Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Januari 2020

Banyak Pertanyaan Anak. Dua Jawaban, Takjub dan Takzim




“Tuhan itu siapa? Tuhan itu ada di mana?”


“Kenapa Nenek meninggal?”


“Bayi datangnya dari mana?”


“Ko rumputnya dipotongin?”


“Kenapa harus makan sayur?”


Pertanyaan-pertanyaan unik, ajaib, tak terduga. Bikin kita bengong selama beberapa detik, menghela napas diam-diam (khawatir keliatan kaget dan bingungnya), sampai akhirnya kita jawab panjang lebar atau bilang bentar ya, mau apa dulu atau kemana dulu, padahal mau ngumpet buka handphone googling. Buat yang lebih tenang dalam merespon, mungkin akan ngajak anak sama-sama buka buku yg kebeneran ada di rumah lalu ngejelasin apa yg ada di buku. Atau mungkin akan bilang “Ayah/Ibu belom tau jawabannya, nanti Ayah/Ibu pikirin dulu ya.” Lalu sampe kebawa mimpi atau pasang status di facebook atau ig story yg isinya pertanyaan anak tsb. Berharap ada reply yg isinya jawaban atau setidaknya sharing pengalaman yang sama dan kemudian sama-sama bingung.


Bikin kaget banget ketika ada sebuah artikel yang membahas mengenai pertanyaan-pertanyaan unik anak, diantaranya adalah, “Kenapa kita harus takut kepada Tuhan?” Jawaban yang disarankan dalam artikel itu adalah “Karena Tuhan yang menciptakan/ membuat kita. Ia bisa membuat kita melihat, mendengar, bernapas, bergerak, dan lainnya. Tapi Tuhan juga bisa membuat kita buta, tuli, meninggal, makanya kita juga harus takut kepada Tuhan.” Tak habis pikir  membayangkan dampak jawaban seperti ini terhadap jiwa seorang anak.


Seringkali pertanyaan-pertanyaan ajaib muncul sebagai pertanyaan lanjutan, “Itu apa?” atau “Lagi ngapain?” dan yang sejenisnya. Pada anak-anak tertentu dan pada usia tertentu, biasanya mulai usia 3 tahun, jawaban kita akan mengundang pertanyaan berikutnya, “Kenapa...bla...bla...bla..” Atau “Ko...bla..bla...bla” Dan jawaban-jawaban kita berikutnya akan diserbu dengan berseri-seri pertanyaan selanjutnya. Anak usia 5-7 tahun bagaikan seorang filsuf kecil, akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yg sifatnya makin dalam. Engga jarang kemudian akhirnya kita bikin rangkuman utk menutup pertanyaan itu, “Ya emang udah dari sananya gitu.” Atau “Ya pokoknya gitu lah.” Atau kita sudahi dengan mengalihkan perhatian anak.


Jadi orang tua, jadi guru atau apapun sebutannya sebagai orang yang mendampingi anak emang banyak tantangannya. Tantangan membuat kita belajar. Bukankah hidup adalah proses belajar untuk menjadi lebih baik? Mangkanya kita engga dikasih hidup yang mulus-mulus aja. Apa yang perlu dipelajari sebagai orang yg mendampingi anak? Ya tentunya kita perlu belajar mengenai anak itu sendiri. Tapi bukan hanya itu, kita perlu memahami diri kita sendiri. Dan bukan hanya dua itu, tapi kita juga perlu mempelajari lingkungan semesta tempat anak tinggal dan berinteraksi dengan alam semesta dan seisinya. Bersyukurlah kita sebagai orang tua, guru, dan orang-orang yang mendampingi anak karena artinya kita diberi kesempatan untuk mempelajari kehidupan! Diberi kesempatan untuk mencari makna kehidpan yang hakiki.


