Sabtu, 30 Desember 2017

"Mengajarkan" Rasa Bersyukur pada Anak

Bukan hafalan doa yang kami berikan. Bukan pula nasihat. Bukan juga penjelasan panjang lebar, ataupun sebuah suruhan, melainkan ungkapan rasa syukur yang kami ucapkan sebelum menikmati makanan yang tersaji di meja makan.


Tanah tempat biji tumbuh
Matahari beri kehangatan
Hujan yang memberi kesejukan
Hingga tumbuh daun dan buah
Tangan kanan dan tangan kiri yang mengolah
Hingga tersaji makanan sehat
Membuatku tumbuh tinggi kuat
Kumakan makanan yang baik
Kuberkata perkataan yang baik
Terimakasih pada kalian
Terimakasih pada Pencipta


Waktu makan adalah waktu dimana anak-anak menyambut apa yang tersaji di meja makan dengan senyuman. Bersyukur akan apa yang tersaji dan menikmatinya dalam kehangatan.

Kami menggunakan sebisa mungkin apa yang tumbuh di sekitar kami. Kami memberi kesempatan pada anak untuk ikut memasak. Mereka akan mengetahui darimana dan bagaimana makanan dapat tersaji.

Saat circle time dan story time, kami memasukkan cerita, lagu, dan kata-kata berima yang menggambarkan keindahan alam. Sebelum makan, kami memberikan kata-kata yang menggambarkan bagaimana tanah, hujan, dan matahari memberikan perannya sehingga tumbuh daun dan buah. Tumbuh rasa kagum akan kebesaran alam semesta yang akan menjadi fondasi akan rasa syukur kepada Pencipta.

Anak-anak menunggu hingga semua teman-temannya mendapatkan makanan yang tersaji. Anak-anak menunggu hingga guru selesai mengucapkan kata-kata syukur. Delayed gratification adalah kemampuan untuk menahan diri/menunda kepuasan. Sebuah eksperimen yang dikenal dengan Marshmallow test menghasilkan kesimpulan bahwa ketika dewasa, anak-anak akan memiliki daya konsentrasi dan logika yang tinggi, mampu berada di bawah tekanan, dan akan lebih tenang ketika "terlatih" untuk menunda suatu kesenangan.

Tulisan menarik tentang delayed gratification http://mommiesdaily.com/2013/05/16/%E2%80%9Ctunggu-dulu%E2%80%9D%E2%80%94manfaat-menahan-diri/


Senin, 25 Desember 2017

Free Trial

Free Trial for 3-6yo
Jan 5, 2018
08.00 - 10.00

Info : jagadalit.waldorfschool@gmail.com
WA 087823152314


One day at Jagad Alit


Waktu bermain Senin, Selasa, Kamis, Jumat
Jam 08.00 - 11.00

Rhythm of the day
Outdoor free play
Tidy up
Circle time
Indoor free play
Tidy up
Snack time
Story time


Rabu, 06 Desember 2017

Pendaftaran Semester Baru


Kami membuka pendaftaran di semester baru ini. Semester baru akan dimulai tanggal 8 januari 2017. Info dan pendaftaran bisa menghubungi  
jagadalit.waldorfschool@gmail.com atau WA 087823152314


Selasa, 17 Oktober 2017

WALDORF GRADE SCHOOL TEACHER TRAINING




WALDORF GRADE SCHOOL TEACHER TRAINING5 SEMESTERS PART TIME

Waldorf Grade School Teacher Training adalah pelatihan yang ditujukan kepada para orang tua, guru, pemerhati pendidikan dan pihak-pihak lain yang terkait dengan tumbuh kembang dan pendidikan anak. Training ini diberikan dalam bentuk part-time selama tiga tahun (lima semester). Setiap tahun terdiri dari dua semester, yaitu sekitar bulan Oktober dan April. Masing-masing pertemuan akan berlangsung selama sekitar 8-11 hari.
SEMESTER PERTAMA
WAKTU : 13 November- 25 November 2017
TEMPAT : Eco Camp Bandung, Jl. Pakar Barat (Dago) no.3
MAIN LECTURER : Horst Hellmann. 

Seorang guru dan trainer yang sudah berpengalaman membantu mendirikan sekolah Waldorf di beberapa negara Asia (Filipina, Thailand, Taiwan, Singapura), Australia dan juga di negara asalnya Berlin, Jerman. Ia juga mendesain Waldorf teacher training di Filipina semenjak tahun 2004 dan sudah berjalan lebih dari 10 tahun. Ia juga pernah memberikan public talk pada tahun 2016 di Bandung dan Bali.


MATERI TRAINING SEMESTER PERTAMA 
Keseluruhan training yang akan diberikan meliputi dua tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu usia 0-7 tahun dan 7-14 tahun. Kedua tahapan ini tentulah akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan anak di tahapan selanjutnya yaitu 14-21 tahun.
Pendidikan Waldorf merupakan pendidikan yang menyeluruh, bukan hanya menekankan pada aspek intelegensia saja (thiingking), tetapi juga menekankan pada aspek willing (usia 0-7 tahun) dan feeling (7-14 tahun).

