Tampilkan postingan dengan label jagad alit waldorf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jagad alit waldorf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juli 2018

Usia Enam Tahun : Mereka Tampak Berbeda!



“Ga ada yang mau ngajak maen,” sambil terisak duduk menyendiri.

“Tadi itu aku kan yang ngomong...aku yang bikin!” menyuarakan bahwa itu adalah idenya.

“Bukan, namanya bukan itu, tau!.....Iya, tapi kan....” terus berusaha untuk berargumentasi.

Acap kali perkataan-perkataan yang senada seperti itu terdengar dari beberapa anak yang berusia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun. Disertai pula dengan pola permainan mereka yang tampak tidak tentu arah, cenderung rusuh dan heboh. Balok-balok kayu, ranting, batu-batu, papan kayu, ban bekas, pasir, bunga dan daun kering, yang tadinya seringkali mereka gunakan untuk membuat api unggun, perlengkapan halang rintang, kereta api, mobil, tampak kurang menarik perhatian mereka lagi. Peran sebagai petugas kebersihan, petugas pemadam kebakaran, pegawai bangunan, dan yang lainnya mulai jarang terdengar. Bukannya sama sekali tidak terlihat lagi, tetapi tampak berkurang intensitasnya. Mereka lebih senang berlarian kesana dan kemari, berkejar-kejaran menangkap salah seorang temannya sambil mengeluarkan suara-suara keras. Namun terkadang, anak-anak yang berada pada rentang usia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun ini tampak duduk termenung memperhatikan teman-temannya bermain. Seringkali  beberapa anak yang berusia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun ini tampak lebih emosional. Hal kecil dapat menjadi suatu masalah yang membuat mereka gusar, kesal, marah,  tersinggung (dalam Bahasa Sundanya, pundung), ataupun menangis.



Apa yang sedang tejadi dengan anak-anak ini? Jika kita memandangnya sebagai pola perkembangan willing, feeling, dan thinking yang dialami oleh anak-anak usia 0-7 tahun, maka mungkin kita akan menganggapnya sebagai bentuk dari mengalirnya will semata, dimana ada saatnya will ini perlu dimunculkan ke permukaan dan ada kalanya will ini perlu diarahkan ketika mengalir deras bagaikan aliran sungai yang tak terbendung. Namun seperti juga pada anak usia kisaran tiga tahun, pada anak usia kisaran enam tahun ini, sedang terjadi sesuatu yang ISTIMEWA. Mengetahui dan mengerti hal yang istimewa ini akan membantu kita memberikan respon yang mereka butuhkan.

PERKEMBANGAN FISIK, ETHERIC, ASTRAL, DAN EGO (FOUR-FOLD HUMAN BEING)
Proses kehadiran ego/”I” pada cycle tiga tahunan, dibarengi oleh rasa antipati dengan derajat yang berbeda-beda pada setiap individu. Antipati ini membantu seseorang untuk menemukan dunianya dan hadir di bumi ini sebagai seorang individu yang utuh. 