Nah, sekarang giliran kita yg bertanya kenapa anak engga brenti-brentinya nanyain ini dan itu dan kenapa jawaban-jawaban kita seringkali seolah engga memuaskan bagi mereka sehingga muncul pertanyaan beruntun macam ular naga panjangnya bukan kepalang. Itu karena anak memandang dunia ini dengan pandangan yang berbeda dengan kita. Mereka hadir di dunia ini masih dalam itungan jari, sedangkan kita udah puluhan tahun. Mereka masih dalam dreamy unconscious mind. Baru beberapa tahun mereka “dikirim” dari alam yang penuh keajaiban. Alam berpikir mereka adalah imajinasi yang tiada batasnya. Alam berpikir mereka tak seperti kita yang sudah penuh dengan konsep, logika dan teori. Mereka selalu bisa menemukan kemungkinan-kemungkinan lain dari setiap hal. Coba lihat ketika anak bermain. Segala sesuatu bisa jadi apa saja. Kursi misalnya. Bagi kita, kursi ya tempat duduk. Tapi bagi anak, kursi bisa jadi rumah, mobil, disusun jadi rangkaian kereta api, menara, bahkan jadi kompor! Bagi org dewasa sulit untuk dapat memasuki dunia imajinasi anak, karena kita udah full of theory dan cara berpikir yg logis. Oleh karena itu seringkali jawaban kita bukanlah jawaban yg dibutuhkan anak. “To offer them logical explanations (however true to a scientific mind) is to give them a stone when they ask for bread.”


Properties for storytelling by Tokecang Natural Toys
Simpanlah dalam kepala kita bahwa sampai usia 7 tahun, alam berpikir anak adalah imajinasi tak berbatas. Anak masih sangat terkait dengan alam spiritual. Mereka membutuhkan jawaban yang memberi gambaran utuh tentang suatu hal, dimana jawaban ini disampaikan dalam bentuk deskripsi yang imajinatif. Itulah mengapa dongeng merupakan salah satu cara yang lebih sesuai untuk “menjelaskan” sesuatu pada anak atas pertanyaan-pertanyaannya yang rumit, dibandingkan penjelasan panjang lebar yang berisi konsep, teori, ataupun hubungan sebab akibat.


Di sisi yang lain, mereka baru saja hadir di dunia ini, ingin hadir, ingin mengetahui segala yang ada, ingin melakukan banyak hal, ingin menjalin keterhubungan dengan segala yang ada di dunianya yang baru. Ketika anak bertanya, “Kenapa?” yang mereka inginkan bukanlah penjelasan sebab akibat, melainkan keterkaitan/hubungan/relasi antara apa yang ada dalam diri mereka dengan apa yang ada di luar diri mereka. Hal ini dapat mereka peroleh melalui jawaban yang kita sampaikan dengan suara kita yang lembut, hangat, penuh perhatian, dan segala kualitas suara, komunikasi, interaksi yang manusiawi. Bukan penyampaian yang “kering” seperti ketika menyampaikan sebuah teori yang bersifat intelektual. “They are seeking to bring around them the living tones of the human voice......A child is first nourished by his mother-milk, and then by his mother-tongue.” Keterkaitan/ hubungan/ relasi antara apa yang ada dalam diri anak dengan apa yang ada di luar diri mereka juga dapat mereka peroleh melalui jawaban yang berisi afirmasi yang menunjukkan rasa takjub. Ketika anak bertanya, “Itu apa?” Dan kita menjawab, “Buah naga.” Lalu anak bertanya lagi, “Buah naga itu apa?” Yang mereka butuhkan sebenarnya bukanlah definisi dari buah naga, melainkan afirmasi yang menunjukkan rasa takjub. “Ini dia yang namanya buah naga.” Suara, intonasi, ekspresi wajah, sinar mata kita yang akan menyampaikan ketakjuban itu.


Lain halnya dengan anak yang telah melewati tujuh tahun pertama kehidupannya. Mereka telah meninggalkan dreamy unconscious mind. Imajinasi mereka tak lagi sehebat sebelumnya. Mereka telah berada pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi untuk dapat mengkaitkan jawaban dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Namun bukan artinya mereka membutuhkan jawaban teoritis ataupun scientific. Bagi anak usia 7 hingga 12 ataupun 14 tahun, bukanlah penjelasan matahari sebagai pusat tata surya yang memiliki diameter ratusan kali lipat dari bumi dan memiliki suhu hingga ribuan derajat celcius, yang akan “memuaskan” mereka. Bukanlah penjelasan bahwa bintang adalah bola gas besar yang mempunyai komponen utama hidrogen dan helium. Bagi mereka, apa yang akan memuaskan jiwa mereka adalah matahari yang terbit setiap pagi dengan sinar keemasan yang menghangatkan, memunculkan rasa takjub dan syukur. Bagi mereka, apa yang akan memuaskan jiwanya adalah kilau bintang yang menghiasi langit malam, begitu indah, seolah menggambarkan jiwa mereka yang bercahaya. Apa yang menyentuh hati dan perasaan mereka, itulah yang dibutuhkan anak-anak usia 7-14 tahun.


