Senin, 25 April 2016

Mindfulness for Moms bersama Adjie Silarus

Ketika alam semesta dan Sang Pencipta mengijinkan, maka hadirlah apa yg kita impikan. Hadir penuh...utuh... Bermula dari suatu waktu saya menemukan bukunya Adjie, Sejenak Hening, (secara kebetulan), kemudian (secara kebetulan) saya sharing di sebuah grup mengenai proses apa yang sedang saya lakukan yaitu diantaranya belajar utk mindful  kemudian kami berdiskusi mengenai isi buku tsb dan kemudian ada keinginan utk mengajak sang penulis buku utk bisa berbagi, berlanjut dengan saya upload buku Sejenak Hening di facebook dg mention Adjie Silarus dan (secara kebetulan) mendapat sahutan dari ybs dan salah seorang anggota grup, Shanty, maka bertemulah kami....(secara kebetulan = ketika alam semesta dan Sang Pencipta mengijinkan, karena tdk ada 1 kejadianpun yang terjadi secara kebetulan).




Mindfulness adalah sebuah konsep yang sebetulnya berasal dari budaya Timur. Sebut saja “salse/nyalse,” dlm artian rileks, santai, tdk terburu-buru, tdk dikejar-kejar sesuatu, mengerjakan sesuatu dlm kondisi yg nyaman. “Legowo,” dlm artian ikhlas, hati yang ikhlas baik dalam menerima sesuatu ataupun melepaskan sesuatu. Konsep ini sdh ada sejak lama dalam budaya Timur namun sayangnya kita kurang menyadari filosori yang terkandung di dlmnya.

Mindfulness..hadir penuh..utuh..disini..saat ini. Hadir penuh dan utuh, bukan hanya raga tetapi juga jiwa. Ketika kita berinteraksi atau bermain dengan anak, sangat penting kita “hadir,” bukan hanya fisik kita ada di dekat anak tetapi juga pikiran dan hati kita ada bersama anak secara utuh. Anak memiliki kemampuan yang luar biasa utk merasakan kondisi kita, termasuk ketika kita tdk hadir penuh utuh. Anak yang rewel, bisa jadi bukan karena kondisi mereka, tetapi krn kondisi kita yg tdk hadir penuh utuh. Anak bisa merasakan itu! Coba saja ketika waktunya tidur siang. Semakin kita menginginkan anak utk cepat tidur krn yg ada dlm pikiran kita adalah cucian yg masih numpuk, hrs cepat-cepat pergi krn ada janji meeting dg org, pekerjaan-pekerjaan yg belum selesai, maka semakin anak tdk bisa tidur cepat. Mereka bisa merasakan emosi kita, mereka bisa merasakan kondisi kita yg sedang terburu-buru hrs pergi, mereka bisa merasakan ketidaktenangan kita krn ada pekerjaan-pekerjaan yg hrs segera diselesaikan. Mindfulness..hadir penuh..utuh..disini..saat ini. Disini saat ini. Bukan besok atau minggu depan atau bulan depan atau tahun depan. Bukan pula kemarin atau minggu yang lalu atau bulan yang lalu atau tahun yang lalu. Masa depan belum terjadi dan masa lalu sudah terjadi. Kita ada sekarang, di saat ini, disini. Bukan artinya kita tdk memikirkan masa depan atau visi atau cita-cita kita. Bukan pula artinya kita tdk memikirkan masa lalu utk mengambil pelajaran dari masa lalu tsb. Tetapi saat ini yg kita pikirkan adalah apa yg ada di hadapan kita.  Melepaskan masa lalu, tidak terlalu merisaukan masa depan, tapi tetap melakukan pembelajaran akan yang terjadi di masa lalu, dan lebih matang merencanakan.

Pembelajaran masa lalu hanya bisa dipetik ketika sadar penuh di sini kini.
Perencanaan matang masa depan hanya bisa dibuat ketika sadar penuh di sini-kini.  Mindfulness melatih diri bukan untuk berinovasi (cepat), tapi lebih ke kaizen (perlahan tapi pasti). Tujuan jangka panjang dibreakdown sedetail mungkin  

Ketika kita sedang mengerjakan sesuatu tetapi pikiran kita mengembara ke masa lalu (kenapa ya kemarin saya tdk melakukan itu) ataupun masa depan (apa ya yg bsk hrs sy kerjakan) secara bersamaan, maka apa yg kita kerjakan saat ini akan tdk optimal. Tanpa kita sadari, kita akan lebih tdk efektif dan akan lebih tdk efisien ketika kita melakukan sesuatu secara bersamaan (multi tasking). Dan yg terpenting, kita akan merasa tdk tenang. Hidup menjadi sebuah beban yg cukup berat, krn ada kekhawatiran akan masa depan dan (mungkin) penyesalan akan masa lalu.

