Kamis, 15 Maret 2018

Kreatif Mendampingi Anak tanpa Screen Time



Screen time = waktu yg digunakan bersama dg layar monitor yg sedang menyala Termasuk layar monitor sebagai background, yaitu saat monitor tetap menyala meskipun tidak ada yang menonton. TV, hp, ipad, acara tv, youtube, game (plant vs zombie, angry bird,dll), film (dora, sesame street, barney, baby einstein, pj masks, sponge bob, upin ipin, toy story, frozen, dll), media sosial (fb, ig, dll), skype, facetime, video call. Semua adalah hal-hal yg berkaitan dg screen time.

Asosiasi dokter anak di Amerika mengatakan no screen time for children under 2
Alasan org tua memberikan screen time :
- Always entertain  children. Kegitan apa lagi ya? Khawatir anaknya bosan.
- Memberikan educational program
- Melatih bicara
- Baby sitting
- Pacifier

PENDIDIKAN WALDORF

Saya akan mencoba menceritakan dulu pengaruh screen time thd anak melalui konsep pendidikan waldorf. Kenapa? Karena pendidikan waldorf bisa dikatakan sebuah konsep pendidikan yang menggunakan pendekatan holistik/menyeluruh.

Kenapa bisa dikatakan holistik? Karena pendidikan diberikan bukan hanya melalui kepala (aspek intelegensia) tetapi jg melalui tangan dan hati.

Kenapa bisa dikatakan holistik? Karena tangan, hati dan kepala dapat “digerakkan” melalui stimulus-stimulus yg dialami anak pada 12 inderanya. 12 bukan hanya 5.



0-7th. TANGAN – melalui indera touch, life, movement, balance – mengenal diri sendiri

7-14th. HATI – melalui indera sight, taste, smell, warmth – mengenal lingkungannya

14-21th. KEPALA – melalui indera hearing, word, thought, ego – mengenal orang lain

Kenapa bisa dikatakan holistik? Karena proses pembelajaran melalui tangan, melalui indera touch, life, movement, balance akan menumbuhkan WILL. Proses pembelajaran melalui hati, melalui sight, taste, smell, warmth akan menumbuhkan FEELING. Proses belajar melalui kepala, melalui indera hearing, word, thought dan ego akan menumbuhkan THINKING. 

Anak  : mencoba/melakukan sesuatu dulu (melalui proses imitasi), kemudian merasakan senang/tdk, kemudian proses berpikir. Misal saat melukis, anak ingin melukis juga saat melihat guru melukis, kemudian terlihat mereka menikmati momen, dan baru kemudian ada anak yang berkata “liat jadi orange!” saat cat berwarna merah dan kuning mengalir di atas kertas. 

Org dewasa : berpikir dulu (bisa/engga, manfaatnya apa, kalau begini bagaimana, kalau begitu bagaimana), mencoba/melakukan, baru kemudian merasakan. Misal saat melukis,  orang dewasa akan berpikir dahulu mau ngelukis apa, lalu mencoba, dan kemudian merasakan apakah melukis itu menyenangkan atau tidak. Atau bisa juga berpikir dulu, merasakan, baru kemudian mencoba. Contoh, ketika datang ke acara ini dan saya bilang dampak negatif screen time. Kita tidak akan langsung melakukan sesuatu untuk meminimalkan screen time tetapi pasti ingin tahu dahulu apa dampaknya? Kenapa? Bagaimana caranya meminimalkan screen time? 

Saya akan fokus pada perkembangan indera usia 0-7 tahun

TOUCH
Indera yang memberi tanda keberadaan diri kita. Coba raba pipi, tangan, kaki. 

Indera yang memberi tanda keberadaan benda-benda lain di luar diri kita. Coba raba karpet, pegang tangan orang di samping kita. 

Kita menjadi tahu batas antara diri kita dan apa yang ada diluar kita. Kalau kita tidak tahu batasnya, maka kita akan membentur sesuatu saat berjalan atau kita akan memukul teman, padahal maksudnya mau menyapa. Kalau kita memejamkan mata, lalu berjalan, apa yg kita lakukan? Kalau kita tidak dapat meraba, kita menjadi waswas, merasa tidak aman dan merasa tidak percaya untuk melangkah atau utk melakukan sesuatu. 

Stimulasi : eksplorasi anggota tubuh kita (bayi memainkan jari-jarinya), eksplorasi segala yang ada di sekeliling, sentuhan, pelukkan


LIFE
Indera yang memberi tanda sehat/tidak, nyaman/tidaknya tubuh kita. 