Nah jadi, jika kita memberikan pengertian yang sifatnya ilmiah sebelum anak berusia 12 tahun, maka kita akan merusak imajinasi dan unsur rasa yang sejatinya ada dalam diri mereka. Dan karena daya dan kemampuan berpikir anak yang belum siap untuk menerima dasar-dasar pemikiran ilmiah, maka penjelasan yang scientific atau bersifat intelektual akan menjadi dogma yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan, bukanlah sebagai sebuah pengetahuan yang dapat tumbuh berkembang. Anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang cara berpikirnya tidak fleksibel, sulit untuk menerima pandangan-pandangan yang berbeda dengan apa yang diyakininya.


Bagian ini mungkin akan menjadi bagian yang paling mengejutkan. Buku-buku yang berisi penjelasan disertai gambar-gambar yang dengan kuat dan detail memvisualisasikan bagaimana cara kerja sesuatu, bagaimana membuat sesuatu, bagaimana sesuatu itu muncul, dan buku-buku sejenis, memberikan kemudahan bagi anak untuk mengetahui bagaimana suatu proses berjalan. Namun juga ternyata memberi pengertian yang sangat dangkal dan terlalu disederhanakan. Ketika anak bertanya gua itu apa, apa yang ada di dalam gua, gimana kalau rumahnya seperti gua, dan kita memberikan sebuah buku yang menjelaskan segala hal tentang gua beserta gambar gua dengan stalaktit, stalakmit dan orang yang jaman dulu tinggal di gua, maka anak akan segera berpikir bahwa ia telah memahami segala hal tentang gua. Anak mengumpulkan segala informasi bersifat teoretis yang membuatnya “lupa” untuk mengamati sesuatu yang akan menghadirkan pemahaman yang berasal dari dalam dirinya sendiri. 


Sangatlah penting bagi anak untuk dapat membentuk gambaran di dalam kepalanya sendiri dari apa yang mereka lihat, dengar dan alami secara langsung. Hal ini akan menumbuh suburkan kreativitas anak dibandingkan jika mereka mendapatkan pengetahuan dari gambar atau foto yang membuat anak dengan mudahnya membuat suatu kesimpulan yang sebenarnya terlalu sederhana dan dangkal. Gambar atau foto yang mengilustrasikan cara kerja sesuatu memberikan kemudahan bagi anak untuk mengetahui bagaimana suatu proses berjalan, namun sangat sedikit unsur rasa dari kondisi nyata yang dapat disampaikan oleh gambar-gambar tersebut. Informasi dari buku dengan ilustrasi seindah apapun, akan sangat berbeda dengan pemahaman yang mengandung unsur rasa yang didapat dari apa yang kita ceritakan kepada anak mengenai suasana gelap dan dinginnya di dalam gua, bagaimana menakjubkannya “taring-taring” yang menggantung di langit-langit gua dan menancap kokoh pada dasar gua, bagaimana suara air yang mengalir di dalam gua dan kehidupan penuh tantangan yang dialami orang-orang jaman dulu di dalam gua. Ketika kita bercerita, anak membentuk gambaran di dalam kepalanya, muncul rasa tertentu di dalam hatinya, dan ketika mereka beranjak dewasa, timbul kehendak untuk mengetahui lebih jauh mengenai kehidupan di dalam gua.

