Tampilkan postingan dengan label jagad alit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jagad alit. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2020

Banyak Pertanyaan Anak. Dua Jawaban, Takjub dan Takzim




“Tuhan itu siapa? Tuhan itu ada di mana?”


“Kenapa Nenek meninggal?”


“Bayi datangnya dari mana?”


“Ko rumputnya dipotongin?”


“Kenapa harus makan sayur?”


Pertanyaan-pertanyaan unik, ajaib, tak terduga. Bikin kita bengong selama beberapa detik, menghela napas diam-diam (khawatir keliatan kaget dan bingungnya), sampai akhirnya kita jawab panjang lebar atau bilang bentar ya, mau apa dulu atau kemana dulu, padahal mau ngumpet buka handphone googling. Buat yang lebih tenang dalam merespon, mungkin akan ngajak anak sama-sama buka buku yg kebeneran ada di rumah lalu ngejelasin apa yg ada di buku. Atau mungkin akan bilang “Ayah/Ibu belom tau jawabannya, nanti Ayah/Ibu pikirin dulu ya.” Lalu sampe kebawa mimpi atau pasang status di facebook atau ig story yg isinya pertanyaan anak tsb. Berharap ada reply yg isinya jawaban atau setidaknya sharing pengalaman yang sama dan kemudian sama-sama bingung.


Bikin kaget banget ketika ada sebuah artikel yang membahas mengenai pertanyaan-pertanyaan unik anak, diantaranya adalah, “Kenapa kita harus takut kepada Tuhan?” Jawaban yang disarankan dalam artikel itu adalah “Karena Tuhan yang menciptakan/ membuat kita. Ia bisa membuat kita melihat, mendengar, bernapas, bergerak, dan lainnya. Tapi Tuhan juga bisa membuat kita buta, tuli, meninggal, makanya kita juga harus takut kepada Tuhan.” Tak habis pikir  membayangkan dampak jawaban seperti ini terhadap jiwa seorang anak.


Seringkali pertanyaan-pertanyaan ajaib muncul sebagai pertanyaan lanjutan, “Itu apa?” atau “Lagi ngapain?” dan yang sejenisnya. Pada anak-anak tertentu dan pada usia tertentu, biasanya mulai usia 3 tahun, jawaban kita akan mengundang pertanyaan berikutnya, “Kenapa...bla...bla...bla..” Atau “Ko...bla..bla...bla” Dan jawaban-jawaban kita berikutnya akan diserbu dengan berseri-seri pertanyaan selanjutnya. Anak usia 5-7 tahun bagaikan seorang filsuf kecil, akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yg sifatnya makin dalam. Engga jarang kemudian akhirnya kita bikin rangkuman utk menutup pertanyaan itu, “Ya emang udah dari sananya gitu.” Atau “Ya pokoknya gitu lah.” Atau kita sudahi dengan mengalihkan perhatian anak.


Jadi orang tua, jadi guru atau apapun sebutannya sebagai orang yang mendampingi anak emang banyak tantangannya. Tantangan membuat kita belajar. Bukankah hidup adalah proses belajar untuk menjadi lebih baik? Mangkanya kita engga dikasih hidup yang mulus-mulus aja. Apa yang perlu dipelajari sebagai orang yg mendampingi anak? Ya tentunya kita perlu belajar mengenai anak itu sendiri. Tapi bukan hanya itu, kita perlu memahami diri kita sendiri. Dan bukan hanya dua itu, tapi kita juga perlu mempelajari lingkungan semesta tempat anak tinggal dan berinteraksi dengan alam semesta dan seisinya. Bersyukurlah kita sebagai orang tua, guru, dan orang-orang yang mendampingi anak karena artinya kita diberi kesempatan untuk mempelajari kehidupan! Diberi kesempatan untuk mencari makna kehidpan yang hakiki.