Stimulasi : ritme yang sehat (breathing in-out). Ada saatnya tidur dan ada saatnya bangun. Ada saatnya melakukan kegiatan yang fokus ke dalam diri dan ada saatnya melakukan kegiatan yang berorientasi keluar diri. Ada saatnya melakukan kegiatan yang santai atau tenang dan ada saatnya melakukan kegiatan yang mengeluarkan energi. Merasakan sakit ketika kondisi tubuh tdk fit atau ketika jatuh

MOVEMENT
Indera yang memberi tanda keberadaan anggota tubuh kita melalui gerakkan otot dan sendi-sendi. Kita tahu dimana harus menempatkan tubuh kita. Kita menjadi terampil dalam melakukan gerakkan. Misal anak naik tangga. Setelah sekian kali trial and error, anak menjadi terampil menempatkan kaki dan tangannya.

Stimulasi : Eksplorasi berbagai  gerak. Imitasi gerakan tubuh, bukan hanya fisik tetapi juga gesture, ekspresi, feeling. 

BALANCE
Indera yang memberi tanda bahwa kita dapat “mengalahkan” gravitasi. Koordinasi antara bagian tubuh yg kiri dengan yg kanan. 

Stimulasi : Eksplorasi gerak. imitasi gerakan tubuh, menikmati momen diam dan tenang



PENGARUH SCREEN TIME (nonton TV, youtube, game, acara edukatif, hp, ipad, komp,dll) TERHADAP INDERA

Semakin intens screen time, semakin besar kecenderungan gangguan terhadap indera :
TOUCH
Waktu untuk mengeksplorasi sekeliling termasuk bermain diluar untuk mendapatkan stimulasi alami dari alam spt rumput, tanah, daun, bunga, embun di pagi hari, air, batu, dll berkurang. 
Waktu untuk berinteraksi dengan orang lain melalui sentuhan, berpegangan tangan, pelukkan, dll berkurang
Jika terjadi hambatan sense of touch, maka kemungkinan akan mengalami :
TACTILE DEFENSIVE  kurang interaksi fisik dengan lingkungan sekitar menyebabkan anak menjadi waswas, khawatir, ragu-ragu, tidak percaya terhadap lingkungan, tidak percaya diri dlalam melakukan sesuatu  akan berdampak pada perkembangan indera ego/I/keberadaan dirinya/eksistensi dirinya/perkembangan jati dirinya saat anak memasuki periode usia 14-21 tahun  SENSE OF EGO

LIFE
Overstimulation. Tampilan yg begitu “kaya” akan stimulasi sensori membuat anak kewalahan
Blue light adalah spektrum warna yang memiliki panjang gelombang terpendek sebelum ultra violet. Makin pendek panjang gelombang, makin tinggi energi yg terkandung di dlmnya, sehingga blue light menjadi lebih mudah berpendar dibanding warna yg lain. Menyebabkan digital eye strain, menghambat produksi hormon melatonin sehingga anak sulit tidur. Ketika kita memberikan screen time pada anak sebelum tidur, maka kadar hormon melatonin akan menurun hingga 23 persen. Anak menjadi sulit tidur.  Apa yg terjadi dg anak yg kurang tidur? Sedangkan pada siang hari, blue light akan membuat anak terlalu waspada karena rendahnya melatonin. Ditambah lagi dengan efek overstimulation. Maka anak akan terlalu terjaga, terlalu waspada, overwhelmed/kewalahan. Ditambah lagi jika anak kurang mendapatkan stimulasi pada indera perabanya, maka anak akan terlalu terjaga, terlalu waspada, overwhelmed/kewalahan, merasa was was, khawatir, merasa tidak aman, tdk percaya pada lingkungan sekitarnya, tidak percaya pada dirinya sendiri  kondisi yg mengindikasikan ADD/ADHD.
WELL BEING TERGANGGU   jika kondisi tubuh kita tidak sehat maka energi (life forces/etheric forces) akan terpusat untuk memperbaiki kondisi tubuh, sehingga kita menjadi sulit untuk berpikir, sulit untuk konsenstrasi. Pernahkan ketika kita sakit, lalu kita diminta untuk memikirkan sesuatu?  akan berdampak pada SENSE OF THOUGHT saat anak memasuki periode usia 14-21 tahun. Lebih jauh lagi adalah jika sense of thought terganggu, maka kitapun sulit untuk menerima pemikiran orang lain.  

MOVEMENT 
Waktu untuk mengeksplorasi sekeliling termasuk bermain diluar untuk mendapatkan stimulasi ataupun melakukan berbagai gerak dan keseimbangan (berjalan, berlari, memanjat, melompat, dll) berkurang.
Imitasi gerak tubuh yg alami sbg manusia, termasuk gesture, ekspresi, feeling tdk dpt diperoleh dari apa yang dilihat di TV. 
ORIENTASI SPASIAL TERGANGGU.  KEMERDEKAAN UNTUK BERGERAK TERGANGGU  kendala dalam berbicara, karena berbicara bukan sekedar mengeluarkan suara tetapi mengeluarkan kata bermakna sekaligus juga mengekspresikannya melalui body language.  akan berdampak pada SENSE OF WORD saat anak memasuki periode usia 14-21 tahun.