Amatlah penting menjaga kehendak anak untuk bertanya tumbuh subur hingga mereka beranjak dewasa. Ketika mereka memasuki usia 14 tahun dan siap untuk menerima pemahaman secara intelektual, mereka harus memiliki keinginan yang kuat untuk menyelidiki setiap pertanyaan dalam hidup hingga ke dasarnya, bukan hanya terpuaskan oleh teori tanpa pengetahuan. Pada beberapa situasi, sangatlah bijaksana jika kita menjawab pertanyaan anak dengan, “hmmmhhh...apa ya?” Hal ini memberi ruang bagi anak untuk berpikir dalam dunia imajinasinya sekaligus memberi nafas bagi anak untuk menjaga pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tetap hidup. Tak jarang anak kemudian dapat menghadirkan jawabannya sendiri dalam ruang imajinasinya. Suatu hari seorang anak bertanya, “Ko pohonnya ga boleh dipanjat banyakan?” Ketika kita menjawab dengan penuh perhatian dan nada takjub, “hmmmh...kenapa ya?” Anak kemudian berkata, “Soalnya pohonnya kecapean, ngegendong banyak anak.” Jawaban seperti ini juga memberikan gambaran pada anak bahwa tak semua pertanyaan harus terjawab saat ini. Banyak pertanyaan yang harus tetap menempati dan hidup di hati mereka dimana pertanyaan-pertanyaan ini hanya akan dijawab oleh kehidupan itu sendiri.


“You are so young, so much before all beginning, and I would like to beg you, dear Sir, as well as I can, to have patience with everything unresolved in your heart and to try to love the questions themselves as if they were locked rooms or books written in a very foreign language. Don't search for the answers, which could not be given to you now, because you would not be able to live them. And the point is, to live everything. Live the questions now. Perhaps then, someday far in the future, you will gradually, without even noticing it, live your way into the answer. Perhaps you do carry within you the possibility of creating and forming, as an especially blessed and pure way of living; train yourself for that but take whatever comes, with great trust, and as long as it comes out of your will, out of some need of your innermost self, then take it upon yourself, and don't hate anything.” -Rainer Maria Rilke, Letters to a Young Poet-






Sumber : 




Sabtu, 04 Agustus 2018

Parenting - Public Talk - Balikpapan, Jogja, Bandung, Jakarta, Ubud Bali




BALIKPAPAN

Tidak bisa dihindari, bahwa kita hidup di zaman yang serba cepat. Sebagai orang dewasa, kita dituntut untuk mampu berpikir dan bergerak cepat. Kita berharap anak-anak pun demikian. Ketika ada anak yang sedang asik bermain, tiba-tiba kita minta untuk membereskan mainannya karena harus segera tidur, ketika anak sedang tidur, kita membangunkannya untuk segera mandi, ataupun mengajak anak bergegas untuk segera pergi ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi. Apakah masa kecil anak-anak layak untuk diburu-buru?

Dunia ini juga penuh dengan stimulasi. Mulai dari banyaknya buku dan mainan yang bertumpuk di kamar anak, berbagai pilihan game di gadget dan program anak-anak yang tiada henti di televisi, variasi aktivitas yang berbeda setiap hari, topik obrolan seputar dunia orang dewasa saat di rumah. Setiap hari anak akan dibombardir dengan banyak sekali stimuli, yang bisa jadi terlalu banyak, bahkan terlalu berat untuk diproses sekaligus oleh indera-inderanya yang masih sangat sensitif. Sampai mana batas cukup yang bisa diterima anak untuk melindungi pertumbuhan jiwanya?

Ritme keluarga yang terlalu cepat serta stimulasi mainan atau aktivitas yang terlalu banyak dapat memicu berbagai tantangan perilaku, seperti anak yang tidak mau tidur sendiri, anak yang hanya menyukai jenis makanan tertentu, anak yang tidak mau main sendiri tanpa ditemani, anak yang rewel ketika pulang sekolah, anak sering tantrum serta gangguan perilaku lainnya yang menyerupai ADHD.

Solusi dari permasalahan tersebut adalah melalui penyederhaan (simplify). Salah satu caranya, melalui ritme. Ritme bukan merupakan jadwal kegiatan yang tersusun dari jam sekian sampai dengan jam sekian. Lalu apa itu ritme? Bagaimana cara membuat hidup lebih sederhana bagi anak-anak?

"Simplicity Parenting: Less is More for Your Child" yang akan disampaikan oleh Edith mengajak kita untuk memahami arti penyederhanaan (simplify) untuk hidup yang lebih tenang sekaligus melindungi masa kecil anak.

Seiring dengan tema seminar Simplicity Parenting, akan ada juga Workshop Puppet Storytelling), dimana cerita disampaikan dengan suara yang mengalun lembut dan disertai permainan boneka sederhana yang akan membebaskan anak untuk berimajinasi.