Nah, sekarang giliran kita yg bertanya kenapa anak engga brenti-brentinya nanyain ini dan itu dan kenapa jawaban-jawaban kita seringkali seolah engga memuaskan bagi mereka sehingga muncul pertanyaan beruntun macam ular naga panjangnya bukan kepalang. Itu karena anak memandang dunia ini dengan pandangan yang berbeda dengan kita. Mereka hadir di dunia ini masih dalam itungan jari, sedangkan kita udah puluhan tahun. Mereka masih dalam dreamy unconscious mind. Baru beberapa tahun mereka “dikirim” dari alam yang penuh keajaiban. Alam berpikir mereka adalah imajinasi yang tiada batasnya. Alam berpikir mereka tak seperti kita yang sudah penuh dengan konsep, logika dan teori. Mereka selalu bisa menemukan kemungkinan-kemungkinan lain dari setiap hal. Coba lihat ketika anak bermain. Segala sesuatu bisa jadi apa saja. Kursi misalnya. Bagi kita, kursi ya tempat duduk. Tapi bagi anak, kursi bisa jadi rumah, mobil, disusun jadi rangkaian kereta api, menara, bahkan jadi kompor! Bagi org dewasa sulit untuk dapat memasuki dunia imajinasi anak, karena kita udah full of theory dan cara berpikir yg logis. Oleh karena itu seringkali jawaban kita bukanlah jawaban yg dibutuhkan anak. “To offer them logical explanations (however true to a scientific mind) is to give them a stone when they ask for bread.”


Properties for storytelling by Tokecang Natural Toys
Simpanlah dalam kepala kita bahwa sampai usia 7 tahun, alam berpikir anak adalah imajinasi tak berbatas. Anak masih sangat terkait dengan alam spiritual. Mereka membutuhkan jawaban yang memberi gambaran utuh tentang suatu hal, dimana jawaban ini disampaikan dalam bentuk deskripsi yang imajinatif. Itulah mengapa dongeng merupakan salah satu cara yang lebih sesuai untuk “menjelaskan” sesuatu pada anak atas pertanyaan-pertanyaannya yang rumit, dibandingkan penjelasan panjang lebar yang berisi konsep, teori, ataupun hubungan sebab akibat.


Di sisi yang lain, mereka baru saja hadir di dunia ini, ingin hadir, ingin mengetahui segala yang ada, ingin melakukan banyak hal, ingin menjalin keterhubungan dengan segala yang ada di dunianya yang baru. Ketika anak bertanya, “Kenapa?” yang mereka inginkan bukanlah penjelasan sebab akibat, melainkan keterkaitan/hubungan/relasi antara apa yang ada dalam diri mereka dengan apa yang ada di luar diri mereka. Hal ini dapat mereka peroleh melalui jawaban yang kita sampaikan dengan suara kita yang lembut, hangat, penuh perhatian, dan segala kualitas suara, komunikasi, interaksi yang manusiawi. Bukan penyampaian yang “kering” seperti ketika menyampaikan sebuah teori yang bersifat intelektual. “They are seeking to bring around them the living tones of the human voice......A child is first nourished by his mother-milk, and then by his mother-tongue.” Keterkaitan/ hubungan/ relasi antara apa yang ada dalam diri anak dengan apa yang ada di luar diri mereka juga dapat mereka peroleh melalui jawaban yang berisi afirmasi yang menunjukkan rasa takjub. Ketika anak bertanya, “Itu apa?” Dan kita menjawab, “Buah naga.” Lalu anak bertanya lagi, “Buah naga itu apa?” Yang mereka butuhkan sebenarnya bukanlah definisi dari buah naga, melainkan afirmasi yang menunjukkan rasa takjub. “Ini dia yang namanya buah naga.” Suara, intonasi, ekspresi wajah, sinar mata kita yang akan menyampaikan ketakjuban itu.