Pada tujuh tahun pertama kehidupannya, anak belajar melalui apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan dari proses imitasi orang-orang di sekitarnya. Anakpun belajar dari apa yang ia alami sendiri. Empat indera dasar yaitu sense of touch, life, balance, dan movement akan menjadi dasar bagi perkembangan delapan indera lainnya.

Pada pendidikan Waldorf, science, arts, dan spiritual merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. “Children live in the harmony of science, arts, and spiritual.” Oleh karena itu banyak materi yang diberikan dengan bantuan media seni seperti : water color painting, crayon drawing, bees wax/clay modelling, knitting, recorder playing, singing, outdoor games, speech and drama, nursery rhymes,storytelling, dan eurythmy. Rhythm, repetition, dan reverence akan mengantarkan anak dalam proses pembelajarannya.

Berdasarkan gambaran singkat tersebut, maka pada semester pertama ini, materi akan melingkupi :

INTRODUCTION/ FUNDAMENTALS OF WALDORF EDUCATION : 
• 12 senses, 3fold and 4fold human being, and 9 fold human being
• Inner development of teacher and Self-transformation 
• Rhythms of the day, week, month, year
• Overview of child development in 7-year-rhythms
• Importance of the first 7 years
• The 4 lower senses
• Nutrition
• Play and games
• Media, as a problem
• Story telling in Kindergarten
• Childhood diseases

Para peserta juga akan juga akan diajak untuk melukis menggunakan cat air dengan teknik wet on wet, menggambar dengan menggunakan block crayon, clay modelling, dan memainkan recorder.


Info dan pendaftaran : bdgwaldorf.gstt@gmail.com


Senin, 11 September 2017

Free Parenting Discussion



Twice a month we have parenting discussion and discussion. Not only parents can come. Also not only parents of Jagad Alit's children. Everyone can come and share their thoughts. This is how we build our community to give the meaning for children's life. Last Saturday we talked about the late talker or the late bloomer. We got this wonderful article to discuss. 

Why Waldorf Works: From a Neuroscientific Perspective
By Dr. Regalena “Reggie” Melrose

Why Waldorf works has more to do with how the brain develops and functions optimally than Rudolf Steiner ever could have known. Sure the educator and founder of Waldorf Education theorized convincingly about how children learn best, but until MRIs and other sophisticated measures of the brain were developed, we had no way to prove or disprove any of Steiner’s theories, not with the kind of precision and accuracy we can now. An overwhelming body of evidence from the last 20 years of neuroscientific inquiry supports Steiner’s theories, including some of the most fundamental foci of Waldorf Education.

Three foci thrill me the most, both as a parent of a Waldorf student and as an international speaker on the topic of learning, behavior, and the brain: holism, play, and nature. An emphasis on all three is consistent with how the brain learns best: when the whole brain is engaged at any given moment, when its foundational neural connections have been given ample time to develop, and when it is in an optimally aroused state.Knowing how the brain develops is essential to understanding why these three foci are so important to the success of any educational program. Let us first learn some basic fundamentals of the brain. First of all, it is “triune,” that is, it has three parts. More importantly, not all three parts are fully developed at birth as we once believed. In fact, very little of a newborn’s brain is “online” and “ready to go.” When the brains of newborn babies are observed with an MRI, the only part of the brain that is lit up or active is the most primal part – the brain stem, sensing brain, or “animal brain,” as it is also called. (Small underdeveloped parts of the auditory and visual cortices are the only exceptions.) This primal part of the brain is responsible for our experience of arousal and stress. It kicks into high gear and mediates our fight or flight response when needed. I like to call it the “sensory brain” because it only speaks the language of sensations, the only language that most consistently enables our survival. When we encounter a bear in the woods, for example, our words will not save us, but our heightened senses do.