Sebagai pelengkap, di area Sunday Market tersedia aneka kuliner dan pameran kerajinan serta mainan yang terbuat dari bahan-bahan natural.
Public Talk: Simplicity Parenting (Less is More for your Child) 
Hari/tanggal : Minggu/29 Juli 2018
Jam: 09.30 - 12.30 WITA
Tempat: Rumah Dinas Wakil Walikota Balikpapan 
Htm: early bird selama bulan juni Rp.100.000
Harga di bulan juli Rp. 125.000

Workshop: Puppet Storytelling
Hari/tanggal : Minggu/29 Juli 2018
Tempat: Rumah Dinas Wakil Walikota Balikpapan 
Jam: 14.00 - 16.30 WITA
Htm: early bird selama bulan juni Rp.150.000
Harga di bulan juli Rp. 175.000


Harga paket public talk + workshop : 
- selama bulan juni: Rp. 225.000
- di bulan juli: Rp. 275.000
Tempat terbatas!
Informasi dan pendaftaran: Ayu (08115459122)




JOGJAKARTA

Di taman kanak kanak waldorf setiap harinya akan sering kita temui anak2 sedang asik bermain panjatan, bergelantungan, berayun-ayun di tali atau ada beberapa anak yang terlihat sedang membantu guru mereka memotong kayu, memasak, mencuci, menyapu atau ada juga yang sedang asik menjahit, menyulam, dan merajut. Lalu kapan mereka akan belajar hal2 yang lebih akademik, seperti membaca menulis dan berhitung? Di taman kanak kanak waldorf membaca, menulis Dan berhitung memang tidak diajarkan secara formal, kenapa?

Di public talk kali ini, Edith Van der Meer akan menjelaskan lebih dalam bagaimana anak anak di taman kanak kanak waldorf belajar dasar - dasar Untuk membaca, menulis dan berhitung .

Public talk Akan diadakan di: Kulila Playgroup, Jumat, 3 Agustus 2018 jam 3 sore.
Info pendaftaran : okta (081513596303)
*tempat terbatas




BANDUNG

"Awaaas...awaaas nanti jatuuh! Tuh kan, udah dibilangin, jangan naek-naek mangkanya!"

"Ga maen basah-basahan gitu ah, nanti nenek ga mau temenin lagi loh. Udah, masuk aja kalo maen aer terus!"

"Naahhh...bilangin Ayah loh nanti. Kotor kan itu, banyak kuman!"

Ayah, Ibu, Kakek, Nenek...ingin memberi kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi tetapi seringkali khawatir akan keamanan mereka? Apalagi kalau liat anak naik tangga, kursi, meja, lemari. Apalagi kalau liat anak lari-lari. Apalagi kalau liat anak maen kotor-kotoran dan basah-basahan. Dan segala macem apalagi lainnya. Bagaiamana cara kita mengawasi anak tetapi tetap memberikan ruang pada mereka untuk bereksplorasi dan mengembangkan kemampuannya? Apalagi kalau kita tinggal bersama orang tua atau mertua. Apalagi kalau sehari-hari anak ditemani oleh nenek, kakek ataupun pendampingnya.

Yu Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, kita cari tahu!
Sabtu 11 Agustus 2018
10.00-12.00
Wisma Joglo
Jl. Raya Resort 19-20 Dago Pakar - Bandung

Discount 50% bagi :
1. Orang tua murid Jagad Alit Waldorf Play & Kinder
2. Peserta kakek atau nenek

Discount 25% bagi :
1. Orang tua Klab Rabu
2. Peserta yang sudah pernah mengikuti public talk Jagad Alit sebanyak minimal tiga kali
3. Peserta umum yang datang bersama dengan suami/istrinya

Discount 15% bagi siapa saja yang bersedia membantu share info ini kepada minimal tiga group whatsapp dan satu social media. 

Discount 100% bagi siapa saja yang dapat mengajak minimal tiga orang menjadi peserta. 

Ket : Tiap orang dengan kriteria dia atas hanya bisa menggunakan kesempatan discountnya untuk satu kriteria saja.




JAKARTA

Membangun ritme keluarga yang kuat, mencari keseimbangan antara kegiatan aktif dan waktu tenang, antara waktu makan dan beristirahat mungkin menjadi hal paling penting dalam pendidikan di rumah. Dari ritme yang sudah sehat kita belajar mengalirkan energi anak ke tempat yang baik, membantu merawat dan memperkuat jiwa raga anak.