Peneliti senior dr Catherine Birken dari Hospital for Sick Children mengatakan paparan gadget bisa membuat bayi telat berbicara. Hal ini terbukti setelah memeriksa data dari 900 bayi. Di mana setiap 30 menit pemakaian gadget bersiko terjadinya hambatan bahasa ekspresif bertambah menjadi 49%.
Anak tdk dpt mengekspresikan kata-kata melalui facial expresion dan body language, maka iapun tdk mengerti non verbal communication yg diberikan oleh orang lain  kendala dalam empati  kendala dlm bersosialisasi. 

BALANCE
Waktu untuk mengeksplorasi sekeliling termasuk bermain diluar untuk mendapatkan stimulasi ataupun melakukan berbagai gerak dan keseimbangan (berjalan, berlari, memanjat, melompat, dll) berkurang.
Imitasi gerak tubuh yg alami sbg manusia, termasuk gesture, ekspresi, feeling tdk dpt diperoleh dari apa yang dilihat di TV. 
Situasi diam, tenang, hening tdk dialami anak saat menonton TV ataupun aktvitas gadget lainnya

FOKUS TERGANGGU karena anak tidak dapat diam dan tenang pada satu posisi pada rentang waktu tertentu  anak terus mencari titik keseimbangannya. Selalu terus mengerahkan energinya utk melawan gravitasi. Jika keseimbangannya terganggu spt ini maka anak tdk dpt mendengar dg baik  akan berdampak pada SENSE OF HEARING saat anak memasuki periode usia 14-21 tahun.
  Anak memiliki kendala dlm mengekspresikan apa yg ada di kepalanya melalui sense of word dan memiliki kendala utk dpt mendengar dan mengerti apa yg disampaikan orang lain  masalah emosional  kondisi yg mengindikasikan ADD/ADHD.


PENGARUH SCREEN TIME (nonton TV, youtube, game, acara edukatif, hp, ipad, komp,dll) TERHADAP WILLING, FEELING, THINKING

WILLING
Kemauan yg berasal dari dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Visual dan audio stimulation yang begitu memesona dari screen menyebabkan hal-hal lain yang alami yang ada di sekitar kita dimana visual dan suaranya tidak sehebat screen, akan menjadi sangat tidak menarik dan membosankan. Anak menjadi malas untuk bermain, malas membaca buku, gelisah ketika mendengarkan dongeng. 
Pengaruh terhadap delayed gratification – tinggal touch, geser, tekan. Serba instan. Anak menjadi tidak sabaran. Kalau kemauannya tidak segera terpenuhi akan rewel/tantrum. Tidak dapat menikmati proses.

FEELING
Menimbulkan perasaan sedih dan senang yg berlebihan akibat produksi dopamin yang kurang atau berlebihan. Seperti pengaruh kokain.
Lebih mudah kesal/marah/agresif karena kurang delayed gratification dan tidak dapat fokus (tidak dapat memproses internal dan eksternal environment-nya). 
THINKING
Pengaruh thd fokus – jump cut - There are 10 screen shifts in the first twenty seconds of that clip.  That’s a screen shift every 2 seconds . 
Tdk mampu membangun inner picture. Imagination. Abstract thinking
Jika kita berpikir bahwa kita harus menemani anak setiap waktu ataupun menggunakan media (TV, video game, gadget, dan yang sejenisnya) agar anak tidak bosan, maka mereka tidak mendapat kesempatan untuk belajar bermain sendiri. Mereka tidak akan berada pada momen dalam keadaan tidak tahu apa yang harus dilakukan – mencari gambaran dari dalam diri sendiri – menciptakan sesuatu dari dalam diri dan mengekspresikannya keluar diri.
Membiarkan anak merasa bosan berarti kita membantu dan memberi kesempatan kepada anak untuk menjalani proses “inner creativity.”
Jika kegiatan-kegiatan anak berasal dari luar (TV, video games, gadget, atapun aktivitas yang diarahkan orang tua), maka kemampuan anak untuk menciptakan kreasi-kreasi yang berasal dari dalam dirinya sendiri tidaklah berkembang. Imaginasi dan kreativitas anak akhirnya terhambat.
Apa yg dialami anak akan disimpan di dalam memori dan dibawa tidur. 


ALTERNATIF KEGIATAN PENGGANTI SCREEN TIME
Jangan khawatir anak bosan karena mereka memiliki sesuatu dalam dirinya. Mereka punya imajinasi sebagai cikal bakal kreativitas. Selama kita tidak spoon feeding dan selama kita menyediakan lingkungan yang sehat, imajinasi mereka akan berkembang.

