orang tua tidak tinggal diam atau mengobrol saja, karena anak belajar dari proses imitasi. Tentunya kita berharap anak meniru kegiatan-kegiatan yang bermakna.











Setelah itu kami bernyanyi, menggerakan badan, finger play, dan mendengarkan cerita dalam kegiatan circle time. 

Slamat pagi bumi
Slamat pagi matahari
Slamat pagi pepohonan 
Dan bunga di taman 
Slamat pagi semut kecil
Slamat pagi gajah besar
Slamat pagi untukmu
Slamat pagi untukku



Sang semut keluar dari sarang menyongsong mentari
Langkah-langkah kecilnya membuka hari
Berjalan beriringan menyapa angin pagi

Sang gajah menyibak pepohonan menyongsong mentari
Langkah-langkah besarnya membuka hari
Berjalan beriringan menyapa angin pagi

Semut dan gajah berpapasan di sebuah ladang
Keduanya berhenti saling menyapa
Semut melompat riang ke atas punggung gajah
Lompat satu..belum berhasil
Lompat dua..belum berhasil
Lompat tiga..berhasil!
Semut dan gajah berteman sejati





Wooden toys from www.tokecangtoys.com
Badan terasa hangat. Hari beranjank siang. Bunga terenyum senang. Waktunya masuk ke dalam ruangan untuk bermain, menyiapkan snack, dan berkreasi dalam kegiatan arts and craft. Anak-anak bermain bebas. Bereksplorasi dengan mainan-mainan sederhana berbahan alami. Imajinasi dan kreativitas muncul tak berbatas. 

Orang tua mengerjakan kegiatn craft sebagai kegiatan  bermakna yang dapat dicontoh oleh anak.Keinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini muncul dari dalam diri anak sendiri tanpa paksaan. 
Snack yang dibuat bersama guru dan anak-anak telah siap. Anak-anak menunggu snack dibagikan, tidak lupa berucap syukur kepada alam semesta dan pencipta yang telah memberikan makanan dan minuman untuk dinikmati bersama.

Tanah tempat biji tumbuh besar
Matahari beri kehangatan
Hujan yang memberi kesuburan
Hingga tumbuh buah dan sayuran

Tangan kanan dan kiri mengolah
Hingga tersaji makanan sehat
Membuatku tumbuh tinggi kuat
Terimakasih pada kalian 
Terimakasih pada Pencipta




Sebelum pulang, imajinasi anak-anak dimanjakan dengan sebuah dongeng tentang persahabatan matahari dan bulan. Kisah dalam dongeng ini akan dibawa pulang oleh anak untuk diingat agar selalu bermain bersama teman-teman dengan penuh rasa kasih sayang dan mau saling berbagi.

Pegdolls prop from www.tokecangtoys.com






Rabu, 13 Juli 2016

Di Jagad Alit Waldorf Play and Kinder

Di Jagad Alit Waldorf Play and Kinder....
Seperti inilah ritme hariannya :

7.50 - 8.00 Menyambut kedatangan anak
8.00 - 8.45 Outdoor free play
8.45 - 8.55 Merapikan mainan dan membersihkan diri
8.55 - 9.05 Morning circle
9.05 - 9.15 Mempersiapkan snack bersama
9.15 – 10.00 Indoor free play dan kegiatan arts & crafts
10.00– 10.10 Merapikan mainan
10.10 - 10.20 Snack
10.20 - 10.30 Merapikan peralatan makan dan tas
10.30 - 10.40 Storytelling
10.40 - 10.45 Aktivitas selesai - pulang


Kegiatan ini berlangsung hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat
Interaksi anak dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya sangatlah penting bagi perkembangan anak. Untuk itu kami memberikan kesempatan tambahan kepada anak untuk menikmati waktunya bersama keluarga di rumah pada hari Rabu. Namun kamipun mengerti kondisi orang tua yang tidak dapat melakukan hal ini. Maka kami mempersilahkan anak untuk hadir bersama pendampingnya pada hari Rabu untuk mengikuti kegiatan fee play, circle time dan storytelling di Jagad Alit.

Kegiatan hari Rabu ini juga dapat diikuti oleh anak-anak lain yang tidak bersekolah di Jagad Alit. Kegiatan inipun dapat menjadi alternatif bagi orang tua yang melakukan homeschooling, sebagai sarana agar anak dapat bermain bersama dengan teman-temannya.