Sedangkan cycle enam tahunan menandakan waktu dimana etheric seseorang berproses memisahkan diri dari orang tuanya. Perasaan berpisah menyelimuti anak maupun orang tua. Kedua cycle ini menunjukkan pada kita bahwa pada usia 6, 12, dan 18 tahun terjadi proses kehadiran ego sekaligus pula keberpisahan etheric, sehingga ada waktu dimana anak merasa tidak ingin berpisah dengan orang tuanya dan ada waktu dimana anak ingin mengekspresikan kemandiriannya.  Pada anak yang berusia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun, suatu hari mereka tidak mau ditinggalkan orang tuanya ketika datang ke sekolah, namun di hari lain mereka meminta orang tuanya untuk cepat pergi setelah mengantarkannya ke sekolah. Dalam tingkatan yang berbeda pada proses ini, seorang anak berusia dua belas tahun tiba-tiba ingin dipeluk oleh orang tuanya, namun pada saat ia diantarkan ke sekolah, ia tidak mau orang tuanya berada dekat dengannya.  Proses bekerjanya kedua cycle ini pun berdampak pada perkembangan fisik anak. Pada anak yang berada di rentang usia 5,5 tahun hingga menjelang 7 tahun, etheric body anak berusaha untuk melakukan penetrasi ke dalam tubuhnya. Berusaha melepaskan diri dari keterikatan faktor keturunan untuk menjadikan tubuhnya menjadi tubuh miliknya. Anak seolah menggunakan seluruh kekuatannya untuk keperluan pertumbuhan fisiknya. Lengan, tungkai dan kaki menjadi lebih panjang.  Pergelangan tangan, pinggang, dan leher akan makin tampak bentuknya. Pada sebagian anak rentang usia ini, akan sering merasakan lapar dan nyeri pada kaki, sendi-sendi, bahkan perutnya sebagai dampak dari proses pertumbuhan fisik tersebut. Terjadi pula proses pergantian gigi susu oleh gigi tetap. Proses ini merupakan proses yang mendebarkan dan tak jarang menimbulkan rasa tidak nyaman. Sekarang bisa kita bayangkan begitu banyaknya proses yang terjadi pada anak kisaran usia enam tahun ini.  Sesuatu yang istimewa! Maka jangan heran jika hal ini kemudian menyebabkan mereka merasa tidak nyaman baik secara fisik maupun psikologis, moody, ataupun menunjukkan ekspresi emosi lain yang begitu ekspresif. Kadang terlihat pula anak menjadi kikuk ketika bergerak, menyebabkan segelas air yang dibawanya tumpah atau tiba-tiba menyenggol kursi hingga terjatuh ketika berjalan. 


PERKEMBANGAN WILLING, FEELING, THINKING (THREE-FOLD HUMAN BEING)


Sejalan dengan perkembangan fisik, etheric, astral, dan ego-nya, ketika anak berusia sampai dengan 5,5 tahun, mereka bermain dengan menggunakan apa-apa yang ada di sekitarnya. Ide permainan datang dari luar, dari apa yang ada di sekitarnya. Ketika mereka berusia 5,5 tahun, mereka terlihat mulai berusaha untuk memunculkan ide dari dalam diri mereka sendiri. Proses berpikir mereka yang masih imajinatif mencoba menciptakan skenario permainan dan kemudian mencari benda-benda yang dapat digunakan dalam skenario tersebut. Seringkali mereka meluangkan waktu lebih lama untuk merancang permainan ketimbang bermainnya. Proses memunculkan ide dari dalam diri mereka sendiripun terkadang membuat mereka terlihat berdiam diri, merenung, memperhatikan sekelilingnya. Tak jarang pula mereka berkata “bosen ah!” Hal ini juga  yang tampaknya menjadi penyebab mengapa acap kali mereka terlihat berlari-larian tak menentu.  Pada proses perkembangan ini, tentunya tidak terlepas pula mereka mencoba hal-hal yang baru, sekaligus melakukan eksperimen atau mengetes apakah hal tersebut boleh dilakukan atau tidak.




Keberpisahan etheric anak dengan orang tuanya, sekaligus pula perkembangan egonya menyebabkan anak pada rentang usia 5,5 sampai dengan 7 tahun ini merasakan kesendiriannya. Ada anak yang berkata “ga ada yang mau maen sama aku.”  Hal ini didukung pula oleh peralihan fokus perkembangan anak dari willing menuju feeling menjelang anak berusia tujuh tahun. Anak menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, menjadi lebih perasa. Rasa sedih ataupun kecewa yang terjadi hari ini mungkin akan berlanjut keesokan harinya. Seorang anak yang dikata-katai oleh temannya, keesokan harinya datang masih dengan wajah murung dan tidak mau bermain dengan temannya tersebut.