BUATLAH RITME HARIAN (BREATHING IN-BREATHING OUT). Ritme harian dapat diisi dengan :

1. Circle time
2. Finger play
3. House chores. Ikut melakukan pekerjaan rumah tangga sesuai dengan perkembangan usia dan kemampuan anak
4. Permainan tradisional – Paciwit-ciwit lutung, endog-endogan, main karet, main sondah, maen gerobak-gerobakkan, kelereng, spintrong, lompat tali
5. Arts and craft . Banyak sumber yang dapat dijadikan bahan referensi. Googling “nature crafts”
6. Mendongeng. Bisa dilakukan pada waktu tertentu atau sebelum tidur. Dapat dilakukan dengan memijat menggunakan telunjuk dan jari tengah berputar di punggung 

Catatan :
Pada acara parenting ini, peserta diminta untuk berjalan sambil menutup matanya untuk merasakan perasaan waswas, merasa tidak aman dan merasa tidak percaya untuk melangkah atau utk melakukan sesuatu, jika kita tidak mengetahui batas antara diri kita dan apa yang ada di sekitar kita. Hal ini berkaitan dengan sense of touch 
Peserta juga menikmati dongeng indah dari Ibu Manda untuk mengetahui bagaimana stimulasi sensori yang dibutuhkan oleh anak, dibandingkan dengan stimulasi sensori yang berlebihan dari apa yang dilihat di layar
Peserta juga melihat dua buah video youtube yang menggambarkan bagaimana seorang anak terlalu larut dalam kesedihannya ketika menyaksikan adegan sedih sebuah film. Pengaruh dopamin terhadap feeling
Peserta melihat potongan film sponge bob yang menampilkan banyak jump cut/scree shift yang mempengaruhi kemampuan anak untuk dapat fokus terhadap hal-hal tertentu
Peserta diajak untuk membuat apa saja dari bahan-bahan alami dan sederhana (potongan kayu, kulit mahoni, daun, kain) untuk merasakan betapa besar imajinasi dan kreatifitas seorang anak
Peserta diajak untuk melakukan circle time dan finger play
Peserta melihat bagaimana mendongeng dengan menggerakkan jari dan telunjuk di atas punggung anak, dimana daerah punggung/tulang belakang adalah salah satu daerah yang sensitif untuk merasakan sentuhan termasuk ketika kita hendak memberikan ketenangan pada anak. 



Jangan sampai pendidikan yg kita berikan hanyalah mencetak sarjana sebagai sekrup industri sebanyak-banyaknya, yang akan menjalani ritme hidup ‘I don‘t like Monday’ dan ‘Thanks God It‘s Friday’, Pendidikan hendaklah menjadikan kita sebagai manusia yg merdeka yg bisa memberikan makna bagi kehidupannya dan bagi orang-orang dan makhluk lain di sekelilingnya

Ingat lagi bahwa salah satu kemungkinan pola belajar umumnya orang dewasa adalah THINKING – FEELING – WILLING. Saat ini kita sudah tahu bagaimana dampak sreen time. Kemudian apa yang sudah kita ketahui itu kita rasakan dalam hati. Apakah hati kita berkenan menerima pengetahuan tersebut. Baru kemudian setelah yakin, kita melakukannya. Untuk melakukan sesuatu, butuh will power. Untuk melakukan suatu perubahan, butuh will power. Dimulai dari diri  kita sendiri. Jangan sampai kita sibuk menyuruh anak untuk beranjak dari depan TV, sementara kebanyakan waktu kita dihabiskan bersama dengan gadget. 

Disusun oleh Kenny Sidkar
Disajikan pada acara free parenting 10 Maret 2018 yang diadakan oleh :
Asosiasi Waldorf-Steiner Indonesia
Jagad Alit Waldorf Play and Kinder
Arunika Waldorf





Minggu, 18 Februari 2018

One day Free Trial



One day Free trial
3-6 yo

Monday/Tuesday/Thursday/Friday
March 6-20, 2018
08.00 - 10.45

Registration
jagadalit.waldorfschool@gmail.com
Whatsapp 087823152314

Minggu, 04 Februari 2018

Dari sebuah taman bermain menuju bangku SD. Apa yang perlu disiapkan?