The second and third parts of our brain – the limbic, feeling brain and the neocortex or thinking brain, respectively – only begin to develop after birth. This is critical new knowledge that provides a compelling answer to the long, highly debated question of nature versus nurture. We now know that because we only have use of a very small part of our brain at birth, the brain is literally sculpted by the experiences we have interacting with others in the environment. It is not until 3 to 4 months of age, when the feeling brain has become activated by experience that newborns are able to express more than just states of distress or contentment, as it does with only the sensory brain. At this somewhat older age, babies can share a wide range of emotions, thereby giving us a more social baby.
The third part of the brain, the neocortex, thinking brain, begins to develop after the limbic, feeling brain. Indications of this maturation include babbling between 6 and 9 months, a first word around the age of 1, and 2 to 3 words strung together by the age of 2. Whereas sensations are the language of the sensory brain and feelings are the language of the limbic brain, the neocortex speaks the language of words and mediates all of what most educators value. For example, the neocortex mediates impulse control, the ability to plan ahead, to organize, and to understand that a choice we make now may continue to have consequences later. Empathy for another is mediated by the neocortex, as are our abilities to use ration, reason, and logic. We think and analyze with our neocortex, and of course, understand and have use of both receptive and expressive verbal language. If you’ve heard about “right brain” versus “left brain” functioning, it will make sense to you now that it is the neocortex that controls the functions of the left hemisphere whereas the sensing and feeling parts of the brain control the functions of the right hemisphere. The brain operates optimally when all its parts are equally developed, valued, and engaged. Why Waldorf works is because it does just that.
Steiner’s approach to education was a holistic one. He recognized that our senses, feelings, and cognitions must all be actively engaged at each stage of development in order for students to maintain, over the long term, a joy and love of learning. Waldorf educators do not make the same mistake made by a number of other more traditional, conventional, and mainstream models of education. Waldorf educators do not overvalue the development of the neocortex and left brain to the exclusion of the right brain, that which senses and feels deeply. It does not focus at too young of an age, before the brain is ready, on purely academic endeavors that attempt with rigor to engage a part of the brain that the child has little access to, the underdeveloped neocortex. (The neocortex is not fully developed until we are in our mid- to late twenties!) Instead, what Waldorf educators do successfully is involve and nourish the sensing, feeling parts of the brain, those easily accessed by young children, so that essential foundational neural connections needed for later academic learning are solidly laid.

Let me expand: You now know that the brain develops in a hierarchical fashion from more to less primitive, from the animal to more uniquely human. What that means is that the healthy development of the more sophisticated neocortex DEPENDS upon the healthy development of the feeling, limbic brain which DEPENDS upon the healthy development of the sensory brain. The problem with today’s mainstream educational models is that they want the brain to walk before it can crawl. Well, let’s be accurate: Most school systems today want children to RUN before they can crawl. We encounter proud parents who say, “My child was walking at 9 months! She didn’t even need to crawl, just up and went! Isn’t that terrific?” And what I want to say is, “No! No, that’s not terrific! Push her to the floor! Make her crawl!” That might be an overzealous reaction, but it is grounded in sound knowledge that every single stage of development is essential to the next, laying a neural foundation to support what is to come. Our children need ample time and practice to “marinate in their mastery,” of one skill or another, at each and every juncture of their development. This is not happening in enough schools across the country today, but it is happening at Waldorf.
Take the case of play. From the very beginning of a child’s educational career at a Waldorf school, he or she is supported to play in a variety of different fashions and settings throughout the entire school day. Steiner knew that play is the invaluable foundation for any kind of healthy, human growth, including academic progress. And let’s be clear about what kind of play this is. It is what Dr. David Elkind calls “the purest form of play: the unstructured, [spontaneous], self-motivated, imaginative, independent kind, where children initiate their own games and even invent their own rules.” This kind of play, he warns us, is disappearing from our homes, schools, and neighborhoods at an alarming rate with great cost to the health, well-being, and achievement of our children.
Numerous studies have shown that play at every stage of development improves IQ, social-emotional functioning, learning, and academic performance. The findings of several studies conducted over a 4 year period found that spending one-third of the school day in physical education, art, and music improved not only physical fitness, but attitudes toward learning, and test scores, according to Dr. Elkind. Furthermore, when the performance of children who attended academic pre-schools was compared to the performance of children who attended play-oriented preschools, the results showed no advantage in reading and math achievement for the “academic children,” but did show that they had higher levels of test anxiety, were less creative, and had more negative attitudes toward school than did the “play children.”

This is precisely the point we are missing in today’s achievement-driven culture. We have bought into a myth in education that “more equals more.” A formula of more time spent on academics, starting earlier in development, with more homework, is not increasing the output of our children. It’s decreasing it! Cutting time out for the arts, physical activity, and time in nature, so our children can spend more time reading, writing, and doing arithmetic is not the answer. It is the culprit. Our children are burning out and dropping out at catastrophic rates not just because more doesn’t equal more, but also because it equals shut-down.

The brain functions its best only when in an optimum state of arousal. Our children cannot attend, listen, process information, retain, or perform well when in an either under- or over-aroused state. Overwhelm is what causes these states. When before the brain is ready children are exposed to and required to participate in academics, media, technology, and organized play, such as team sports, the premature and often prolonged stress they experience can eventually shut the system down. Teachers all over the United States and Canada tell me they see “it” by the beginning of third grade. In far too many of their students, they say “the light has gone out.” The joy, curiosity, and wonder that are essential to the learning process are already dulled by too much of one thing and not another. Whereas the mainstream educational system today focuses almost exclusively on academics, a mostly left brain function, Waldorf educators focus more on the whole brain, emphasizing the right hemisphere at each stage of development. Steiner could only have observed and therefore hypothesized that this keeps our children in the optimum zone of arousal where all of learning and adaptive behavior are possible. With current scientific findings, we now know he was right. Tapping into the sensory gifts of the right hemisphere provides the “flow” necessary for the marathon of achievement, not just the sprint.