Lain halnya dengan anak yang telah melewati tujuh tahun pertama kehidupannya. Mereka telah meninggalkan dreamy unconscious mind. Imajinasi mereka tak lagi sehebat sebelumnya. Mereka telah berada pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi untuk dapat mengkaitkan jawaban dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Namun bukan artinya mereka membutuhkan jawaban teoritis ataupun scientific. Bagi anak usia 7 hingga 12 ataupun 14 tahun, bukanlah penjelasan matahari sebagai pusat tata surya yang memiliki diameter ratusan kali lipat dari bumi dan memiliki suhu hingga ribuan derajat celcius, yang akan “memuaskan” mereka. Bukanlah penjelasan bahwa bintang adalah bola gas besar yang mempunyai komponen utama hidrogen dan helium. Bagi mereka, apa yang akan memuaskan jiwa mereka adalah matahari yang terbit setiap pagi dengan sinar keemasan yang menghangatkan, memunculkan rasa takjub dan syukur. Bagi mereka, apa yang akan memuaskan jiwanya adalah kilau bintang yang menghiasi langit malam, begitu indah, seolah menggambarkan jiwa mereka yang bercahaya. Apa yang menyentuh hati dan perasaan mereka, itulah yang dibutuhkan anak-anak usia 7-14 tahun.


Nah jadi, jika kita memberikan pengertian yang sifatnya ilmiah sebelum anak berusia 12 tahun, maka kita akan merusak imajinasi dan unsur rasa yang sejatinya ada dalam diri mereka. Dan karena daya dan kemampuan berpikir anak yang belum siap untuk menerima dasar-dasar pemikiran ilmiah, maka penjelasan yang scientific atau bersifat intelektual akan menjadi dogma yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan, bukanlah sebagai sebuah pengetahuan yang dapat tumbuh berkembang. Anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang cara berpikirnya tidak fleksibel, sulit untuk menerima pandangan-pandangan yang berbeda dengan apa yang diyakininya.


Bagian ini mungkin akan menjadi bagian yang paling mengejutkan. Buku-buku yang berisi penjelasan disertai gambar-gambar yang dengan kuat dan detail memvisualisasikan bagaimana cara kerja sesuatu, bagaimana membuat sesuatu, bagaimana sesuatu itu muncul, dan buku-buku sejenis, memberikan kemudahan bagi anak untuk mengetahui bagaimana suatu proses berjalan. Namun juga ternyata memberi pengertian yang sangat dangkal dan terlalu disederhanakan. Ketika anak bertanya gua itu apa, apa yang ada di dalam gua, gimana kalau rumahnya seperti gua, dan kita memberikan sebuah buku yang menjelaskan segala hal tentang gua beserta gambar gua dengan stalaktit, stalakmit dan orang yang jaman dulu tinggal di gua, maka anak akan segera berpikir bahwa ia telah memahami segala hal tentang gua. Anak mengumpulkan segala informasi bersifat teoretis yang membuatnya “lupa” untuk mengamati sesuatu yang akan menghadirkan pemahaman yang berasal dari dalam dirinya sendiri. 


Sangatlah penting bagi anak untuk dapat membentuk gambaran di dalam kepalanya sendiri dari apa yang mereka lihat, dengar dan alami secara langsung. Hal ini akan menumbuh suburkan kreativitas anak dibandingkan jika mereka mendapatkan pengetahuan dari gambar atau foto yang membuat anak dengan mudahnya membuat suatu kesimpulan yang sebenarnya terlalu sederhana dan dangkal. Gambar atau foto yang mengilustrasikan cara kerja sesuatu memberikan kemudahan bagi anak untuk mengetahui bagaimana suatu proses berjalan, namun sangat sedikit unsur rasa dari kondisi nyata yang dapat disampaikan oleh gambar-gambar tersebut. Informasi dari buku dengan ilustrasi seindah apapun, akan sangat berbeda dengan pemahaman yang mengandung unsur rasa yang didapat dari apa yang kita ceritakan kepada anak mengenai suasana gelap dan dinginnya di dalam gua, bagaimana menakjubkannya “taring-taring” yang menggantung di langit-langit gua dan menancap kokoh pada dasar gua, bagaimana suara air yang mengalir di dalam gua dan kehidupan penuh tantangan yang dialami orang-orang jaman dulu di dalam gua. Ketika kita bercerita, anak membentuk gambaran di dalam kepalanya, muncul rasa tertentu di dalam hatinya, dan ketika mereka beranjak dewasa, timbul kehendak untuk mengetahui lebih jauh mengenai kehidupan di dalam gua.