Mindfulness jg berarti berani melepaskan. Hidup pada akhirnya sebenarnya adalah sebuah proses melepaskan...mengikhlaskan sesuatu yg melekat. Kehidupan adalah belajar utk melepaskan bukan belajar mendapatkan.  Berani memilih apa yg hrs kita lepaskan dan berani menerima apa yg sdh pada saatnya kita lepaskan. Yg pertama adalah berani utk mengatakan tdk utk kesempatan yg tdk sejalan dg nilai-nilai kita dan yg kedua adalah berani utk melepaskan apa yg sdh kita usahakan sedemikian rupa tetapi ternyata alam semesta dan Sang Pencipta tdk mengijinkan, krn mgkn hal itu bukanlah yg terbaik bagi kita. Batasan utk mengatakan tdk...kapan kita memilih utk mengatakan tdk, ada pd diri kita sendiri. Terkadang kita lebih mengarahkan lensa kita keluar (melihat dan mendengarkan org lain melalui berbagai media dan kemudian membandingkan diri kita dg org lain), dan memberikan porsi lebih sedikit utk mengarahkan lensa kita ke dalam (melihat, mendengarkan, dan merasakan kemampuan kita sendiri). Seyogyanya keduanya berjalan seimbang. Seperti  filosofi Timur Sisi  Yin-Yan , manusia itu dibagi dlm 2 ranah yaitu being dan doing. Seringkali kita berperan sebagai human doing daripada human being.  Kita akan akan kelelahan tanpa dibekali being.


Visi, cita-cita, keinginan, juga berharap, bergerak cepat, masa depan, mendapatkan dan berusaha supaya tidak lepas yang sudah didapatkan itu termasuk “Doing.”
Sedangkan yang termasuk “Being” adalah menerima, ikhlas, bersabar, hening, saat ini, di sini-kini. 

Catatan sy dari apa yg sy bisa cerna. Mohon maaf jika ada kekeliruan dalam menangkap.  Hidup tak hanya terus bergerak dalam riuh keramaian , tapi juga sesaat butuh terdiam dalam keheningan.

Terimakasih tak terhingga utk Adjie Silarus, Shanty, dan teman-teman. Terimakasih juga tentunya  kpd Ira, utk bantuan dan foto-fotonya. Ada secercah harapan utk bisa bertemu dan berdiskusi lagi karena dlm konsep pendidikan Waldorf, salah satu tugas guru dan orang tua adalah melakukan inner working, refleksi dan pembelajaran ke dalam diri sendiri utk mengeluarkan yang terbaik bagi anak-anak kita....


Kamis, 14 April 2016

What people say about Waldorf School

Interview with Jeff Bridges, Academy Award Winning Actor

"You don’t want to bring the cake out of the oven too soon, you know? You want to let them experience childhood as long as they can. The impulse to cram adulthood down kids' brains because parents are concerned about competition, teaching kids about computers when they’re three, doing long division too early, that’s not what this school does. They’re (the school) not against technology, but there are “seasons” for things, you know? The kids need to be kids for as as they can."

"...our task as teachers is to light the fire of inspiration, to build enthusiasm for learning rather than fill a person with data. We want children to speak with their own voice, and have their own experiences."

Minggu, 10 April 2016

PUBLIC TALK by HORST HELLMANN


PUBLIC TALK
Speaker : HORST HELLMANN

May 16 (16.00-18.30) 
ASPECTS OF THE WALDORF CURRICULUM
Waldorf school education is not a pedagogical system 
but an art- the art of awakening what is actually there 
within the human being

May 17 (09.00-11.30) 
STORYTELLING ENHANCES THE STRENGTH OF THE CHILD'S SOUL 
What kind of stories shall we tell to our kids at what age? 
Choose the right picture books.

May 18 (16.00-18.30) 
WRITING, READING, BRAIN DEVELOPMENT
Are the children ready to learn? Are we unconsciously pushing them? The danger of early learning!

May 19 (09.00-11.30) 
DISCIPLINE, PUNISHMENT, AWARD, AND GUIDANCE FOR AGE 3-12
Three principles in education: fear, ambition and love. 
Each age in human development is different.