Now that we’ve learned about the importance of holism and play to the learning process, let us consider the invaluable role of nature. A given within education is the engagement of the left brain. Learning almost always involves a verbal, analytical process. What is not a given, is the stimulation and expression of the right brain. The functions of the right hemisphere of the brain have somehow been deemed less important to the achievement and ultimate success of our children, at least “success” as most define it in the U. S. Our bodies are supported to move less, our minds to race more. Cuts have been made not only to recess and physical education, but also to creative endeavors such as theater, music, and fine art, all of which make important contributions to the optimal functioning of the brain, achievement, AND success no matter how you define it. What does nature have to do with it? A whole lot, according to the neuroscience: nothing stimulates and resonates with the right brain more powerfully, and therefore, nothing keeps us in the optimum zone of arousal better than nature.

Remember, the optimum zone of arousal, when anxiety is neither too high nor too low, is the only physiological state within which all of learning and adaptive behavior is possible. Nature beautifully promotes that state. According to years of research recently compiled by Dr. Eeva Karjalainen, natural green settings reduce stress, improve mood, reduce anger and aggression, increase overall happiness, and even strengthen our immune system. Nature is one critical antidote to the increases in stress, overwhelm, burnout, and dropout we are witnessing in the educational system today. Lack of exposure to nature causes such a detrimental state to the brain, and is so pervasive today we have a name for it: “Nature Deficit Disorder.” Dr. Karjalainen reports that “after stressful or concentration-demanding situations,” we do not recover nearly as well in urban settings as we do in natural ones. When we experience nature, our blood pressure, heart rate, muscle tension, and level of stress hormones all decrease faster than when we are in urban settings. In children in particular, we know that ADHD symptoms are reduced when they are given the opportunity to play in green settings.

As a mother myself, I can’t imagine a parent on earth that doesn’t want all of these benefits and more for their children. I can’t imagine that once parents and educators know the research findings pointing the way to optimal brain functioning, that any of us would ever agree to the kind of educational system we have now. The alternative of Waldorf exists, and I am grateful. I urge every parent to learn more about it and strongly consider it for their children. I am also aware, however, that not every parent has access to a Waldorf school for financial, geographical, or other reasons. For those parents and all of us really, I have an additional urging, that we vote, petition, write letters, make calls, and fight however we can to ensure that the reform about to take place in the current educational system be founded on the invaluable neuroscientific findings of the last 20 years. We must demand changes that are backed by sound science, based on how we know the brain works best, not just in the short-term, but for all the years to come.

Dr. Regalena “Reggie” Melrose is a licensed clinical and credentialed school psychologist with nearly 20 years experience working with children and adolescents in schools, clinical settings, and private practice. She is the author of several books including, “You Can Heal Your Child: A Guide for Parents of Misdiagnosed, Stressed, Traumatized, and Otherwise Misunderstood Children,” and the groundbreaking, “Why Students Underachieve: What Educators and Parents Can Do about It.” Dr. Melrose is an international speaker on the effects of stress and trauma on the brain, learning, and behavior and maintains a private practice healing the effects of stress and trauma in children, adolescents, and adults, in Long Beach, CA.


Minggu, 03 September 2017

Independence Day Celebration - 2017

"Where the mind is without fear and the head is held high; Where knowledge is free; Where the world has not been broken up into fragments by narrow domestic walls; Where words come out from the depth of truth; Where tireless striving stretches its arms towards perfection; Where the clear stream of reason has not lost its way into the dreary desert sand of dead habit; Where the mind is lead forward by thee into ever-widening thought and action- Into that heaven of freedom, my Father, let my country awake." - by Rabindranath Tagore (from Geetanjali) 

Thank you for all parents who were working together hand in hand for this warmth celebration. We are a big family, walking side by side to give meaningful freedom to our children. It became more special to celebrate it with our mentor Edith Van der Meer




















Jumat, 16 Juni 2017

Merayakan Sebuah Perjalanan

Akhir semester merupakan moment yang sangat spesial. Moment di saat kita merayakan satu bagian dari perjalanan panjang anak-anak di Jagad Alit. Moment di saat rasa bahagia menyeruak dalam hati para orang tua dan guru. Di Jagad Alit moment sarat kebahagiaan ini tidaklah dirayakan dengan kemeriahan. Kami ingin lebih memberikan arti ketulusan dan cinta yang alami, yang tidak terbungkus dalam suatu acara yang terkesan dibuat-buat. Biarkanlah ekspresi, senyum, tawa, tingkah polah anak-anak dalam moment ini merupakan sebenar-benarnya yang mereka rasakan dalam hati mereka. Berbarengan dengan perayaan panen di beberapa wilayah guna mendekatkan anak-anak dengan alam dan juga berbarengan dengan bulan Ramadhan menjelang lebaran, maka celebration yang telah kami jalin dalam ritme keseharian selama satu bulan penuh ini dinikmati dengan penuh suka cita.


Apa yang kami sampaikan dalam moment ini pula adalah apa yang sebenar-benarnya mereka lalui dalam perjalanan mereka. Sebuah buku yang berisi cerita setiap anak merupakan cerita yang kami rangkai setiap harinya selama satu semester.  Tak akan cukup beribu kata, tak akan cukup bermalam-malam untuk menuangkan cerita mereka. Tetapi apa yang ada di buku tersebut dapat menggambarkan sekelumit kisah mereka. Tak ada angka ataupun huruf yang melambangkan sebuah nilai, karena kami merasa tak berhak untuk menilai mereka.