Amatlah penting menjaga kehendak anak untuk bertanya tumbuh subur hingga mereka beranjak dewasa. Ketika mereka memasuki usia 14 tahun dan siap untuk menerima pemahaman secara intelektual, mereka harus memiliki keinginan yang kuat untuk menyelidiki setiap pertanyaan dalam hidup hingga ke dasarnya, bukan hanya terpuaskan oleh teori tanpa pengetahuan. Pada beberapa situasi, sangatlah bijaksana jika kita menjawab pertanyaan anak dengan, “hmmmhhh...apa ya?” Hal ini memberi ruang bagi anak untuk berpikir dalam dunia imajinasinya sekaligus memberi nafas bagi anak untuk menjaga pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tetap hidup. Tak jarang anak kemudian dapat menghadirkan jawabannya sendiri dalam ruang imajinasinya. Suatu hari seorang anak bertanya, “Ko pohonnya ga boleh dipanjat banyakan?” Ketika kita menjawab dengan penuh perhatian dan nada takjub, “hmmmh...kenapa ya?” Anak kemudian berkata, “Soalnya pohonnya kecapean, ngegendong banyak anak.” Jawaban seperti ini juga memberikan gambaran pada anak bahwa tak semua pertanyaan harus terjawab saat ini. Banyak pertanyaan yang harus tetap menempati dan hidup di hati mereka dimana pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan dijawab oleh kehidupan itu sendiri.


“You are so young, so much before all beginning, and I would like to beg you, dear Sir, as well as I can, to have patience with everything unresolved in your heart and to try to love the questions themselves as if they were locked rooms or books written in a very foreign language. Don't search for the answers, which could not be given to you now, because you would not be able to live them. And the point is, to live everything. Live the questions now. Perhaps then, someday far in the future, you will gradually, without even noticing it, live your way into the answer. Perhaps you do carry within you the possibility of creating and forming, as an especially blessed and pure way of living; train yourself for that but take whatever comes, with great trust, and as long as it comes out of your will, out of some need of your innermost self, then take it upon yourself, and don't hate anything.” -Rainer Maria Rilke, Letters to a Young Poet-






Sumber : 




Minggu, 08 Mei 2016

Belajar menulis dan membaca : usia berapa?

May 18 
15.00-16.00 SHARING SESSION WITH GOBIND VASHDEV
16.00-18.30
WRITING, READING, BRAIN DEVELOPMENT
Are the children ready to learn? 
Are we unconsciously pushing them? 
The danger of early learning!

Otak manusia terdiri dari 2 bagian yaitu otak kiri dan otak kanan. Kedua bagian otak ini dihubungkan oleh corpus callosum. Pembentukkan organ ini belum sempurna sampai anak berusia sekitar 7 tahun.
Ketika penghubung otak kanan dan kiri ini sudah terbentuk dengan sempurna, maka anak akan mampu untuk membaca dengan baik, membentuk imaginative pictures dari kata-kata dan kalimat yg dibacanya dan memiliki memori visual yang membuat mereka dapat mengeja dg lebih mudah.

Ketika kita tergoda utk mengajari anak membaca sebelum mereka berusia 7 tahun, maka bukannya tdk mungkin anak dapat membaca, tetapi mereka hanya melakukan apa yg namanya proses decoding, bukan reading comprehension. Anak belum mampu mengkaitkan makna kata perkata menjadi sebuah kalimat utuh.
Jika ingin tahu lebih dalam mengenai hal ini, silakan datang tanggal 18 Mei ya...

https://www.facebook.com/events/695069293965454/?active_tab=posts

Senin, 14 Maret 2016

Free parenting discussion

"Imitation provides children with the opportunity to practice and master new skills."

Tujuh tahun pertama adalah periode anak belajar melalui proses imitasi, bukan instruksi. Segala hal bahkan ekspresi wajah, cara berbicara, dan cara berjalan dipelajari anak melalui imitasi. Termasuk juga ketika kita kesal, marah ataupun sedih, anak akan meniru reaksi emosi kita.