Keinginan anak untuk melakukan berbagai eksperimen dalam permainan, juga muncul dalam bentuk rasa ingin tahu mereka akan banyak hal. “Ini terbuat dari apa? Kalau yang ini dari apa?” Tak jarang proses mencari tahu ini menjadi sebuah proses argumentasi sebagai ekspresi dari seorang individu yang ingin menyatakan keberadaannya. “Bukan gitu caranya!....Iya aku juga tau!”......Itu tadi aku yang buat!” Anak akan segera mengetahui kesalahan yang diucapkan atau dilakukan orang tua, guru, ataupun temannya dan kemudian menyatakan apa yang menurutnya benar. Suatu hari seorang anak berusia enam tahun terlihat sedang memegang dan menggoyang-goyangkan gigi susunya yang hampir tanggal. Lalu seorang temannya yang juga berusia enam tahun berkata, “kata mamaku, gigi yang goyang nanti juga copot sendiri! Kalau giginya dicabut nanti pas tumbuh giginya jelek kaya kakek!” Kemudian anak yang mengoyang-goyangkan gigi itu berkata, “harus dibeginikan, itu mah orang tua kamu aja, aku ga mau punya orang tua kayak orang tua kamu!” Pada rentang usia 5,5 sampai dengan 7 tahun mulai muncul pula pembicaraan mengenai Tuhan. Sesuai dengan kapasitas berpikirnya pada rentang usia tersebut, mereka membicarakan hal mengenai surga dan neraka. Sebuah obrolan bernada argumentatif, suatu hari terdengar. Seorang anak mengucapkan kata Tuhan. Anak yang lain mengucapkan kata Allah. Kemudian seorang anak berusia enam tahun berkata, “Allah dan Tuhan itu sama tau!” Tingkah polah anak yang seperti ini disertai pula oleh willing, feeling, dan thinking mereka untuk menjadi seorang bos, seorang pemimpin. Suatu hari seorang anak berusia enam tahun menggunakan mahkota dan menggunakan kain untuk dijadikan jubah. Ia berkata, “aku yang jadi raja binatangnya,” saat ia sedang bermain dalam sebuah skenario kerajaan binatang. Di sela-sela permainan, ia menyuruh temannya untuk mengambil ini dan itu, melakukan apa yang ia suruh, layaknya seorang bos.

Bagaimana kita meresponnya?

Tanamkan empati dan pengertian yang mendalam pada diri kita. Katakan dalam hati dengan kesadaran penuh, “Saya tahu kamu sedang melalui proses transformasi. Saya menyayangi kamu dan hal-hal baru yang terjadi pada dirimu. Saya akan membantumu!”


Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita membantunya? Keberpisahan etheric anak dari orang tuanya yang kemudian berusaha menjadi tubuh miliknya sendiri, menimbulkan rasa tidak nyaman baik secara fisik maupun psikologis untuk melakukan suatu hal. Terjadi pula perkembangan proses kehadiran ego/”I” yang mengubah pandangan anak akan hubungan dirinya dengan apa yang ada di sekitarnya. Menimbulkan perubahan dalam perasaan dan proses berpikirnya. Maka sekali lagi tanamkan dalam benak kita  “Saya tahu kamu sedang melalui proses transformasi. Saya menyayangi kamu dan hal-hal baru yang terjadi pada dirimu. Saya akan membantumu!” Kita membantu anak dengan memberikan saluran untuk mengalirkan perubahan-perubahan ini. Kerjakanlah berbagai pekerjaan yang bermakna yang layak ditiru anak. Pekerjaan-pekerjaan ini akan memberikan gambaran-gambaran  baru bagi anak untuk dapat memunculkan ide dari dalam dirinya sendiri. Imajinasi yang sempat hilang, seolah datang kembali. Ide-ide baru inipun dapat muncul ketika anak terlihat berdiam diri memperhatikan teman-temannya bermain atau memperhatikan alam sekitarnya. Seolah ia sedang menambah pustaka imajinasinya. Proses imitasi pekerjaan-pekerjaan yang bermakna ini juga dapat mengalihkan perasaannya yang sedang tidak menentu. Ketika tangan bekerja, perlahan pikiran dan perasaan terarah kepada pekerjaan yang sedang dilakukan. Mencuci piring atau pakaian, menyapu dan mengepel, menggunting rumput, mengupas atau memotong buah dan sayur, menyetrika atau melipat pakaian-pakaian yang telah disetrika, menyapu halaman atau membuang sampah, bahkan menggergaji atau menghampelas kayu merupakan pekerjaan-pekerjaan sederhana yang dapat dilakukan anak. Namun rasa tidak nyaman baik secara fisik maupun psikologis, dapat membuat anak enggan untuk ikut melakukan apa yang kita kerjakan. Padahal ketika usianya belum beranjak 5 atau 6 tahun, ia sangat gemar ikut melakukan apa saja yang kita kerjakan. Jika hal ini terjadi, maka “manfaatkan” proses perkembangan kehadiran ego/”I. Kita bisa mengatakan “Ibu/Ayah tidak bisa ngerjain ini sendiri. Butuh bantuan. Sepertinya kamu bisa/sepertinya kamu kuat. Tolong bantu ya.” Perkataan seperti ini akan membuat anak merasa dirinya dibutuhkan. Merasa dirinya punya kemampuan lebih untuk melakukan sesuatu. Dan ketika anak sudah selesai membantu, jangan lupa katakan “terimakasih sudah membantu.” Tentunya dengan intonasi dan ekspresi yang benar-benar tulus berterimakasih.



