Minggu, 04 Februari 2018

Dari sebuah taman bermain menuju bangku SD. Apa yang perlu disiapkan?


Jika mendengar ceritanya atau melihat sekilas kegiatan kami, apa yang kami lakukan di Jagad Alit Waldorf Play and Kinder, sangatlah simpel dan sederhana. Kadang mungkin tepikirkan, “Apa yang didapat anak-anak? Setiap hari sebagian besar waktunya di sekolah hanya bermain saja.” Kami melakukan kegiatan mulai jam 8 pagi hingga 11 siang. Diawali dengan bermain di luar selama satu jam. Setelah merapikan mainan dan cuci tangan, kami melakukan circle time (melakukan berbagai gerak yang disesuaikan dengan lagu yang kami nyanyikan atapun alur cerita pendek yang disampaikan oleh guru). Setelah itu kami masuk ke dalam ruangan dan bermain kembali selama hampir satu jam! Barulah kemudian kami menikmati snack bersama dan kegiatan setiap hari ditutup dengan dongeng. Tidak ada materi pelajaran yang diberikan secara eksplisit ataupun directly kepada anak-anak. Walaupun dalam kegiatan bermain, kami menyisipkan kegiatan berkebun, memotong dan menghaluskan kayu, menggambar, melukis, bermain benang ataupun beeswax modelling, namun kami tidak pernah memaksa anak untuk melakukanya. Tetapi setiap saat selalu ada anak yang ingin melakukan kegiatan-kegiatan itu ketika melihat kami menyiapkan atau melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Bermain bebs, ritme yang selalu sama setiap harinya dan kemauan yang muncul sendiri dari dalam diri anak, menjadi fondasi yang kuat bagi mereka untuk melangkah ke jenjang pendidikan sekolah dasar. 

PERKEMBANGAN FISIK



Kesiapan keempat indera dasar (menurut konsep pendidikan Waldorf) yaitu indera peraba, indera kehidupan, indera gerak, dan indera keseimbangan sangat dibutuhkan oleh anak agar mereka merasa nyaman dengan keberadaan tubuh mereka. Seringkali anak yang dideteksi memiliki Attention Deficit Dissorder (ADD) adalah anak yang belum siap dalam hal indera gerak dan keseimbangannya. Mereka tidak dapat duduk tenang dalam rentang waktu tertentu. Bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang, berusaha mencari titik nyaman dan berusaha untuk memposisikan tubuh pada titik keseimbangan. Jika anak sibuk mencari kenyamanan dan titik keseimbangannya, maka daya kehidupannya (life forces) akan terfokus untuk hal itu sehingga hanya sedikit daya kehidupan yang tersisa untuk berpikir/belajar. Anak ini kemudian kita duga sebagai anak yang tidak bisa fokus, tidak bisa konsentrasi, tidak suka terhadap suatu hal tertentu, tidak bisa diam, hyperaktif, dan lainnya yang senada dengan itu.  Bermain bebas adalah sebaik-baiknya yang dapat dilakukan anak untuk mempersiapkan keempat indera dasarnya. Duduk manis di depan TV/layar komputer/gadget adalah seburuk-buruknya aktivitas yang akan menghambat kesiapan keempat indera dasarnya. Oleh karena itu bermain bebas merupakan porsi terbesar yang dilakukan anak-anak di Jagad Alit. Berlari, melompat, memanjat pohon, bermain jungkat-jungkit, memanjat tangga gantung, berjalan di balok titian, bermain pasir, bermain lompat tali, membawa dahan pohon dan boks-boks kayu, mengangkat meja dan kursi-kursi untuk dijadikan suatu bentuk permainan, menggelindingkan ban bekas, dan masih banyak lagi, adalah semua yang mereka lakukan saat bermain untuk mengembangkan indera peraba, kehidupan, gerak dan keseimbangan. 