Minggu, 05 Juni 2016

Public Talk - Day 2

May 17 (09.00-11.30) 
STORYTELLING ENHANCES THE STRENGTH OF THE CHILD'S SOUL 
What kind of stories shall we tell to our kids at what age? 
Choose the right picture books.



All children have a hunger for imagination, not for explanation. When the child is always given an explanation for something he wants to know, the interesting is, he could not feel. He has no feeling at once explanation started. And our head is quite superficial when we are not involving our feelings, because our feelings give us an interest in the world. 

With our head we comprehend but with our feeling we are going deeper with something.


The children will come into the mood of concentration through imagination when we tell a story. Also the children will enhancing their WILL, because they are trying to focus to listen the story.

Fairy tales are so important for children. Fairy tales are describing different situation of problems, struggles, failures, temptations of the human soul. It contains the past, the present and the future. Complete life cycle. When we have many different figures/characters in fairy tales, that's what we face in reality The child will know his own soul capacity.


Fairy tales also create in the soul of the child, the capacity of wonder, that the child can be astonished. It makes the child awakening in love to watch the world, to connect with the world.


Minggu, 27 Maret 2016

Apa Yang Membedakan Kita

Setiap pendidikan memiliki tujuan yang baik. Setiap sekolah berusaha menyampaikan pendidikan ini dengan cara yang baik. Ketika hendak memilih yang terbaik, maka pilihlah yang paling sesuai dengan kebutuhan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya. 

Bagi anak usia pra sekolah, fokus perkembangan ada pada indera peraba, indera kehidupan, indera gerak, dan indera keseimbangan. Anak yang baru lahir hingga 7 tahun pertama kehidupannya dpt kita analogikan seperti seseorang yang baru saja membeli sepatu baru. Butuh waktu untuk mencoba sepatu tersebut hingga ia merasa nyaman dengan sepatu barunya. Ia akan mencoba mengenakan sepatu barunya, merasakan pas atau tidaknya sepatu tersebut, mencoba berjalan dengan sepatu barunya itu hingga ia yakin bahwa ia dapat bergerak dan berjalan mantap dengan sepatu barunya tersebut. 

Aktivitas keseharian di Jagad Alit bertujuan untuk menstimulasi keempat indera yang menjadi fokus perkembangan anak usia pra sekolah yang nantinya akan menjadi dasar bagi kemampuan akademis anak pada tahapan selanjutnya. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai hal ini, silakan berkunjung ke tempat kami.


Kamis, 24 Maret 2016

Saturday Open Day

Sangatlah bijaksana untuk mempertimbangkan kesesuaian visi dan konsep pendidikan dalam memilih sekolah bagi anak kita. Oleh karena itu kami mengundang para orang tua bersama dengan anak untuk mengenal terlebih dahulu visi dan konsep pendidikan kami.


Senin, 14 Maret 2016

Free parenting discussion

"Imitation provides children with the opportunity to practice and master new skills."

Tujuh tahun pertama adalah periode anak belajar melalui proses imitasi, bukan instruksi. Segala hal bahkan ekspresi wajah, cara berbicara, dan cara berjalan dipelajari anak melalui imitasi. Termasuk juga ketika kita kesal, marah ataupun sedih, anak akan meniru reaksi emosi kita.



Anak ingin melakukan hal yang sama ketika orang tua sedang memasak, mencuci, menyapu, bekerja di hadapan komputer, dll. Dan ini akan membuat pekerjaan kita menjadi "terhambat" atau bahkan pekerjaan kita jadi "berantakkan." Padahal melalui imitasi hal-hal baik, anak akan mempelajari banyak hal.

Yu kita diskusikan bersama!
Kita juga akan berbagi finger play yang dapat dilakukan bersama anak di rumah.

Free parenting session
Sabtu 19 Maret 2016
11.00-12.30
Jagad Alit - Waldorf
Jl. Babakan Jeruk IIIE Bandung

Konfirmasi kehadiran melalui email jagadalit.waldorfschool@gmail.com

Jumat, 11 Maret 2016

Catatan dari study group - 5 Maret 2016

Acara study group kali ini dihadiri oleh mahasiswa dan mahasiswi S2 dan S3 yang sekaligus jg pendidik dan tentunya menaruh perhatian terhadap perkembangan dan pendidikan anak.