Ini adalah kelanjutan cerita perjalanannmu. 
Bermain bersama kami dan teman-temanmu di Jagad Alit. 
Ada cerita yang berjalan beriringan. 
Ada cerita baru yang mewarnai perjalanannmu. 
Semua cerita kan memberi warna-warni indah dalam hidupmu. 
Semoga kelak warna-warna yang kau pilih kan menjadi 
sebuah lukisan yang menghangatkan ruang jiwamu 
dan orang-orang di sekelilingmu.


Bersama kami tlah kau rangkai banyak kata. 
Bersama kami tlah kau lukis banyak warna. 
Bersama kami tlah dendangkan banyak irama. 
Engkaulah nakhoda perahu emasmu. 
Berlayarlah terus mengarungi lautan luas. 
Sepenuh hati kami kan menerangi jalanmu.






------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                                                   ------------------------------------------------------------



Inilah moment kebahagiaan mereka saat bermain sambil membuat frame dari ranting kayu untuk salah satu dari crayon drawing yang mereka buat saat sekolah




Inilah moment kebahagiaan mereka saat circle time bersama



Inilah moment ketika perayaan ini sekaligus juga menjadi perayaan hari ulang tahun


Hingga sang rembulan malam menggantikan mentari sore





------------------------------------------------------------------------------------------------------------
                                                   ------------------------------------------------------------





Membawa pulang kenangan indah






----------------------------------------------------            Selamat merayakan sebuah perjalanan! -------------
----------------------------------------------------------------










Minggu, 28 Mei 2017

Mengantarkan Nilai Budaya Lokal

“Paciwit-ciwit lutung, Si lutung pindah ka luhur”

Jagad Alit menggunakan konsep pendidikan Waldorf, dimana konsep pendidikan ini diperkenalkan oleh seorang filsuf Austria. Sekolah Waldorf yang pertama didirikan di Jerman. Namun demikian pendidikan Waldorf tidak mengharuskan sekolah-sekolahnya mengaplikasikan nilai-nilai budaya barat. Justru semua yang diberikan harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya setempat. Permainan, dongeng, kebiasaan, pola pendidikan dan kedisplinan, semua haruslah mencerminkan kebudayaan tempat sekolah itu berdiri.

Permainan ini merupakan permainan khas masyarakat Jawa Barat. Permainan sederhana yang mengandung filosofi sarat makna. Makna tenggang rasa. Ketika kita mencubit tangan teman kita yg ada di bawah dengan keras, maka tangan teman kitapun biasanya akan mencubit tangan lain di bawahnya dengan keras. Dan tangan kita yang satunya lagi juga akan terkena cubitan keras. Jadi sebenarnya ketika kita menyakiti orang lain, yang akan merasa sakit adalah semuanya termasuk diri kita sendiri. Permainan ini pun mengandung makna bahwa ada kalanya kita di atas dan ada kalanya di bawah. Ada suka dan ada duka.

Mungkin anak-anak tidak akan menangkap makna ini saat bermain. Namun yang terpenting bagi anak-anak sebenarnya adalah karena dalam permainan ini tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Semua dapat merasakan suka dan duka. Makna kebersamaan. Dan tentu saja keriangan saat bermain.



Permainan ini kami berikan saat circle time bagi murid Jagad Alit dan juga anak-anak yang mengikuti klab Rabu. Meskipun diberikan pada circle time, namun anak-anak memainkannya juga diluar circle time. Permainan ini menyatukan mereka. Anak laki-laki bermain bersama-sama anak perempuan. Anak yang usianya lebih besar bermain bersama-sama anak yang usianya lebih kecil. Permainan sederhana yang mencerminkan budaya lokal dan sarat makna!


Klab Rabu
Setiap Rabu 9-11. 
Anak bersama dengan Ayah/Ibu/pendamping. 
Info dan Pendaftaran : rabudijagadalit@gmail.com

Rabu, 01 Maret 2017

Sebagai guru, kami tidak “mengajarkan” apa-apa!

Iya betul, kami tidak mengajarkan apa-apa! Nah lo! Guru macam apa itu? Setiap hari sekolah, kami hanya bernyanyi, mendongeng, dan memasak. Di hari-hari tertentu kami menyapu dedaunan kering yang berjatuhan, berkebun, membersihkan kolam ikan, menggergaji dan menghaluskan kayu, melukis, menggambar, finger knitting, membuat bentuk-bentuk sederhana dari beeswax, menyiapkan ini dan itu. Kami melakukan semuanya itu dan kami tidak pernah meminta atau menyuruh anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Lalu apa yang dilakukan anak-anak? Mereka bermain...bermain...dan bermain... 