TENANG DAN FOKUS



Kegiatan belajar di jenjang sekolah dasar tentunya membutuhkan ketenangan dan fokus. Oleh karena itu di Jagad Alit, pada waktu-waktu tertentu, kami memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat menikmati suasana yang menenangkan dan fokus pada apa yang sedang dilakukan. Mendengarkan dongeng adalah kesempatan terbaik untuk mendapatkan kedua hal ini. Diawali dengan nyanyian yang menenangkan ataupun guru yang memainkan alat musik tertentu (biasanya guru memainkan lyre), untuk mengajak anak masuk ke dalam momen yang tenang dan hening. Masuk ke dalam dunia keajaiban sebuah dongeng. Melukis adalah kegiatan lain yang mengedepankan ketenangan dan fokus, bukan pada bentuk yang menjadi objek lukisan anak-anak. Warna yang mengalir indah dari sapuan kuas mereka, sangat mendukung terciptanya suasana yang menenangkan. Sebelum menikmati snack, guru selalu mengucapkan ungkapan rasa syukur dalam bentuk bait-bait kalimat indah yang cukup panjang. Anak-anak diam menunggu hingga selesai, baru mereka mulai makan. Tentu saja “interupsi” selalu ada. Anak yang mengobrol, tertawa, bergerak tidak tenang, teralihkan perhatiannya saat momen hening. Inilah kesempatan bagi mereka untuk belajar. Untuk melatih diri agar dapat tenang dan fokus saat belajar di bangku sekolah dasar nanti. 


RENTANG PERHATIAN (ATTENTION SPAN)

Begitu memasuki jenjang sekolah dasar, mau tidak mau, anak-anak membutuhkan rentang perhatian yang lebih panjang dalam mengerjakan kegiatan tertentu. Mulai dari mendengarkan penjelasan guru, membaca, menulis, menggambar, memainkan alat musik, dll. Mengikuti circle time dan mendengarkan dongeng akan melatih mereka untuk dapat memiliki rentang perhatian yang cukup panjang secara bertahap. Ketika circle time, kami berkumpul dalam sebuah lingkaran. Guru bernyanyi, melakukan gerakan-gerakan, menyampaikan rangkaian kalimat demi kalimat dalam sebuah cerita ataupun puisi. Anak-anak mendengarkan sambil mengikuti gerakan guru. Hal ini dilakukan secara bertahap. Mulai dari 5-10 menit dan kemudian kami memberikan circle time yang lebih panjang lagi. Begitu pula dengan dongeng. Mulai dari dongeng yang pendek dan kemudian bulan-bulan berikutnya kami ganti dengan dongeng baru yang durasinya lebih panjang. Bukan hanya melalui circle time dan dongeng, tetapi juga ketika bermain dan membereskan mainan. Kami memberikan kesempatan yang cukup panjang kepada anak-anak untuk bermain. Untuk anak-anak usia tertentu, mereka membutuhkan waktu untuk merancang permainan, menentukan peran, bernegosiasi ini dan itu sebelum masuk ke dalam permainan yang sebenarnya. Ketika membereskan mainan, kami memberikan waktu kepada mereka hingga semua mainan kembali ke tempatnya semula. Merekapun melipat kain-kain, merapikan tali-tali dengan cara membuat bentuk melingkar dari ujung tali yang satu hingga ujung yang lain. 