Anak ingin melakukan hal yang sama ketika orang tua sedang memasak, mencuci, menyapu, bekerja di hadapan komputer, dll. Dan ini akan membuat pekerjaan kita menjadi "terhambat" atau bahkan pekerjaan kita jadi "berantakkan." Padahal melalui imitasi hal-hal baik, anak akan mempelajari banyak hal.

Yu kita diskusikan bersama!
Kita juga akan berbagi finger play yang dapat dilakukan bersama anak di rumah.

Free parenting session
Sabtu 19 Maret 2016
11.00-12.30
Jagad Alit - Waldorf
Jl. Babakan Jeruk IIIE Bandung

Konfirmasi kehadiran melalui email jagadalit.waldorfschool@gmail.com

Sabtu, 27 Februari 2016

Kunjungan

Sebelum memilih dan mendaftarkan anak ke suatu sekolah, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu konsep sekolah tersebut, karena pada dasarnya setiap pendidikan mengajarkan kebaikan, setiap sekolah berusaha memberikan yang terbaik. Hanya saja apakah konsep dan cara sekolah tersebut sesuai dengan kebutuhan anak kita? Sekolah yang baik menurut orang lain belum tentu baik menuruk kita karena kebutuhan anak berbeda-beda.



Oleh karena itu Jagad Alit mengharuskan setiap orang tua untuk melihat dan mengenal terlebih dahulu konsep pendidikan Waldorf dan bagaimana kami mengantarkan konsep tersebut. 




“Receive children in reverence, educate them in love, and let them go forth in freedom.” Rudolf Steiner.




Periode kunjungan 22 Feb - 30 Maret 2016 setiap hari Senin jam 13.00 dan Rabu jam 10.00 serta hari Sabtu 26 Maret jam 10.00

Selasa, 05 Januari 2016

OPEN FOR REGISTRATION IN FEBRUARY 2016

In the first week of this new year of 2016 we officially want to share this good news

Semoga sekolah ini dapat menjadi cahaya penerang sekaligus angin penyejuk yang mengantarkan langkah-langkah kecil putra putri kita memasuki jagad luas di hadapan mereka


Bagi para orang tua yang tertarik, mohon kontak kami via email jagadalit.waldorfschool@gmail.com

Minggu, 25 Oktober 2015

Parenting Yoga

Menjaga Ketentraman Rumah Batin, Peneduh Bagi Sang Buah Hati
Pujiastuti Sindhu
24 Okt 2015

Seperti sebuah kolam, hati kita ada di dasarnya. Kita tidak pernah tahu ada apa di dalamnya karena bagian atas air tertutup kotoran-kotoran berupa pikiran yang selalu sibuk sehingga kita tidak bisa mengakses hati.
Menjaga ketentraman rumah batin artinya membuat fisik dan jiwa kita zero tension supaya air di dalam kolam itu menjadi bening.
Terimakasih untuk sharingnya Teteho...




Jumat, 23 Oktober 2015

Parenting yoga

Sometimes we as adult face the limit of our patience and it's quite hard to control our emotion. Daily light yoga exercise may help you to get more calm and relaxed in handling your children. Pujiastuti Sindhu from Yoga Leaf - Be Leaf Community will lead us and show you how to deal with your emotion when handling children. 


Rabu, 30 September 2015

Rundown Workshop

Demi kenyamanan dan kelancaran acara, maka kami membatasi jumlah peserta workshop dan saat ini target peserta hampir terpenuhi. Terimakasih untuk teman-teman yang telah mendaftar. Berikut adalah rundown acaranya.

The Senses as The Windows to Connection With The World
Workshop with Stephen Spitalny
October 3, 2015
09.00 - 15.00
Jagad Alit - Waldorf Playgroup & Kindergarten
Jl. Babakan Jeruk IIIB no 18 Bandung

Registration fee 300K
(snack and lunch included)

To register, please contact 
fani.funy@gmail.com cc jagadalit.waldorfschool@gmail.com
limited for 25 seats


Minggu, 13 September 2015

Perkembangan Indera Anak

Manusia tidak hanya memiliki 5 panca indera tetapi ada 12 indera yang berkembang sesuai dengan tahapan usianya Perkembangan indera peraba, indera kehidupan, indera gerak dan indera keseimbangan pada usia 0-7 tahun akan mempengaruhi perkembangan indera di tahapan usia selanjutnya.
The Senses as The Windows to Connection With The World
Workshop with Stephen Spitalny