Single session 150K
Full three days 375K
Full four days 475K

Venue : Jagad Alit - Waldorf  School
Jl. Babakan Jeruk IIIE Bandung - Indonesia

To register please contact :
jagadalit.waldorfschool@gmail.com
SMS/WA only 0812-2266-4736


About Horst Hellmann
Born in 1943 in Germany. Horst Hellmann has spent 30 years teaching in Steiner schools. Since 1982 he has been giving seminars to teachers who want to be Steiner Waldorf teachers in Australia, India, Philippines, Thailand and Taiwan. He has been involved in setting up of 14 schools across Australia and Asia, as well as the teacher training seminar in Iloilo in 2005. In 2004, he resigned from active teaching and became more active in Asia, especially supporting new initiatives. At present he is focusing on a young waldorf-inspired school in Davao, Tuburan Institute, and Dulyapat in Khonkaen, Thailand.

Kamis, 07 April 2016

Catatan dari Study Group - 2 April 2016



Study group kali ini benar-benar membuat kita melakukan refleksi! Membahas bukunya Steiner yg berjudul “The Education of The Child.” Meskipun baru bbrp halaman dari part 1 “The Education of The Child in the Light of Spiritual Science,” tapi pembahasannya sdh sangat seru! Kolaborasi diskusi antara pengajar di sebuah sekolah international, kepala sekolah dan guru di sebuah PG dan TK, mahasiswa S2 dan  S3 psikologi, mahasiswa S3 Fisika, dan orang tua ini benar-benar begitu kaya akan pemikiran-pemikiran dari berbagai perspektif. 

Setelah diskusi yg cukup menantang, kita bersenang-senang bersama benang dan jarum rajut...hehe...





Silakan disimak...
Permasalahan/krisis-krisis yg terjadi saat ini merupakan warisan dari generasi-generasi sebelumnya. Misal slavery yang pada jaman dahulu merupakan bentuk yg sebenarnya dari perbudakan manusia. Sampai sekarang perbudakan itu masih ada, dalam bentuk yang lain tentunya. Tidak sedikit orang yang mencoba mencari solusi terhadap permasalahan-permasalahan ini berdasarkan opini-opininya. Baik opini yg ekstrim (mencoba membuat perubahan yg revolusioner), moderate (menghargai apa yg ada tetapi mencoba membuat sesuatu yg baru berdasarkan kondisi yg ada), ataupun opini yang sifatnya konserfatif (menerima saja apa yg ada). Dan yg terjadi adalah banyak org yg mencoba memecahkan permasalahan-permasalahan ini tanpa benar-benar mengenali fondasi-fondasi kehidupan yg ada. Mereka hanya menyelesaikan permasalahan yg ada di permukaan saja, bukan inti permasalahannya. Yg diobati hanya gejalanya saja bukan penyakitnya. Dan seharusnya kita tdk merasa puas dg penyelesaian masalah yg hanya di permukaan saja. 

Note : saya jadi teringat dg sistem yang berlaku di masyarakat dan bagaimana orang menyikapi sistem ini dg cara yg ekstrim, moderate, dan konvensional. Terhadap sebuah sistem yang terbukti tdk efektif dan hanya memihak golongan tertentu saja, let say sistem pendidikan, maka sikap orang bisa ekstrim (berani menentang sistem tsb dan melakukan perubahan yg radikal), moderate (menghargai bhw sistem yg ada merupakan hasil sebuah proses perjuangan, namun mencoba memperbaiki sistem tsb), konservatif (menerima saja sistem yg ada...ya sudahlah maklumi saja, toh kalau dirubah jg belum tentu menjadi lebih baik). Daaannn kemudian ini akan diturunkan kpd generasi berikutnya. Jika yg diturunkan adalah pola konservatif, maka anak-anak kita akan menjadi generasi yang “yaaa..sudahlah maklumi saja...”  Wow! 

Lanjut yaaa....

Kehidupan secara keselurahan spt sebuah tanaman. Sebuah tanaman memiliki lebih dari sekedar apa yg terlihat dari luar. Sebuah tanaman jg memiliki tunas-tunas (benih-benih kehidupan) yg tersembunyi di dalamnya. Dan jika kita hanya melihat dari luarnya saja maka kita tidak akan mengetahui apakah tanaman ini akan berbunga atau berbuah? Bagaimana nanti bentuk/aroma bunganya/buahnya?  Yang akan mengetahui apakah tanaman ini akan berbunga/berbuah dan bagaimana bunga/buahnya adalah orang-orang yg telah mempelajari tanaman ini secara mendalam!