Jika mendengar ceritanya atau melihat sekilas kegiatan kami, apa yang kami lakukan di Jagad Alit Waldorf Play and Kinder, sangatlah simpel dan sederhana. Kadang mungkin tepikirkan, “Apa yang didapat anak-anak? Setiap hari sebagian besar waktunya di sekolah hanya bermain saja.” Kami melakukan kegiatan mulai jam 8 pagi hingga 11 siang. Diawali dengan bermain di luar selama satu jam. Setelah merapikan mainan dan cuci tangan, kami melakukan circle time (melakukan berbagai gerak yang disesuaikan dengan lagu yang kami nyanyikan atapun alur cerita pendek yang disampaikan oleh guru). Setelah itu kami masuk ke dalam ruangan dan bermain kembali selama hampir satu jam! Barulah kemudian kami menikmati snack bersama dan kegiatan setiap hari ditutup dengan dongeng. Tidak ada materi pelajaran yang diberikan secara eksplisit ataupun directly kepada anak-anak. Walaupun dalam kegiatan bermain, kami menyisipkan kegiatan berkebun, memotong dan menghaluskan kayu, menggambar, melukis, bermain benang ataupun beeswax modelling, namun kami tidak pernah memaksa anak untuk melakukanya. Tetapi setiap saat selalu ada anak yang ingin melakukan kegiatan-kegiatan itu ketika melihat kami menyiapkan atau melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Bermain bebs, ritme yang selalu sama setiap harinya dan kemauan yang muncul sendiri dari dalam diri anak, menjadi fondasi yang kuat bagi mereka untuk melangkah ke jenjang pendidikan sekolah dasar. 

PERKEMBANGAN FISIK



Kesiapan keempat indera dasar (menurut konsep pendidikan Waldorf) yaitu indera peraba, indera kehidupan, indera gerak, dan indera keseimbangan sangat dibutuhkan oleh anak agar mereka merasa nyaman dengan keberadaan tubuh mereka. Seringkali anak yang dideteksi memiliki Attention Deficit Dissorder (ADD) adalah anak yang belum siap dalam hal indera gerak dan keseimbangannya. Mereka tidak dapat duduk tenang dalam rentang waktu tertentu. Bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang, berusaha mencari titik nyaman dan berusaha untuk memposisikan tubuh pada titik keseimbangan. Jika anak sibuk mencari kenyamanan dan titik keseimbangannya, maka daya kehidupannya (life forces) akan terfokus untuk hal itu sehingga hanya sedikit daya kehidupan yang tersisa untuk berpikir/belajar. Anak ini kemudian kita duga sebagai anak yang tidak bisa fokus, tidak bisa konsentrasi, tidak suka terhadap suatu hal tertentu, tidak bisa diam, hyperaktif, dan lainnya yang senada dengan itu.  Bermain bebas adalah sebaik-baiknya yang dapat dilakukan anak untuk mempersiapkan keempat indera dasarnya. Duduk manis di depan TV/layar komputer/gadget adalah seburuk-buruknya aktivitas yang akan menghambat kesiapan keempat indera dasarnya. Oleh karena itu bermain bebas merupakan porsi terbesar yang dilakukan anak-anak di Jagad Alit. Berlari, melompat, memanjat pohon, bermain jungkat-jungkit, memanjat tangga gantung, berjalan di balok titian, bermain pasir, bermain lompat tali, membawa dahan pohon dan boks-boks kayu, mengangkat meja dan kursi-kursi untuk dijadikan suatu bentuk permainan, menggelindingkan ban bekas, dan masih banyak lagi, adalah semua yang mereka lakukan saat bermain untuk mengembangkan indera peraba, kehidupan, gerak dan keseimbangan. 


TENANG DAN FOKUS



Kegiatan belajar di jenjang sekolah dasar tentunya membutuhkan ketenangan dan fokus. Oleh karena itu di Jagad Alit, pada waktu-waktu tertentu, kami memberikan kesempatan kepada anak untuk dapat menikmati suasana yang menenangkan dan fokus pada apa yang sedang dilakukan. Mendengarkan dongeng adalah kesempatan terbaik untuk mendapatkan kedua hal ini. Diawali dengan nyanyian yang menenangkan ataupun guru yang memainkan alat musik tertentu (biasanya guru memainkan lyre), untuk mengajak anak masuk ke dalam momen yang tenang dan hening. Masuk ke dalam dunia keajaiban sebuah dongeng. Melukis adalah kegiatan lain yang mengedepankan ketenangan dan fokus, bukan pada bentuk yang menjadi objek lukisan anak-anak. Warna yang mengalir indah dari sapuan kuas mereka, sangat mendukung terciptanya suasana yang menenangkan. Sebelum menikmati snack, guru selalu mengucapkan ungkapan rasa syukur dalam bentuk bait-bait kalimat indah yang cukup panjang. Anak-anak diam menunggu hingga selesai, baru mereka mulai makan. Tentu saja “interupsi” selalu ada. Anak yang mengobrol, tertawa, bergerak tidak tenang, teralihkan perhatiannya saat momen hening. Inilah kesempatan bagi mereka untuk belajar. Untuk melatih diri agar dapat tenang dan fokus saat belajar di bangku sekolah dasar nanti. 