Saluran apa lagi yang bisa kita berikan untuk membantu anak di usia ini? Tanggung jawab yang lebih besar yang sudah kita ukur bahwa mereka bisa melakukannya. Ya, mereka sangat senang saat diberi tanggung jawab yang lebih besar daripada sebelumnya. Membawa mangkuk saji berisi sup dari dapur ke ruang makan, mengangkat benda-benda yang berat (sesuai dengan takaran kemampuan fisiknya) seperti meja kecil saat merapikan ruangan, membantu menjaga adik (setelah kita yakin bahwa lingkungan sekitarnya aman), dan bentuk tanggung jawab lainnya. Di sekolah, kami melakukan hal-hal semacam ini. Anak-anak yang berusia 3-4 tahun biasanya memiliki rentang fokus yang lebih pendek. Termasuk ketika mendengarkan dongeng. Mereka akan menampakkan gerak-gerik yang menunjukkan kegelisahan. Kami berkata kepada anak yang berusia 5-6 tahun, “Tolong jaga temanmu ini ya.” Saat anak yang lebih kecil ini terlihat gelisah, anak yang berusia 5-6 tahun tersebut kemudian meletakkan tangannya di atas pangkuan teman kecilnya itu, seperti yang biasa kami lakukan untuk menenangkan anak tersebut. Dan mereka melakukannya dengan ekspresi wajah yang menampakkan keseriusan, seperti benar-benar sedang mengemban tugas yang sangat penting! Hal ini juga merupakan manfaat dari sebuah mixed-age class.



Seiring dengan perkembangan kehadiran ego/”I”, dan berkaitan dengan pemberian tanggung jawab yang lebih besar tersebut, maka ketika kita mendengar perkataan yang bernada “aku bisa dan kamu tidak bisa,” maka daripada kita mengatakan “ga apa-apa, dia kan masih kecil,” sebaiknya kita berkata, “hhhmmm, kalau gitu, bisakah kamu membantunya?” Perkataan semacam ini akan menghembuskan angin win-win solution. Tidak ada yang merasa “lebih” dan tidak ada yang merasa “kurang.”



Begitulah kira-kira apa yang bisa diceritakan, dimana kesemuanya ini dapat dilakukan jika kita mengerti apa yang sedang dialami anak. Bagaimana kita bisa mengerti? Dengan mempelajari dan memperhatikan tahap demi tahap perkembangan anak. Tidak ada waktu untuk melakukannya? Jika itu yang dirasakan, mungkin anak adalah prioritas kesekian dalam hidup kita.


Semoga berkenan. 

Senin, 25 Desember 2017

One day at Jagad Alit


Waktu bermain Senin, Selasa, Kamis, Jumat
Jam 08.00 - 11.00

Rhythm of the day
Outdoor free play
Tidy up
Circle time
Indoor free play
Tidy up
Snack time
Story time


Rabu, 06 Desember 2017

Pendaftaran Semester Baru


Kami membuka pendaftaran di semester baru ini. Semester baru akan dimulai tanggal 8 januari 2017. Info dan pendaftaran bisa menghubungi  
jagadalit.waldorfschool@gmail.com atau WA 087823152314


Minggu, 27 Maret 2016

Apa Yang Membedakan Kita

Setiap pendidikan memiliki tujuan yang baik. Setiap sekolah berusaha menyampaikan pendidikan ini dengan cara yang baik. Ketika hendak memilih yang terbaik, maka pilihlah yang paling sesuai dengan kebutuhan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya. 