Kita semua sbg makhluk hidup, termasuk anak-anak kita memiliki bakal/benih masa depan/potensi. Tetapi bagaimana bentuknya, kita tdk tahu. Akan spt apa potensi itu kelak, kita tdk tahu, jika kita hanya melihat apa yg terlihat dari luarnya saja. Jika pada tanaman, tunas-tunasnya akan tumbuh sehat kalau tanaman ini ditanam di tanah yg subur, dirawat, cukup matahari dan air, maka pada manusia, potensi anak akan berkembang dg baik jika kita sbg orang tua dan pendidik memberikan lingkungan dan kesempatan pertumbuhan dan pendidikan yg sehat bagi anak kita. Bukan memprogram anak kita sesuai dengan keinginan kita! Nah loooo....

Lanjut yaaa...

Ketika kita mendengar kata spiritual maka seringkali yg terlintas dlm benak kita adalah religion. Apakah spiritual science sama dengan religion? Bisa ya dan bisa tidak. Bagi org yg memaknai religion "hanya sekedar" agama, maka akan ada perbedaan besar antara spiritual dan agama. Tetapi bagi orang yg telah mampu memaknai religion lebih dalam lagi, bukan sekedar ajaran-ajaran yang HARUS dipecayai karena kita "terlahir" dg agama ttt, maka antara keduanya akan ada keselarasan. Konsep spiritual adalah  konsep yg jauh lebih besar dari sekedar agama. Ketika kita memahami dan menjiwai betul nilai-nilai dari agama, maka nilai-nilai spiritual ini harusnya menjadi . jiwa dalam praktik beragama. Tetapi masalahnya adalah praktik beragama yg seringkali kita jumpai saat ini hanyalah merupakan ritual-ritual ataupun tindakan-tindakan yg  mementingkan diri sendiri. Nah lo.... Knp demikian? Karena apa yang kita tuju adalah bagaimana menyelematkan diri sendiri dan golongan-golongan tertentu di level kehidupan berikutnya. Maka berlomba-lombalah orang utk menyelamatkan dirinya sendiri dan golongannya tanpa memperdulikan the true esscense of the spritual yg seharusnya menjadi jiwa dan spirit yg mendasari religion. Dua kalimat ini mungkin bisa memberikan gambaran :

Religion gives you promises for the after-life
Spirituality gives you the light to find God in your inner self, in this life, in the present, in the here and the now
Silahkan direnungkan ya....

Spiritual Science is a way for one to develop their own personal relationship with the Divine AS WELL AS the relationship that exists between all things in existence. If peolple have knowledge of life, it is only out of life itself that they can they can take up their tasks.
Hal ini menjelaskan kpd kita bahwa spiritual science adalah juga mengenai hubungan kita dg alam semesta dan segala yg ada dan terjadi di dlmnya. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mempelajari segala yang ada dan terjadi dalam kehidupan ini, sehingga kita dapat mengerti tugas kita di bumi ini dan menjalankan tugas tersebut dengan kesadaran penuh tanpa suatu paksaan. Jika seseorang telah mampu utk "melihat" dan memahami kehidupan ini,  maka akan muncul kesadaran dari dlm diri org tsb, "tugas/peran apa yg akan saya lakukan di bumi ini." Bukan karena disuruh ataupun dipaksa. 

Naaahhh.... tahapan inilah yg seharusnya dilalui oleh anak-anak kita mulai dari mereka lahir di bumi ini hingga mereka dewasa. Pendidikan yang mereka terima harusnya merupakan sarana utk melihat, membaca, memahami, dan memaknai kehidupan. Pendidikan seharusnya memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada anak-anak utk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman ttg kehidupan. Pendidikan seharusnya merupakan sarana utk  mempersiapkan anak-anak, sehingga ketika anak-anak ini telah dewasa, mereka punya KEBEBASAN utk memilih perannya di dunia ini.
Itulah mengapa dalam  konsep pendidikan Waldorf, yg diberikan kepada anak usia di bawah 7 th adalah hal-hal mengenai the goodness of this life, dan kemudian utk anak-anak usia 7-14 th, yg diberikan adalah the beauty of this life, sehingga ketika mereka berusia 14-21 th, mereka telah mampu mengambil keputusan dengan pertimbangan-pertimbangan mereka sendiri, mengenai the truth of this life. 

Sebagai pendidik, kalimat ini perlu kita ingat, "We shall not set up demands nor programs, but simply describe child-nature. From the nature of the growing and evolving human being, the proper viewpoint for Education will, as it were, result spontaneously."
Wow! Sptnya masih banyak PR yg harus dikerjakan oleh kita sebagai orang tua dan pendidik.  Dan diskusi ini masih akan berlanjut bulan depan yaaa...