Apa sih yang ada dalam pikiran kami sebagai guru? Konsep pendidikan seperti apa yang kami miliki? Ah, kami tidak ingin membicarakan konsep-konsep rumit, cukup ini saja yang kami terus ingat di dalam kepala dan kami rasakan di dalam hati. 

“Receive the children in reverence; educate them in love; let them go forth in freedom.”
― Rudolf Steiner

“Our highest endeavor must be to develop free human beings who are able of themselves to impart purpose and direction to their lives. The need for imagination, a sense of truth, and a feeling of responsibility—these three forces are the very nerve of education.”
― Rudolf Steiner

“You will not be good teachers if you focus only on what you do and not upon who you are.”
― Rudolf Steiner

Berlandaskan hal tersebut, maka kami memandang segala sesuatunya dari perspektif anak. The Waldorf educational approach works from a child’s perspective. A Waldorf educator looks at what an individual child needs and responds to the child with a suitable approach. The teacher asks: “What do you need and how can I help you?”, “What can I do to make you flourish, to be happy, and to fulfill your potential and your dreams?”, “How can I help you become a well-round¬ed, healthy human being so that you respect yourself and your fellow human beings?” 

Kami tidak berangkat dari agenda-agenda kepentingan kami sebagai guru yang menginginkan anak bisa ini dan itu. Semua kami lakukan mengikuti tahapan perkembangan anak sesuai dengan ritme alaminya.  A Waldorf teacher is always striving to fulfil what a child truly needs – looking deeply into the child, wanting to really see and understand the child. And at the same time the teacher looks at the child’s developmental needs – where the child is at, what the child’s strengths and weaknesses are and how to help the child progress according to his or her own natural rhythm.

Yaaahhhh...semua itu bisa dibilang “teori” saja. Praktiknya gimana? Well, ini salah satu ceritanya. Salah satu aja looo...kl semua diceritain, nanti kepanjangan.... Berangkat dari semua pemikiran di atas, maka semua kegiatan yang kami lakukan adalah demi kepentingan anak. Apakah mereka membutuhkannya? Apa manfaatnya bagi mereka? Apakah sesuai dengan tahapan perkembangannya? Finger knitting, merajut dengan jari adalah salah satu kegiatan yang masih merupakan pro dan kontra di dalam pendidikan Waldorf, untuk dapat diberikan kepada anak-anak usia playgroup dan TK. Kenapa? Karena untuk kegiatan ini, seringkali kita “tergoda” untuk memberikan instruksi. Membangunkan thinking/proses berpikir anak yang belum saatnya dibangunkan. Namun kemudian kami kembali pada pertimbangan manfaat kegiatan ini untuk anak. Melatih motorik halus, koordinasi mata dan tangan, fokus dalam rentang waktu tertentu, kesabaran, kebahagiaan mereka dalam berproses dan melihat hasilnya. Dan bagi anak yang usianya menjelang usia sekolah dasar, maka kegiatan ini akan sangat membantu kesiapan mereka untuk dapat membaca dan menulis. Tetapi bagaimana caranya agar finger knitting ini tidak diberikan dalam bentuk instruksi?

Selama satu bulan, kami “memasukannya” dalam ritme keseharian kami. Ketika circle time, kami sisipkan lagu beserta gerakannya : “Kupintal kapas..kapas jadi benang. Kurajut benang...benang jadi tali. Kugulung tali...tali jadi bola. Bermain benang ku bermain...” Kami sisipkan juga kata-kata dan gerakannya : Tali yang panjang seperti ular... Tali yang pendek seperti ulat... Kupotong yang panjang... Kusambung yang pendek... Yang panjang jadi pendek... Yang pendek jadi panjang... Dan kamipun bermain ular naga panjangnya.

Selama satu bulan pula kami memberikan dongeng yang menceritakan tentang seorang penggembala tua yang selalu mengalami kesulitan ketika mengumpulkan domba-dombanya. Ringkasan ceritanya spt ini : Sang penggembala kemudian membuat sebuah pagar. Di bagian ini guru yang mendongeng menggunakan tali pendek untuk membentuk sebuah loop. Sang penggembala memperlihatkan kepada domba-dombanya bagaimana caranya melompati pagar ini satu per satu. Hap..domba yang pertama melompati pagar. Hap..domba yang kedua melompati pagar..demikian seterusnya sampai domba yang kelima. Di bagian ini guru yang mendongeng memperlihatkan bagaimana finger knitting itu dilakukan. Alangkah bahagianya sang penggembala melihat domba-dombanya berbaris satu per satu.



Dan setiap hari Selasa guru melakukan finger knitting sambil menyenandungkan lagu kupintal kapas...kapas jadi benang..dan seterusnya. Lalu apa yang terjadi? Dua minggu setelah ritme itu kami lakukan, anak-anak mulai bermain dengan benang. Mereka mulai mengurai gulungan benang, mengikatkannya dari satu kursi ke kursi lain, mengikatkannya ke kaki meja dan juga ke rak mainan. Beberapa hari kemudian ada anak yang meminta benangnya digunting dan anak tersebut mengikatkan benang ke ranting untuk dijadikan ketepel. Di hari yang lain, ada anak yang mengikatkan benang ke ranting untuk dijadikan pancingan.