Dalam filosofi pendidikan Waldorf, ritme adalah salah satu komponen utama yang memelihara karsa, rasa dan akal anak-anak dengan harapan mereka akan tumbuh menjadi manusia yang seutuhnya. 

Mari, kami undang teman - teman untuk ngobrol tentang bagaimana memelihara ritme bersama Pembicara Edith Van Der Meer, seorang guru Waldorf Kindergarten dari Taikura Rudolf Steiner School New Zealand, Sabtu 18 Agustus nanti di Perpustakaan Nasional RI. 

Ritme adalah hadiah untuk anak dan seluruh keluarga, ritme akan memudahkan kehidupan kita sehari - hari, ritme yang dibangun dengan baik di usia dini akan menjadi bekal yang bisa anak petik manfaatnya kelak ketika ia dewasa nantinya.




UBUD BALI


Edith was a handwork teacher for 14 years and a kindergarten teacher for 7 years at Taikura Rudolf Steiner School in Hastings New Zealand. She is a mother of 4 and grandmother of 7 grandchildren. She is currently coordinating the Steiner Early Childhood Teachers course under the auspices of Steiner Education Aotearoa New Zealand and endorsed by the International Association for Steiner /Waldorf Early Childhood Education (IASWECE). She has been appointed as a mentor for Waldorf Early Childhood in Indonesia by IASWECE and in that capacity visits Indonesia on a yearly basis.

Sabtu, 30 Desember 2017

"Mengajarkan" Rasa Bersyukur pada Anak

Bukan hafalan doa yang kami berikan. Bukan pula nasihat. Bukan juga penjelasan panjang lebar, ataupun sebuah suruhan, melainkan ungkapan rasa syukur yang kami ucapkan sebelum menikmati makanan yang tersaji di meja makan.


Tanah tempat biji tumbuh
Matahari beri kehangatan
Hujan yang memberi kesejukan
Hingga tumbuh daun dan buah
Tangan kanan dan tangan kiri yang mengolah
Hingga tersaji makanan sehat
Membuatku tumbuh tinggi kuat
Kumakan makanan yang baik
Kuberkata perkataan yang baik
Terimakasih pada kalian
Terimakasih pada Pencipta


Waktu makan adalah waktu dimana anak-anak menyambut apa yang tersaji di meja makan dengan senyuman. Bersyukur akan apa yang tersaji dan menikmatinya dalam kehangatan.

Kami menggunakan sebisa mungkin apa yang tumbuh di sekitar kami. Kami memberi kesempatan pada anak untuk ikut memasak. Mereka akan mengetahui darimana dan bagaimana makanan dapat tersaji.

Saat circle time dan story time, kami memasukkan cerita, lagu, dan kata-kata berima yang menggambarkan keindahan alam. Sebelum makan, kami memberikan kata-kata yang menggambarkan bagaimana tanah, hujan, dan matahari memberikan perannya sehingga tumbuh daun dan buah. Tumbuh rasa kagum akan kebesaran alam semesta yang akan menjadi fondasi akan rasa syukur kepada Pencipta.

Anak-anak menunggu hingga semua teman-temannya mendapatkan makanan yang tersaji. Anak-anak menunggu hingga guru selesai mengucapkan kata-kata syukur. Delayed gratification adalah kemampuan untuk menahan diri/menunda kepuasan. Sebuah eksperimen yang dikenal dengan Marshmallow test menghasilkan kesimpulan bahwa ketika dewasa, anak-anak akan memiliki daya konsentrasi dan logika yang tinggi, mampu berada di bawah tekanan, dan akan lebih tenang ketika "terlatih" untuk menunda suatu kesenangan.