MENCINTAI SUATU KEGIATAN/PEKERJAAN


Idealnya seorang anak pergi ke sekolah dengan suka cita. Bahkan ketika liburan, ada anak yang bertanya, “kapan sekolah lagi?” Idealnya seorang anak selalu menantikan saatnya bertemu teman-temannya, menantikan saatnya guru menceritakan materi pelajaran, menantikan saatnya menemukan hal-hal baru dari buku pelajarannya. Sampai dengan usia 7 tahun, anak belajar melalui proses imitasi. Bukan saja meniru perkataan ataupun perbuatan. Bukan hanya meniru apa yang didengar atau dilihat dari sekelilingnya, tetapi juga meniru perasaan. Ekspresi wajah, intonasi suara, dan hal lain yang tidak terlihat atau terdengar secara eksplisit, dapat dirasakan oleh anak. Oleh karena itu kami selalu berusaha melakukan segala sesuatu dengan rasa senang di hati. Menyapu, membereskan mainan, memasak dan menyiapkan snack, menjahit, merajut, berkebun, memotong kayu dan segudang pekerjaan bermakna lainnya selalu kami lakukan dengan rasa senang dan bahagia. Kadang tersenyum, kadang pula sambil bersenandung atau bernyanyi. Semua pekerjaan jadi tampak tidak berat dan bukan merupakan suatu beban. Bukan pula suatu kewajiban atau hanya sekedar melakukan sesuatu yang harus dilakukan. Anak melihat, mendengar, merasakan dan MENIRU. Meniru kami melakukan pekerjaan dengan rasa senang di hati. Benih dari kecintaan dalam melakukan suatu kegiatan, termasuk belajar. 


RASA INGIN TAHU

Merupakan cikal bakal dari kreativitas dan inovasi. Menghasilkan solusi yang baru. Ketika anak bertanya mengenai sesuatu hal, kami tidak selalu meresponnya dengan jawaban. Kami akan berkata, “Hhhmmmmhhh apa ya kira-kira?” Atau, “Wah, gimana ya caranya?” Atau, “Wow ko bisa seperti itu ya?” Daaannn...tak perlu menunggu lama, anak akan mengutarakan idenya, gagasannya, pendapatnya. Seringkali apa yang mereka ungkapkan adalah sesuatu hal yang tidak terlintas di benak kita. Sesuatu yang baru yang berawal dari imajinasi mereka. Cikal bakal kreativitas dan inovasi kelak. 

Begitulah kira-kira apa yang dapat kami berikan untuk membantu anak-anak menyiapkan dirinya memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar. Lalu apakah kita masih perlu bertanya, “gimana nanti kalau anak saya masuk SD? Apakah di TK ini diajarkan membaca dan menulis atau tidak?”  Juga jangan membayangkan sebuah SD Waldorf adalah sebuah “bangku sekolah” karena apa yang diberikan tidak melulu terpatok pada anak harus duduk manis mendengarkan guru, menulis dan membaca. Pernah mendengar sebuah sekolah dimana buku-buku pelajaran dibuat sendiri oleh anak-anaknya? Pernah mendengar sebuah sekolah yang memberikan kegiatan merajut? Pernah mendengar sebuah sekolah yang mengajarkan operasi matematis dengan menggunakan dongeng? Dan hal-hal “aneh” lainnya? Mungkin pernah. Dan salah satunya adalah SD Waldorf. Apakah ada di Indonesia? Sedang kami bangun. Kami sudah bermimpi. Dan sekarang saatnya bangun dan mewujudkan mimpi itu. 
Tahun 2019. 
Sebuah impian akan terwujud. 





Sabtu, 20 Januari 2018

Dunia Ini Baik!



Dalam situasi sekarang ini dimana banyak peristiwa yang tidak mengenakan terjadi di sekeliling kita, merupakan tantangan tersendiri untuk merasakan bahwa dunia ini baik. Konflik, peperangan, bencana alam, kecelakaan, pembunuhan, korupsi, dan banyak peristiwa menyedihkan lain yang kita saksikan sendiri ataupun kita lihat di media elektronik, yang kita alami sendiri ataupun yang dialami orang lain membuat kita mungkin merasa khawatir akan masa depan dunia ini. 

Di suatu pagi saat sinar mentari mencoba menyelinap memberi kehangatan di sela-sela desiran angin dingin, terdengar suara kecil menyapa, “Bu Kenny...Bu Kenny tau ga BEJ ambruk?” Agak terkejut mendengarnya dan saya hanya menjawab seadanya, “oiya...tau.” Kemudian suara kecil itu beralih kepada makhluk-makhluk kecil di smapingnya, “ambruknya begini lo...” ia mempergakan dengan tangannya sambil mengeluarkan suara bagaimana ambruknya gedung tersebut. Iapun berkata, “ambruknya itu karena ada penumpukkan orang!” Saya mencuri-curi dengar dan tergoda untuk bertanya, “tau dari mana?” Iapun menjawab, “dari berita.”