Topik kali ini adalah mengenai bagaimana sebaiknya pihak sekolah menjalin komunikasi dengan orang tua. Sekolah dan orang tua adalah dua pihak yang sama-sama terlibat dalam pendidikan anak. Kerjasama antara keduanya sangatlah penting. Namun tidak jarang kita temukan sekolah-sekolah yang menyadari pentingnya hal ini dan ingin membangun kerjasama yg baik tetapi pada pelaksanaannya menemui tantangan-tantangan. Bahkan ada juga sekolah yang secara sadar ataupun tidak sadar, bersikap defensif ketika orang tua membutuhkan informasi tertentu. Berdasarkan situasi-situasi itulah maka topik ini menjadi sangat menarik utk dibahas.

Diskusi yang sangat berkualitas...hehe...banyak sekali manfaat yang didapat. Setelah breathing-in dalam diskusi, kita breathing-out melalui kegiatan craft. Terimakasih semua!


Tanya :
Ketika ada orang tua yang bertanya mengenai apa dan bagaimana sekolah kita (misal ttg jadwal sekolah, biaya, kegiatan, dll), maka kita bisa menjawab dengan yg seutuhnya dapat diterima oleh orang tua. Tetapi ketika orang tua bertanya kenapa sekolah ini spt itu, apa bedanya dg yang lain, bagaimana kalau anak saya begini, maka bagaimana sebaiknya cara kita menjawab?

Jawab :
Saat ini informasi bisa dibilang sangat mudah didapat dari segala sumber (internet, buku, acara parenting, obrolan dengan sesama orang tua, dll). Informasi yang diterima bisa jadi adalah informasi yang teruji nilai kebenarannya, informasi yang hanya berdasarkan pendapat seseorang saja, ataupun informasi yang hanya sesuai dengan persepsi kita saja. Guru atau pihak sekolah mungkin memiliki informasi lebih banyak, demikian pula sebaliknya, orang tua yang memiliki informasi lebih banyak. Nah berdasarkan kondisi ini maka alangkah baiknya jika pihak sekolah tidak bertindak sebagai pihak yang “maha tahu.” Langkah pertama adalah menyeleraskan persepsi mengenai informasi yang dimiliki masing-masing pihak. Pihak sekolah sebaiknya bertanya terlebih dahulu “what do you think?” 
Misal : “Baiklah Bapak/Ibu, sebelum saya menjawab, dari apa yang mungkin Bapa/Ibu sudah ketahui, bagaimana pendapat Bapak/Ibu mengenai dampak televisi terhadap perkembangan anak?” Setelah orang tua menyampaikan pendapatnya, baru kita memberikan jawaban, “Bapak/Ibu, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa dampak televisi ataupun media elektronik lainnya terhadap perkembangan anak ternyata bukan hanya dari kontennya yang tidak sesuai tetapi juga dari “jump cut” atau potongan-potongan adegan yang sifatnya tidak kontinyu..dst..dst...”

Dalam menyampaikan jawaban, nada suara tetaplah wajar sehingga kesannya tdk menggurui. Memberikan sumber jawaban juga penting, misal spt tadi, “dari beberapa penelitian....” atau dari “pengalaman saya....”, atau “dari buku yang saya baca...”, atau jika memang sumber informasi yg kita miliki kurang lengkap, maka katakanlah, “dari artikel yang saya baca dan tentunya perlu penelitian lebih lanjut berkaitan dg hal ini...”

Ada satu hal yang perlu diingat ketika orang tua bertanya apa bedanya sistem pendidikan di sekolah ini dengan di sekolah lain, maka jangan jadikan sistem pendidikan itu sebagai komoditi. Karena jika kita menjadikan sistem pendidikan sebagai suatu komoditi, maka kita cenderung akan menjawab “sistem pendidikan di sekolah ini lebih bagus dari pada di sekolah lain.” Atau malah mungkin jg kita akan menjelek-jelekkan yang lain, padahal pada dasarnya semua tujuan pendidikan itu baik hanya cara atau metodanya yg berbeda. Mana yang paling baik, adalah yang paling sesuai dengan kebutuhan anak. Kebutuhan setiap anak berbeda, maka sekolah yang baik utk seseorang belum tentu baik bagi yang lain. 