Lalu apa lagi yang terjadi? Tiga minggu setelah ritme itu kami lakukan, seorang anak menghampiri guru yang sedang finger knitting dan berkata bahwa ia ingin membuat domba! haha... Terus terang agak bingung menanggapinya karena kami tidak ingin memberikan instruksi. Lalu guru berkata, pagarnya dibuat dulu. Dan anak tersebut membuat pagar seperti yang dilakukan guru saat mendongeng. Dia pergi ke sebuah sudut ruangan dan mencoba sendiri melakukan finger knitting. Tak lama kemudian ia berseru, “liat, aku bisa bikin domba!” Waaahhh.... Setelah itu anak lain menghampiri dan berkata ingin bikin domba juga. Lalu guru berkata lagi, bikin pagarnya dulu. Dan anak tersebut membuat pagarnya lalu memulai finger knitting. Sesekali ia berkata, “ini ko jadi begini?” Di saat itulah kami memberikan bantuan, sambil berkata, “dombanya lompat...hap...” Dan anak tersebut meneruskan kembali sendiri. Kemudian datang anak lain dan berkata, “pengen bikin gelang!”



Begitulah ceritanya. Dan aktivitas seperti finger knitting ini kami lakukan saat anak-anak sedang bermain. Ketika melihat guru sedang melukis atau menyiapkan beeswax atau sedang memotong wortel atau membungkus nasi dengan daun pisang sebagai snack dan kegiatan-kegiatan lain yang kami lakukan, anak-anak menghampiri kami dan ingin melakukan hal yang sama. Tentu saja tidak semua anak menghampiri. Ada juga yang asik bermain. Dan itu tidak menjadi masalah, karena bermain adalah “perkerjaan” anak-anak. 






Ketika mereka bermain, proses yang dilalui bisa dikatakan seperti seorang pelukis yang hanyut dalam proses melukisnya, seperti seorang pujangga yang sedang merangkai kata-kata indah menjadi sebuah pusi, seperti kita yang sedang sangat serius dengan pekerjaan di kantor.











Sekali lagi, kami tidak mengajarkan apa-apa! Anak-anak belajar sendiri dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan!

Minggu, 22 Januari 2017

Alat musik lyre

Alat musik lyre ini memberikan atmosfir yang menenangkan bagi anak. Dapat dimainkan sebelum waktu tidur sebagai tanda bahwa waktu tidur telah tiba, karena seringkali anak tidak mau tidur karena  transisi antara kegiatan dengan waktu tidur, dilakukan tiba-tiba atau tanpa tanda-tanda tertentu. Dapat dimainkan juga ketika anak sedang rewel. Suaranya yang "dreamy" membawa efek kenyamanan bagi anak. Juga dapat dimainkan sebelum mendongeng, agar fokus dan konsentrasi anak "terkumpul."


Mari belajar merakit dan memainkannya pada workshop Lyre tanggal 11 dan 12 Februari nanti


Jumat, 20 Januari 2017

WORKSHOP MUSIK

Musik bukan sekedar memberikan keriangan pada anak tetapi juga rangkaian kata dan melodi untuk menyampaikan pesan bukan dalam bentuk wejangan, suruhan, apalagi bentakkan. Ketika anak sulit tidur, tidak mau makan, tidak mau merapikan mainan, malas mandi, maka sebuah lagu akan lebih bermakna daripada berpuluh kata dalam bentuk suruhan.

Musik adalah salah satu alternatif untuk membantu mengatasi masalah fokus dan atensi pada anak. Ketika anak tidak dapat duduk tenang, tidak memperhatikan apa yang kita sampaikan, dan pada tingkat sekolah dasar, tidak dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran, maka alunan nada akan lebih "mengumpulkan nyawa" mereka daripada berpuluh kata dalam bentuk teguran.

Musik adalah penyejuk jiwa. Ketika anak tantrum, tidak tenang, menunjukkan perilaku agresif, maka alunan suara dan petikan lembut alat musik lyre akan lebih memberikan atmosfir yang menyejukkan daripada hentakkan suara dalam bentuk bentakkan.

Musik adalah nutrisi bagi otak sejak anak dalam kandungan. Ketika anak mengalami kesulitan mempelajari sesuatu pada jenjang sekolah dasar, mengingat materi-materi pelajaran, melakukan operasi matematika, maka belahan otak kiri dan otak kanan akan bekerjasama melalui sebuah lagu dengan tangga nada tertentu.

Tangga nada pentatonik, mood of the fifth, alat musik yang dinamakan lyre mungkin merupakan hal-hal yang baru kita dengar yang ternyata berperan besar dalam kehidupan anak.

Bagi para orang tua, guru, psikolog, ataupun pihak lain yang berkecimpung dalam hal tumbuh kembang anak dan peduli pada musik anak, kita akan bersama-sama mempelajari lagu dan permainan anak, membuat lagu bagi anak sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang dihadapinya, belajar memainkan alat musik lyre, konsultasi individu bersama dengan Gotthard Killian, seorang musisi dari Australia.