Susan Weber, seorang yang banyak berkiprah dalam dunia pendidikan Waldorf, mengatakan dalam sebuah tulisannya, “For the child just beginning life, there is one single mantra that needs to guide those early steps and years: the world is good. Nothing brings stamina for life and daily well being to our children more directly and strongly than surrounding them and immersing them into an atmosphere of goodness and joy.”

Seorang bayi menikmati kehidupannya dalam rahim sang ibu yang begitu aman, nyaman, dan hangat, dan kemudian mereka hadir di sebuah dunia yang baru yang begitu asing bagi mereka. Apa yang kita rasakan ketika kita harus pindah rumah, pindah tempat kerja, pindah kota, pindah ke lingkungan yang baru? Saya berani mengatakan bahwa pasti sedikit banyaknya akan ada rasa khawatir, atau rasa takut, bertanya-tanya seperti apakah tempat yang baru itu, apakah tempat yang baru itu akan emmberikan keamanan, kenyamanan dan kehangatan? Dan ketika ada tetangga, teman kerja, ataupun keluarga yang menceritakan hal-hal buruk mengenai tempat yang baru tersebut, maka kita akan berpikir kembali untuk memutuskan apakah jadi pindah atau tidak, kita akan menjalani kehidupan di tempat yang baru dengan perasaan was-was, atau malah kita akan memutuskan untuk kembali ke tempat yang lama. 

Anak-anak memiliki organ-organ pengindera yang sangat luar biasa. Mereka mengamati dan menyerap apa yang mereka lihat, dengar, bahkan mereka rasakan. Mereka begitu terbuka. Tetapi mereka belum bisa menginterpretasikan apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Mereka baru saja hadir di dunia yang serba asing ini. Tujuh tahun bahkan empat belas tahun kehidupan mereka di dunia ini merupakan waktu yang terlalu singkat bagi mereka untuk dapat mengerti dan menerima hal-hal buruk yang ada di dunia ini. Pesan yang mereka cari dari kita adalah, “saya bahagia hidup di dunia yang baru ini. Dunia yang baru ini begitu menyenangkan dan saya ingin tinggal di dalamnya.” Merekapun membutuhkan sebuah kepercayaan yang akan meyakinkan mereka bahwa dunia ini baik adanya dan oleh karena itu saya ingin memasukinya, saya ingin tahu, saya ingin melihatnya, saya ingin menyentuhnya, saya ingin mengeksplorasi, saya ingin menemukan hal-hal yang baru dan baru lagi. Saya ingin ingin merasakan semua yang ada di dalamnya dengan segala kepercayaan diri saya terhadap dunia yang baik dan indah ini. Jika pesan yang mereka dapatkan adalah ketidakbaikkan dari dunia ini, maka bisa dibayangkan bahwa mereka akan “kembali masuk” ke dalam dirinya sendiri, menutup diri, merasa khawatir, takut, tidak percaya diri, takut mencoba hal-hal baru. Binar-binar di matanya akan meredup. Bagaimana mereka bisa percaya diri, tertarik dan mau mencoba hal-hal baru, jika mereka merasa dunia ini tidak aman?


“We owe to them their birthright: the world is good and I am grateful and happy to be in it. It is a safe place for me to grow in. And later, much later, I will be able to take on its pain and burdens. But give me time, peace, and space in which to discover the goodness in life for myself, in which to grow strong, capable, brave, and enthusiastic for life. Protect me from the challenges of adulthood until I am ready.” Ada waktunya...ada waktunya mereka akan dapat mengerti dan menerima apa yang tidak mengenakkan di dunia ini. Ketika mereka sudah siap, ketika sudah tumbuh kepercayaan dalam diri mereka bahwa dunia ini baik dan indah. 