RENTANG PERHATIAN (ATTENTION SPAN)

Begitu memasuki jenjang sekolah dasar, mau tidak mau, anak-anak membutuhkan rentang perhatian yang lebih panjang dalam mengerjakan kegiatan tertentu. Mulai dari mendengarkan penjelasan guru, membaca, menulis, menggambar, memainkan alat musik, dll. Mengikuti circle time dan mendengarkan dongeng akan melatih mereka untuk dapat memiliki rentang perhatian yang cukup panjang secara bertahap. Ketika circle time, kami berkumpul dalam sebuah lingkaran. Guru bernyanyi, melakukan gerakan-gerakan, menyampaikan rangkaian kalimat demi kalimat dalam sebuah cerita ataupun puisi. Anak-anak mendengarkan sambil mengikuti gerakan guru. Hal ini dilakukan secara bertahap. Mulai dari 5-10 menit dan kemudian kami memberikan circle time yang lebih panjang lagi. Begitu pula dengan dongeng. Mulai dari dongeng yang pendek dan kemudian bulan-bulan berikutnya kami ganti dengan dongeng baru yang durasinya lebih panjang. Bukan hanya melalui circle time dan dongeng, tetapi juga ketika bermain dan membereskan mainan. Kami memberikan kesempatan yang cukup panjang kepada anak-anak untuk bermain. Untuk anak-anak usia tertentu, mereka membutuhkan waktu untuk merancang permainan, menentukan peran, bernegosiasi ini dan itu sebelum masuk ke dalam permainan yang sebenarnya. Ketika membereskan mainan, kami memberikan waktu kepada mereka hingga semua mainan kembali ke tempatnya semula. Merekapun melipat kain-kain, merapikan tali-tali dengan cara membuat bentuk melingkar dari ujung tali yang satu hingga ujung yang lain. 

MENCINTAI SUATU KEGIATAN/PEKERJAAN


Idealnya seorang anak pergi ke sekolah dengan suka cita. Bahkan ketika liburan, ada anak yang bertanya, “kapan sekolah lagi?” Idealnya seorang anak selalu menantikan saatnya bertemu teman-temannya, menantikan saatnya guru menceritakan materi pelajaran, menantikan saatnya menemukan hal-hal baru dari buku pelajarannya. Sampai dengan usia 7 tahun, anak belajar melalui proses imitasi. Bukan saja meniru perkataan ataupun perbuatan. Bukan hanya meniru apa yang didengar atau dilihat dari sekelilingnya, tetapi juga meniru perasaan. Ekspresi wajah, intonasi suara, dan hal lain yang tidak terlihat atau terdengar secara eksplisit, dapat dirasakan oleh anak. Oleh karena itu kami selalu berusaha melakukan segala sesuatu dengan rasa senang di hati. Menyapu, membereskan mainan, memasak dan menyiapkan snack, menjahit, merajut, berkebun, memotong kayu dan segudang pekerjaan bermakna lainnya selalu kami lakukan dengan rasa senang dan bahagia. Kadang tersenyum, kadang pula sambil bersenandung atau bernyanyi. Semua pekerjaan jadi tampak tidak berat dan bukan merupakan suatu beban. Bukan pula suatu kewajiban atau hanya sekedar melakukan sesuatu yang harus dilakukan. Anak melihat, mendengar, merasakan dan MENIRU. Meniru kami melakukan pekerjaan dengan rasa senang di hati. Benih dari kecintaan dalam melakukan suatu kegiatan, termasuk belajar. 


RASA INGIN TAHU

Merupakan cikal bakal dari kreativitas dan inovasi. Menghasilkan solusi yang baru. Ketika anak bertanya mengenai sesuatu hal, kami tidak selalu meresponnya dengan jawaban. Kami akan berkata, “Hhhmmmmhhh apa ya kira-kira?” Atau, “Wah, gimana ya caranya?” Atau, “Wow ko bisa seperti itu ya?” Daaannn...tak perlu menunggu lama, anak akan mengutarakan idenya, gagasannya, pendapatnya. Seringkali apa yang mereka ungkapkan adalah sesuatu hal yang tidak terlintas di benak kita. Sesuatu yang baru yang berawal dari imajinasi mereka. Cikal bakal kreativitas dan inovasi kelak. 

Begitulah kira-kira apa yang dapat kami berikan untuk membantu anak-anak menyiapkan dirinya memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar. Lalu apakah kita masih perlu bertanya, “gimana nanti kalau anak saya masuk SD? Apakah di TK ini diajarkan membaca dan menulis atau tidak?”  Juga jangan membayangkan sebuah SD Waldorf adalah sebuah “bangku sekolah” karena apa yang diberikan tidak melulu terpatok pada anak harus duduk manis mendengarkan guru, menulis dan membaca. Pernah mendengar sebuah sekolah dimana buku-buku pelajaran dibuat sendiri oleh anak-anaknya? Pernah mendengar sebuah sekolah yang memberikan kegiatan merajut? Pernah mendengar sebuah sekolah yang mengajarkan operasi matematis dengan menggunakan dongeng? Dan hal-hal “aneh” lainnya? Mungkin pernah. Dan salah satunya adalah SD Waldorf. Apakah ada di Indonesia? Sedang kami bangun. Kami sudah bermimpi. Dan sekarang saatnya bangun dan mewujudkan mimpi itu. 
Tahun 2019. 
Sebuah impian akan terwujud. 