 Tanya : 
Bagaimana sebaiknya pihak sekolah memposisikan orang tua? Apakah orang tua dipandang sebagai customer dimana orang tua dan anak membutuhkan jasa pendidikan dan kemudian mereka membayar utk itu. Pihak sekolah berusaha utk memenuhi kebutuhan org tua dan anak dengan menyediakan jasa pendidikan dan sebagai imbalannya adalah uang sekolah yang memang dibutuhkan utk menyediakan jasa tsb, misal utk sarana dan prasarana, biaya operasional, peningkatan keterampilan guru, dll.  Atau sebagai partner dimana orang tua diajak bersama-sama utk membangun apa yg dibutuhkan oleh anak. 

Jawab :
Di bagian ini cukup alot diskusinya.... 
Kita yg hadir bisa dikatakan sepakat bhw org tua adalah partner krn masalah pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah tapi tentu saja jg merupakan tanggung jawab org tua. Dan apa yg diberikan di sekolah tentu tdk ada artinya jika org tua di rmh tdk memberikan hal yg sejalan dg apa yg didpt di sekolah. 

Namun  banyak org tua yg beranggapan bahwa saya sudah membayar mahal utk sekolah dan utk itu saya ingin anak saya jadi pinter, sopan, dll. Berdasarkan hal tsb maka tidaklah salah memandang org tua sbg customer krn dg demikian pihak sekolah akan berusaha memberikan yg terbaik bagi customernya.  Dan berarti jika kemudian customer tidak puas akan layanan yg diberikan, maka org tua berhak utk complaint dan menganggap bahwa itu adalah kesalahan si penyedia jasa tanpa peduli keselarasan antara apa yg diberikan di sekolah dan apa yg diberikan di rmh. Nah looooo...haha...

Oke, skrg kita coba pelajari apa yg dikatakan Steiner (founder Waldorf) mengenai three fold social order. Di satu sisi ada kegiatan ekonomi yg bertujuan menghasilkan uang (konsumen/demand dan produsen/supply). Di sisi lainnya ada pendidikan, seni, dan penelitian. Kedua sisi ini harusnya tdk bertemu, artinya kita memberi pendidikan, kita membuat karya seni, kita melakukan riset, NOT because we are paid for. Kita memberi the best education for people so they can be the best person the society needs. Kalau kita memandang pendidikan sbg kegiatan ekonomi maka kita akan berusaha memberikan apa yg konsumen kita mau. Kalau konsumen tdk suka maka kita akan mengganti segala sesuatunya dg apa yg konsumen sukai.  Itulah bisnis. Kl konsumen kita ga suka dg produk kita dan lebih suka dg produk org lain maka kita akan menyesuaikannya dg permintaan pasar. But thats not education should work nor art should work! Kita tdk menggambar sesuatu krn gambar itu yg paling laku. Lalu apa yg menengahinya? Dlm three fold human being, agar thinking dan willing seimbang, ada feeling. Dlm three fold social order, ada government. Apa yg dihasilkan dari kegiatan ekonomi seharusnya diatur pemerintah spy bisa diperoleh oleh education, art, dan research spy ketiganya itu tdk mendapatkan pressure krn membutuhkan dana. Tapi sayangnya yg terjadi tdklah demikian. We have to work out with what we have. Soooo...

It is wise to see parents as a customer and also a partner. Disinilah pihak sekolah harus bisa memainkan porsinya. Jgn sampai porsi konsumen lebih besar daripada porsi partner. Jika ini terjadi, mungkin sj kebijakan sekolah yg sebenarnya adalah yg terbaik bagi anak-anak, meskipun tdk populer, dicancel krn tdk sesuai dg keinginan sekelompok org tua. Hal ini bisa terjadi kpd sekolah-sekolah yg filosofinya tdk kuat. Naaahhh begitulah...sebuah sekolah seyogyanya memiliki filosofi yg kuat, bukan hanya sekedar memenuhi keinginan pasar. 

Sekian dl yaaaa... sampai ketemu di study group bulan depan.