Jauhkanlah berita-berita buruk dari kehidupan mereka baik dalam obrolan sehari-hari maupun dari media lain yang dapat dijangkau anak-anak. Sebagai orang tua, tumbuhkanlah sense of wonder, sekecil apapun, dalam diri kita dari apa saja yang kita lihat, dengar dan rasakan. Lihatlah sekeliling kita. Rerumputan yang basah oleh air hujan, embun di pagi hari, bunga yang tumbuh bersemi, kupu-kupu yang beterbangan kesana dan kemari. Dengarkanlah desiran angin, suara air hujan, kicau burung di pagi hari. Rasakan hangatnya mentari. Nikmati sinar bulan dan bintang di malam hari. Yang seperti itu akan mengingatkan kita pada “keajaiban” dan betapa menakjubkannya dunia ini. Temukan puisi-puisi yang indah. Senandungkan lagu-lagu yang menenangkan.  And see if, step by tiny step, you can rediscover, in difficult times, that the world truly is good.

Steadfast I stand in the world
With certainty I tread the path of life
Love I cherish in the core of my being
Hope I carry into every deed
Confidence I imprint upon my thinking.
These five lead me to my goal
These five give me my existence.
-Rudolf Steiner-

Sabtu, 30 Desember 2017

"Mengajarkan" Rasa Bersyukur pada Anak

Bukan hafalan doa yang kami berikan. Bukan pula nasihat. Bukan juga penjelasan panjang lebar, ataupun sebuah suruhan, melainkan ungkapan rasa syukur yang kami ucapkan sebelum menikmati makanan yang tersaji di meja makan.


Tanah tempat biji tumbuh
Matahari beri kehangatan
Hujan yang memberi kesejukan
Hingga tumbuh daun dan buah
Tangan kanan dan tangan kiri yang mengolah
Hingga tersaji makanan sehat
Membuatku tumbuh tinggi kuat
Kumakan makanan yang baik
Kuberkata perkataan yang baik
Terimakasih pada kalian
Terimakasih pada Pencipta


Waktu makan adalah waktu dimana anak-anak menyambut apa yang tersaji di meja makan dengan senyuman. Bersyukur akan apa yang tersaji dan menikmatinya dalam kehangatan.

Kami menggunakan sebisa mungkin apa yang tumbuh di sekitar kami. Kami memberi kesempatan pada anak untuk ikut memasak. Mereka akan mengetahui darimana dan bagaimana makanan dapat tersaji.

Saat circle time dan story time, kami memasukkan cerita, lagu, dan kata-kata berima yang menggambarkan keindahan alam. Sebelum makan, kami memberikan kata-kata yang menggambarkan bagaimana tanah, hujan, dan matahari memberikan perannya sehingga tumbuh daun dan buah. Tumbuh rasa kagum akan kebesaran alam semesta yang akan menjadi fondasi akan rasa syukur kepada Pencipta.

Anak-anak menunggu hingga semua teman-temannya mendapatkan makanan yang tersaji. Anak-anak menunggu hingga guru selesai mengucapkan kata-kata syukur. Delayed gratification adalah kemampuan untuk menahan diri/menunda kepuasan. Sebuah eksperimen yang dikenal dengan Marshmallow test menghasilkan kesimpulan bahwa ketika dewasa, anak-anak akan memiliki daya konsentrasi dan logika yang tinggi, mampu berada di bawah tekanan, dan akan lebih tenang ketika "terlatih" untuk menunda suatu kesenangan.