Sabtu, 20 Januari 2018

Dunia Ini Baik!



Dalam situasi sekarang ini dimana banyak peristiwa yang tidak mengenakan terjadi di sekeliling kita, merupakan tantangan tersendiri untuk merasakan bahwa dunia ini baik. Konflik, peperangan, bencana alam, kecelakaan, pembunuhan, korupsi, dan banyak peristiwa menyedihkan lain yang kita saksikan sendiri ataupun kita lihat di media elektronik, yang kita alami sendiri ataupun yang dialami orang lain membuat kita mungkin merasa khawatir akan masa depan dunia ini. 

Di suatu pagi saat sinar mentari mencoba menyelinap memberi kehangatan di sela-sela desiran angin dingin, terdengar suara kecil menyapa, “Bu Kenny...Bu Kenny tau ga BEJ ambruk?” Agak terkejut mendengarnya dan saya hanya menjawab seadanya, “oiya...tau.” Kemudian suara kecil itu beralih kepada makhluk-makhluk kecil di smapingnya, “ambruknya begini lo...” ia mempergakan dengan tangannya sambil mengeluarkan suara bagaimana ambruknya gedung tersebut. Iapun berkata, “ambruknya itu karena ada penumpukkan orang!” Saya mencuri-curi dengar dan tergoda untuk bertanya, “tau dari mana?” Iapun menjawab, “dari berita.”

Susan Weber, seorang yang banyak berkiprah dalam dunia pendidikan Waldorf, mengatakan dalam sebuah tulisannya, “For the child just beginning life, there is one single mantra that needs to guide those early steps and years: the world is good. Nothing brings stamina for life and daily well being to our children more directly and strongly than surrounding them and immersing them into an atmosphere of goodness and joy.”

Seorang bayi menikmati kehidupannya dalam rahim sang ibu yang begitu aman, nyaman, dan hangat, dan kemudian mereka hadir di sebuah dunia yang baru yang begitu asing bagi mereka. Apa yang kita rasakan ketika kita harus pindah rumah, pindah tempat kerja, pindah kota, pindah ke lingkungan yang baru? Saya berani mengatakan bahwa pasti sedikit banyaknya akan ada rasa khawatir, atau rasa takut, bertanya-tanya seperti apakah tempat yang baru itu, apakah tempat yang baru itu akan emmberikan keamanan, kenyamanan dan kehangatan? Dan ketika ada tetangga, teman kerja, ataupun keluarga yang menceritakan hal-hal buruk mengenai tempat yang baru tersebut, maka kita akan berpikir kembali untuk memutuskan apakah jadi pindah atau tidak, kita akan menjalani kehidupan di tempat yang baru dengan perasaan was-was, atau malah kita akan memutuskan untuk kembali ke tempat yang lama. 

Anak-anak memiliki organ-organ pengindera yang sangat luar biasa. Mereka mengamati dan menyerap apa yang mereka lihat, dengar, bahkan mereka rasakan. Mereka begitu terbuka. Tetapi mereka belum bisa menginterpretasikan apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Mereka baru saja hadir di dunia yang serba asing ini. Tujuh tahun bahkan empat belas tahun kehidupan mereka di dunia ini merupakan waktu yang terlalu singkat bagi mereka untuk dapat mengerti dan menerima hal-hal buruk yang ada di dunia ini. Pesan yang mereka cari dari kita adalah, “saya bahagia hidup di dunia yang baru ini. Dunia yang baru ini begitu menyenangkan dan saya ingin tinggal di dalamnya.” Merekapun membutuhkan sebuah kepercayaan yang akan meyakinkan mereka bahwa dunia ini baik adanya dan oleh karena itu saya ingin memasukinya, saya ingin tahu, saya ingin melihatnya, saya ingin menyentuhnya, saya ingin mengeksplorasi, saya ingin menemukan hal-hal yang baru dan baru lagi. Saya ingin ingin merasakan semua yang ada di dalamnya dengan segala kepercayaan diri saya terhadap dunia yang baik dan indah ini. Jika pesan yang mereka dapatkan adalah ketidakbaikkan dari dunia ini, maka bisa dibayangkan bahwa mereka akan “kembali masuk” ke dalam dirinya sendiri, menutup diri, merasa khawatir, takut, tidak percaya diri, takut mencoba hal-hal baru. Binar-binar di matanya akan meredup. Bagaimana mereka bisa percaya diri, tertarik dan mau mencoba hal-hal baru, jika mereka merasa dunia ini tidak aman?