Jumat, 13 Januari 2017

Musik : menciptakan suasana rumah yang tenang, berkaitan dengan pernafasan dan kesehatan anak, "guru" yang paling penting bagi daya ingat anak

Buat saya, yg paling menarik di tanggal 4 dan 5 Februari nanti adalah materi ini :

What does music do to benefit the entire life of the child, how is it to be creating a calm atmosphere at home, and to allow a dreamy and imaginative inner live for the child.
-----> menciptakan atmosphere yang kalem itu ga gampang kan ya. Apalagi diantara grasak grusuk berbagai urusan, mulai dari bersihin rumah, nyuci, nyetrika, ngurus anak, dll sampai dengan kerjaan di kantor. Apalagi pagi-pagi. Hectic banget. Boro-boro bisa kalem. Apalagi bikin suasana yang dreamy dan imaginatif. Suasana di rumah mgkn lebih seperti di pantai yang penuh pengunjung dg deburan ombak yang ganas, ketimbang pantai yang tenang dengan alunan riak ombak yang menyelinap diantara jari jemari kaki.


Dan buat saya, yang paling menarik di tanggal 6 dan 7 Februari nanti adalah materi ini :

- Breathing issues and medical conditions because we don't sing enough. General health and breathing for the child when it is pressed to learn too abstract = that is a musical problem.
-------> ini dia. Breathing issues! Anak saya dua2nya asma. Memang krn faktor alergi. Tp terkadang asmanya muncul pas musim2 ujian. Nah loh.... Daannn when the child is pressed to learn too abstract... eh, banyak kan ya konsep matematik yg abstrak dan kita ngajarinnya pun bingung. Mungkin jd makin abstrak buat anak..haha...
- Music is the most important teacher for the memory in the situation of the school child.
-------> Yg ini lagi. Aaahhh pengen tau banget, sampe bisa dibilang the most important teacher. THE MOST looohhhh....

Itu saya. Saya tertariknya di point-point itu.
Nah orang tua atau guru atau siapa aja mgkn tertariknya di hal-hal yang lain.
Apa aja materinya?
Yang mana yang menarik?


Workshop Kekuatan Musik Dalam Kehidupan Anak usia play group dan TK
4 dan 5 Februari 2017
Jam 13.00 - 17.00
Tempat : NuArt Sculpture Park and Art Gallery
Jl. Setraduta Raya No. L6 Bandung
Investasi Rp. 700..000/orang untuk dua hari

In many ways of practical exercises through singing, playing the lyre, and musical listening and dreaming we want to research the children's feeling, and how music can turn itself later on in school life into investigative intellectual gifts and rich soul life. As a fact, children are very responsive to music in the early age. It is our responsibility to not only respect the talent given to the child, but also to make sure that this legacy can unfold in a healthy way, and that it does not disappear due to the constraints of the modern civilisation.

We want to experience how child development means also musical exploration of the gift given to the child from birth (before birth?). 

In the two days it is my wish to focus on singing and understanding singing
- What does music do to benefit the entire life of the child, how is it to be creating a calm atmosphere at home, and to allow a dreamy and imaginative inner live for the child.
- And how can we as mothers and fathers, as educators, foster the musical joy in playful approach. 
- Music finally can contribute to the immunity of the long reaching effects on the healthy constitution, as a basic trust in life and healthy way of breathing between the world and the soul.

------------------------------------------------------------------------------------------------------


Workshop Kekuatan Musik Dalam Kehidupan Anak usia sekolah dasar
6 dan 7 Februari 2017
Jam 13.00 - 17.00
Tempat : NuArt Sculpture Park and Art Gallery
Jl. Setraduta Raya No. L6 Bandung
Investasi Rp. 700..000/orang untuk dua hari


FOCUS ON MUSIC AND THE DEVELOPMENTAL ASECTS OF THE CHILD IN SCHOOL
What is the consideration of musical teaching in the first grades of school? 
The situation of the singing and the role of singing towards the memory forces.
- Music is the most important teacher for the memory in the situation of the school child.
- Music can be movement in sportive games, and beautiful movement in dance and eurythmy.
- Music is singing together and learning by singing and to train memory by heart.
- Music can be playing together on various instruments and learning social rules in playing together. 
- Music can be finally to listen to the beauty of music played for the listeners.

FOCUS ON MUSIC AND HEALTH IN THE SCHOOL AGE.
- Breathing issues and medical conditions because we don't sing enough. General health and breathing for the child when it is pressed to learn too abstract = that is a musical problem.
- If we starve the children musically we can't expect great outcomes in later school life.
- If we don't allow the children to experience themselves to enjoy physical movement in games and in music lesson we can't expect them to find the endurance of life forces later on in their professional life.

FOCUS ON LEARNING AN INSTRUMENT 
How to encourage the child to choose the right instrument, to come into a daily routine to play, and to find enjoyment in the family about the musical development of the child.