Bagi anak usia pra sekolah, fokus perkembangan ada pada indera peraba, indera kehidupan, indera gerak, dan indera keseimbangan. Anak yang baru lahir hingga 7 tahun pertama kehidupannya dpt kita analogikan seperti seseorang yang baru saja membeli sepatu baru. Butuh waktu untuk mencoba sepatu tersebut hingga ia merasa nyaman dengan sepatu barunya. Ia akan mencoba mengenakan sepatu barunya, merasakan pas atau tidaknya sepatu tersebut, mencoba berjalan dengan sepatu barunya itu hingga ia yakin bahwa ia dapat bergerak dan berjalan mantap dengan sepatu barunya tersebut. 

Aktivitas keseharian di Jagad Alit bertujuan untuk menstimulasi keempat indera yang menjadi fokus perkembangan anak usia pra sekolah yang nantinya akan menjadi dasar bagi kemampuan akademis anak pada tahapan selanjutnya. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai hal ini, silakan berkunjung ke tempat kami.


Selasa, 03 November 2015

Playdate parents and children

Hari Minggu yang cerah, Jagad Alit kedatangan tamu dari mamahsbandung. Ibu-ibu muda yang cantik-cantik beserta anak-anaknya dan beberapa jg hadir bersama Ayahnya. Tema kegiatan kali ini adalah Bersahabat dengan Alam. Sekitar 27 orang anak bersama dengan orang tuanya mengikuti kegiatan yang dimulai dengan bernyanyi, bergerak mengikuti lagu dalam lingkaran. Morning circle adalah kegiatan yang biasa dilakukan di sekolah Waldorf untuk melatih motorik anak sekaligus jg menanamkan kecintaan anak terhadap bahasa, karena lagu, pusi dan cerita dibuat dengan bahasa yang indah. Anakpun dapat bersosialisasi melalui kegiatan ini. 

Pagi datang
Malam pulang
Terbit mentari
Slamat datang hari

Slamat pagi bumi
Slamat pagi matahari
Slamat pagi pepohonan
Dan bunga di taman


Kemudian anak-anak mengumpulkan bebagai bahan yang ada di sekitar area outdoor Jagad Alit. Daun, ranting, pinecone, bunga yang dikumpulkan, akan dijadikan anak-anak untuk membantu semut membuat rumahnya. Anak-anak beserta orang tuanya membuat karya dari tanah liat dan bahan-bahan yang telah dikumpulkan tadi. 

Sekawanan semut berjalan perlahan
Berputar putar mengelilingi taman
Mencari tempat bertandang
Sekawanan semut berjalan cepat
Berputar putar mengelilingi taman
Mencari teman berkawan




Kegiatan ini tentu saja dapat menstimulasi indera anak, mengembangkan kreativitas dan tentunya bonding antara orang tua dan anak. Selesai membuat karya, acara ditutup dengan dongeng. Anak-anak mendengarkan cerita tentang seekor semut yang ingin menjelajahi hutan tetapi sang semut terlalu kecil untuk dapat melakukannya. Sang jerapah datang dan meminjamkan sepatunya agar semut bisa melangkah lebar-lebar. Namun sepatu itu terlalu besar utk tubuh semut yg kecil. Bukan hanya kakinya yang masuk, tetapi seluruh tubuh semut terperangkap dalam sepatu. Maka datanglah sang gajah yang ternyata menjadi penolong bagi sang semut. 


Semoga kegiatannya menyenangkan ya!
Oya, di sekolah Waldorf, transisi antar kegiatan tidak dilakukan dengan instruksi, melainkan dengan nyanyian. Hal ini dimaksudkan agar setiap transisi berjalan selembut mungkin, tidak bersifat memerintah. Begitu anak mendengar syair yang dinyanyikan, mereka mengerti apa yang harus dilakukan. Apa yang mereka lakukan muncul dari dalam dirinya sendiri, tanpa paksaan. 

Mencuci tangan
Hilangkan kotoran
Telapak tangan
Kuku dan jari
Pun bersih kembali


Hari sudah siang
Hati tetap riang
Tiap ada datang
Pasti ada pulang
Dengan hati lapang
Esok kita jelang

IG : mamahs_bdg