“We owe to them their birthright: the world is good and I am grateful and happy to be in it. It is a safe place for me to grow in. And later, much later, I will be able to take on its pain and burdens. But give me time, peace, and space in which to discover the goodness in life for myself, in which to grow strong, capable, brave, and enthusiastic for life. Protect me from the challenges of adulthood until I am ready.” Ada waktunya...ada waktunya mereka akan dapat mengerti dan menerima apa yang tidak mengenakkan di dunia ini. Ketika mereka sudah siap, ketika sudah tumbuh kepercayaan dalam diri mereka bahwa dunia ini baik dan indah. 

Jauhkanlah berita-berita buruk dari kehidupan mereka baik dalam obrolan sehari-hari maupun dari media lain yang dapat dijangkau anak-anak. Sebagai orang tua, tumbuhkanlah sense of wonder, sekecil apapun, dalam diri kita dari apa saja yang kita lihat, dengar dan rasakan. Lihatlah sekeliling kita. Rerumputan yang basah oleh air hujan, embun di pagi hari, bunga yang tumbuh bersemi, kupu-kupu yang beterbangan kesana dan kemari. Dengarkanlah desiran angin, suara air hujan, kicau burung di pagi hari. Rasakan hangatnya mentari. Nikmati sinar bulan dan bintang di malam hari. Yang seperti itu akan mengingatkan kita pada “keajaiban” dan betapa menakjubkannya dunia ini. Temukan puisi-puisi yang indah. Senandungkan lagu-lagu yang menenangkan.  And see if, step by tiny step, you can rediscover, in difficult times, that the world truly is good.

Steadfast I stand in the world
With certainty I tread the path of life
Love I cherish in the core of my being
Hope I carry into every deed
Confidence I imprint upon my thinking.
These five lead me to my goal
These five give me my existence.
-Rudolf Steiner-

Sabtu, 30 Desember 2017

"Mengajarkan" Rasa Bersyukur pada Anak

Bukan hafalan doa yang kami berikan. Bukan pula nasihat. Bukan juga penjelasan panjang lebar, ataupun sebuah suruhan, melainkan ungkapan rasa syukur yang kami ucapkan sebelum menikmati makanan yang tersaji di meja makan.


Tanah tempat biji tumbuh
Matahari beri kehangatan
Hujan yang memberi kesejukan
Hingga tumbuh daun dan buah
Tangan kanan dan tangan kiri yang mengolah
Hingga tersaji makanan sehat
Membuatku tumbuh tinggi kuat
Kumakan makanan yang baik
Kuberkata perkataan yang baik
Terimakasih pada kalian
Terimakasih pada Pencipta


Waktu makan adalah waktu dimana anak-anak menyambut apa yang tersaji di meja makan dengan senyuman. Bersyukur akan apa yang tersaji dan menikmatinya dalam kehangatan.

Kami menggunakan sebisa mungkin apa yang tumbuh di sekitar kami. Kami memberi kesempatan pada anak untuk ikut memasak. Mereka akan mengetahui darimana dan bagaimana makanan dapat tersaji.

Saat circle time dan story time, kami memasukkan cerita, lagu, dan kata-kata berima yang menggambarkan keindahan alam. Sebelum makan, kami memberikan kata-kata yang menggambarkan bagaimana tanah, hujan, dan matahari memberikan perannya sehingga tumbuh daun dan buah. Tumbuh rasa kagum akan kebesaran alam semesta yang akan menjadi fondasi akan rasa syukur kepada Pencipta.

Anak-anak menunggu hingga semua teman-temannya mendapatkan makanan yang tersaji. Anak-anak menunggu hingga guru selesai mengucapkan kata-kata syukur. Delayed gratification adalah kemampuan untuk menahan diri/menunda kepuasan. Sebuah eksperimen yang dikenal dengan Marshmallow test menghasilkan kesimpulan bahwa ketika dewasa, anak-anak akan memiliki daya konsentrasi dan logika yang tinggi, mampu berada di bawah tekanan, dan akan lebih tenang ketika "terlatih" untuk menunda suatu kesenangan.

Tulisan menarik tentang delayed gratification http://mommiesdaily.com/2013/05/16/%E2%80%9Ctunggu-dulu%E2%80%9D%E2%80%94manfaat-menahan-diri/


Senin, 25 Desember 2017

Free Trial

Free Trial for 3-6yo
Jan 5, 2018
08.00 - 10.00

Info : jagadalit.waldorfschool@gmail.com
WA 087823152314


One day at Jagad Alit


Waktu bermain Senin, Selasa, Kamis, Jumat
Jam 08.00 - 11.00

Rhythm of the day
Outdoor free play
Tidy up
Circle time
Indoor free play
Tidy up
Snack time
Story time