Tulisan menarik tentang delayed gratification http://mommiesdaily.com/2013/05/16/%E2%80%9Ctunggu-dulu%E2%80%9D%E2%80%94manfaat-menahan-diri/


Senin, 25 Desember 2017

Free Trial

Free Trial for 3-6yo
Jan 5, 2018
08.00 - 10.00

Info : jagadalit.waldorfschool@gmail.com
WA 087823152314


One day at Jagad Alit


Waktu bermain Senin, Selasa, Kamis, Jumat
Jam 08.00 - 11.00

Rhythm of the day
Outdoor free play
Tidy up
Circle time
Indoor free play
Tidy up
Snack time
Story time


Rabu, 06 Desember 2017

Pendaftaran Semester Baru


Kami membuka pendaftaran di semester baru ini. Semester baru akan dimulai tanggal 8 januari 2017. Info dan pendaftaran bisa menghubungi  
jagadalit.waldorfschool@gmail.com atau WA 087823152314


Selasa, 17 Oktober 2017

WALDORF GRADE SCHOOL TEACHER TRAINING




WALDORF GRADE SCHOOL TEACHER TRAINING5 SEMESTERS PART TIME

Waldorf Grade School Teacher Training adalah pelatihan yang ditujukan kepada para orang tua, guru, pemerhati pendidikan dan pihak-pihak lain yang terkait dengan tumbuh kembang dan pendidikan anak. Training ini diberikan dalam bentuk part-time selama tiga tahun (lima semester). Setiap tahun terdiri dari dua semester, yaitu sekitar bulan Oktober dan April. Masing-masing pertemuan akan berlangsung selama sekitar 8-11 hari.
SEMESTER PERTAMA
WAKTU : 13 November- 25 November 2017
TEMPAT : Eco Camp Bandung, Jl. Pakar Barat (Dago) no.3
MAIN LECTURER : Horst Hellmann. 

Seorang guru dan trainer yang sudah berpengalaman membantu mendirikan sekolah Waldorf di beberapa negara Asia (Filipina, Thailand, Taiwan, Singapura), Australia dan juga di negara asalnya Berlin, Jerman. Ia juga mendesain Waldorf teacher training di Filipina semenjak tahun 2004 dan sudah berjalan lebih dari 10 tahun. Ia juga pernah memberikan public talk pada tahun 2016 di Bandung dan Bali.


MATERI TRAINING SEMESTER PERTAMA 
Keseluruhan training yang akan diberikan meliputi dua tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu usia 0-7 tahun dan 7-14 tahun. Kedua tahapan ini tentulah akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan anak di tahapan selanjutnya yaitu 14-21 tahun.
Pendidikan Waldorf merupakan pendidikan yang menyeluruh, bukan hanya menekankan pada aspek intelegensia saja (thiingking), tetapi juga menekankan pada aspek willing (usia 0-7 tahun) dan feeling (7-14 tahun).

Pada tujuh tahun pertama kehidupannya, anak belajar melalui apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan dari proses imitasi orang-orang di sekitarnya. Anakpun belajar dari apa yang ia alami sendiri. Empat indera dasar yaitu sense of touch, life, balance, dan movement akan menjadi dasar bagi perkembangan delapan indera lainnya.

Pada pendidikan Waldorf, science, arts, dan spiritual merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. “Children live in the harmony of science, arts, and spiritual.” Oleh karena itu banyak materi yang diberikan dengan bantuan media seni seperti : water color painting, crayon drawing, bees wax/clay modelling, knitting, recorder playing, singing, outdoor games, speech and drama, nursery rhymes,storytelling, dan eurythmy. Rhythm, repetition, dan reverence akan mengantarkan anak dalam proses pembelajarannya.

Berdasarkan gambaran singkat tersebut, maka pada semester pertama ini, materi akan melingkupi :

INTRODUCTION/ FUNDAMENTALS OF WALDORF EDUCATION : 
• 12 senses, 3fold and 4fold human being, and 9 fold human being
• Inner development of teacher and Self-transformation 
• Rhythms of the day, week, month, year
• Overview of child development in 7-year-rhythms
• Importance of the first 7 years
• The 4 lower senses
• Nutrition
• Play and games
• Media, as a problem
• Story telling in Kindergarten
• Childhood diseases

Para peserta juga akan juga akan diajak untuk melukis menggunakan cat air dengan teknik wet on wet, menggambar dengan menggunakan block crayon, clay modelling, dan memainkan recorder.


Info dan pendaftaran : bdgwaldorf.gstt@gmail.com