September 19, 2015
09.00 - 15.00
Jagad Alit - Waldorf Playgroup & Kindergarten
Jl. Babakan Jeruk IIIB no 18 Bandung

Registration fee 300K
(snack and lunch included)

To register, please contact 
fani.funy@gmail.com cc jagadalit.waldorfschool@gmail.com
limited for 25 seats

Dear friends... Mr. Stephen Spitalny has come to Indonesia. But due to unpredictable.medical necessity on Mr. spitalny's part, unfortunately we have to postpone the workshop. most likely until Friday, 2nd Oct.
Please wait for further confirmation.
---
Teman-teman... Mr Stephen Spitalny sudah tiba di Indonesia. Tetapi diakibatkan ada kepentingan mendadak yang menyangkut kesehatan pihak Mr. Spitalny, dengan terpaksa, kami menunda workshop ini. Diperikirakan hingga Jumat, 2 Oktober. Mohon tunggu konfirmasi selanjutnya.





Kamis, 03 September 2015

Workshop - Parenting

Stephen Spitalny from http://chamakanda.com/
will give a workshop on September 19, 2015

"The Senses as the windows to connection with the world"



If you are interested, put your email address so we will give you details


Dear friends... Mr. Stephen Spitalny has come to Indonesia. But due to unpredictable.medical necessity on Mr. spitalny's part, unfortunately we have to postpone the workshop. most likely until Friday, 2nd Oct.
Please wait for further confirmation.
---
Teman-teman... Mr Stephen Spitalny sudah tiba di Indonesia. Tetapi diakibatkan ada kepentingan mendadak yang menyangkut kesehatan pihak Mr. Spitalny, dengan terpaksa, kami menunda workshop ini. Diperikirakan hingga Jumat, 2 Oktober. Mohon tunggu konfirmasi selanjutnya.


Jumat, 21 Agustus 2015

Finger knitting

Salah satu kegiatan yang dilakukan di Jagad Alit - Waldorf
Merajut dengan jari

Motorik halus
Koordinasi mata dan tangan
Fokus dan konsentrasi
Melatih kesabaran
Menghargai proses


Selasa, 26 Mei 2015

Wet on Wet Watercolour Painting

Working with wet watercolour paper, 
3 primary colours, and natural bristle brushes, 
the child spontaneously paints his own ideas.

Transparant and soft colour painting 
on the wet paper
let the child in their 
beautiful dreamy world 
to enhance their imagination


Senin, 24 November 2014

Craft Activity - Finger Knitting

 MERAJUT DENGAN MENGGUNAKAN JARI

Salah satu kegiatan pekerjaan tangan yang diajarkan di banyak lingkungan Waldorf ialah merajut dengan jari.  Sebuah rangkaian benang yang dirajut membentuk rantai tunggal yang sangat sederhana, dikerjakan hanya menggunakan tangan (jari-jemari). Anak-anak didorong untuk belajar hal ini pada usia taman kanak-kanak, karena diyakini ada hubungan yang erat antara gerakan jari, berbicara dan berpikir. Steiner mengatakan bahwa,  ‘Proses berpikir adalah proses “merajut” alam semesta menjadi satu kesatuan yang harmonis (cosmic) - seseorang yang tidak terampil dalam dalam menggunakan jari-jemarinya, tidak akan terampil dalam menggunakan kecerdasannya, kurang memiliki gagasan-gagasan dn pemikiran-pemikiran yang mengalir.’


Untuk membuat kegiatan ini lebih bermakna, guru akan merajut sambil bercerita. Gerakan jari, berbicara, dan berpikir akan terintegrasi. Banyak manfaat dari kegiatan ini termasuk membangunkan jemari anak-anak untuk memperkuat keterampilan motorik halus, koordinasi tangan-mata, kemampuan untuk memahami dan mengikuti proses dari konsep sampai dengan tahap penyelesaian, dan kemampuan untuk fokus dalam jangka waktu tertentu. Manfaat-manfaat  ini akan menjadi dasar untuk menulis dan membaca di kelas –kelas berikutnya.



Video tutorial

https://www.youtube.com/watch?v=VpFQSO2A8Dw



 FINGER KNITTING

One of the early handwork activities that is taught in many waldorf environments is finger knitting. A very simple, single chain of knitting that is done with only the hands. Children are encouraged to learn this when they are of kindergarten age, as it is believed there is a close relationship between finger movement, speech and thinking. Steiner's recently said 'thinking is cosmic knitting - a person who is unskillful in his fingers will also be unskillful in his intellect, having less mobile ideas and thoughts.'

To make this activity more valuable, the teacher will do the story telling while knitting. Finger movement, speech, and thinking will be integrated. Many benefits of this activity including wake up children's fingers to strengthen fine motor skills, hand-eye coordination, the ability to understand and follow a process from concept to completion, and the ability to focus for an extended period of time. These benefits will be a foundation for writing and reading in later grades



Kamis, 16 Oktober 2014

JAGAD ALIT - WALDORF SCHOOL

Jagad Alit – Waldorf School akan menjadi sebuah preschool yang mengadaptasi  konsep pendidikan Waldorf School dengan nilai-nilai budaya Indonesia dan budaya lokal daerah setempat.  Dasar dari konsep pendidikan Waldorf adalah pendidikan yang diberikan secara utuh dan menyeluruh terhadap tiga aspek/bagian dari manusia (three folds of human being), yaitu  kemauan/tindakan (willing), perasaan (feeling),  dan pemikiran (thinking), melalui tangan (hands), hati (heart), dan kepala (head). Pendidikan diberikan sesuai dengan tahapan perkembangan dari duabelas indera manusia, yaitu :

Tahapan 0 – 7th fokus pada Lower senses :  touch, life, movement, balance
Tahapan 7 – 14 th fokus pada Middle senses : sight, taste, smell, warmth
Tahapan 14 – 21th fokus pada Upper senses : hearing, word, thought, ego

Jagad Alit – Waldorf School memiliki filosofi bahwa ilmu pengetahuan, spiritual, dan seni adalah satu bagian yang terintegrasi karena seyogyanya ketiga hal tersebut tidak terbagi-bagi ke areanya masing-masing seperti yang terjadi saat ini.  Ilmu pengetahuan akan menjadi kreatif secara moral, seni menjadi sesuatu yang bersifat universal dan pengalaman spiritual menjadi sesuatu yang nyata dan aktual.



Konsep pendidikan yang kami bangun mencoba memfokuskan diri pada keunikan masing-masing anak, dimana keunikan ini akan saling mempengaruhi dan membantu satu sama lain secara positif. Selain itu seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi dewasa ini,  dimana esensi dan pemaknaan budaya dan kearifan lokal mulai terkikis, maka Jagad Alit –Waldorf School juga memperkenalkan esensi budaya lokal kepada anak agar tercipta kecintaan terhadap budayanya sendiri.  

Saat ini Jagad Alit sedang dalam tahap persiapan dan berencana akan memulai aktivitas preschool pada tahun ajaran baru 2015, bertempat di daerah Bandung Utara. Berbagai persiapan penyusunan materi, sarana, dan fasilitas penunjang sedang dilakukan. Selain itu, guna mensosialisasikan konsep pendidikan Waldorf, Jagad Alit aktif mengadakan dan menjadi nara sumber berbagai kegiatan parenting, seminar, dan workshop. 

Jagad Alit membuka pintu lebar-lebar bagi para orang tua yang menyadari bahwa pendidikan anak usia preschool bukanlah hanya berfokus pada aspek intelegensia semata. Jagad Alit dengan senang hati akan meluangkan waktu untuk berdiskusi secara langsung maupun melalui email jagadalit.waldorfschool@gmail.com

Marilah kita berikan kesempatan seluas mungkin bagi anak-anak kita untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kesiapan mereka secara alami. Marilah kita bangun sebuah lingkungan yang benar-benar berpihak kepada anak.

Salam hangat

Jagad Alit  - Waldorf School