Tulisan menarik tentang delayed gratification http://mommiesdaily.com/2013/05/16/%E2%80%9Ctunggu-dulu%E2%80%9D%E2%80%94manfaat-menahan-diri/


Sabtu, 27 Agustus 2016

CATATAN FREE PARENTING DISCUSSION 27 AGUSTUS 2016

Parenting discussion kali ini kami isi dengan sharing pengalaman antara interaksi orang tua bersama anak di rumah dan interaksi kami sebagai guru pendamping anak di sekolah. Beberapa hal yang kami diskusikan berkaitan dengan anak usia 3 sd 6th adalah mengenai :
  • MEMBANGUN RITME KESEHARIAN ANAK DI RUMAH
    • Ritme yang tersusun atas aktivitas breathing in dimana anak berfokus pada dirinya dan breathing out dimana anak memiliki kesempatan untuk menyalurkan energinya akan membantu anak untuk dapat melawati hari dengan rasa sehat. Aktivitas breathing in dan breathing out ini disusun berselang-seling. Begitulah ritme yang dilalui anak saat beraktivitas di Jagad Alit Play and Kinder dari jam 8.00 sd 10.45. Anak-anak datang ke sekolah setelah melalui perjalanan di dalam kendaraan, maka aktivitas yang pertama adalah free play outdoor (breathing out). Setelah hampir satu jam, anak-anak kami ajak untuk mengikuti circle time (breathing in). Lalu kami masuk ruangan. Mereka diberi kesempatan untuk menikmati free play indoor (breathing out), dan kamipun memberi kesempatan bagi anak-anak yang ingin mengikuti aktivitas art and craft atau yang ingin membantu menyiapkan snack (breathing in). Di dalam ruangan ini, biasanya aktivitas breathing out dinikmati anak-anak dalam rentang waktu yang lebih lama daripada breathing in. Kemudian kami menikmati snack bersama. Dan sebelum pulang, anak-anak mendengarkan dongeng (breathing in).
    • Ritme ini tentunya dapat dilanjutkan di rumah. Mulai dari anak tiba di rumah sampai dengan malam hari saat mereka tidur, disusun berselang seling antara aktivitas breathing in dan breathing out. Ada bbrp hal yang bisanya menjadi penyebab anak tidak menikmati harinya yaitu :
      • Kurangnya kesempatan anak utk menyalurkan energinya melalui aktivitas breathing out. Terkadang kita menganggap sepele aktivitas bermain anak. Kita berpikir anak main-main saja tdk jelas, lalu kita mencarikan aktivitas yang KITA nilai lebih bermanfaat, misal menggambar, membaca buku, membuat kerajinan tangan, shg akhirnya aktivitas breathing in lebih mendominasi. Tidak seimbang dengan aktivitas breathing out-nya.
      • Atau sebaliknya. Anak terlalu lelah karena berlarian kesana kemari. Bahkan mungkin makan pun sambil bermain atau sambil jalan-jalan diluar atau sambil lari-lari.
      • Waktu tidur yang kurang atau saat tidur malam terlalu larut. Tidur adalah waktu istirahat yang sangat penting. Beberapa sistem tubuh kita bekerja pada saat kita tidur malam. Energi dapat terbangun kembali setelah kita tidur cukup. Apa yang didapatkan pada hari itu akan terinternalisasi pada saat tidur malam.
    • Ritme yang kurang sehat dapat menyebabkan anak rewel, susah diatur atau over excited. Penting bagi kita untuk memperhatikan ritme yang sehat, daripada menilai bahwa anak kita adalah anak yg sulit diatur atau sering rewel.

  • MENETAPKAN BATASAN-BATASAN YANG SEHAT (HEALTHY BOUNDARIES)
    • Anak MEMBUTUHKAN boundaries agar mereka merasa aman. Tetapi anak tidak tahu batasan-batasan tersebut. Sehingga mereka terkadang/sering menguji kita utk mencari jawaban sampai dimana batasan-batasan tersebut. Mereka melakukan hal ini dan itu yang mungkin menurut kita sengaja mereka lakukan untuk membuat kita kesal atau marah. Atau mungkin kita kemudian beranggapan anak tersebut jahil atau nakal. Sekali lagi, mereka sedang mencari jawaban. Dan kitalah sumber jawaban tersebut. Tantangannya adalah bagaimana memberikan batasan yang sehat, tidak terlalu longgar dan tidak terlalu ketat sehingga anak malah tidak punya ruang untuk mengekspresikan dirinya. Tantangan lainnya adalah bagaimana kita konsisten terhadap batasan yg telah kita tetapkan. Jangan sampai saat ini kita berkata tidak, tetapi di lain waktu kita berkata iya. Atau kita berkata tidak tetapi ketika anak marah atau menangis atau tantrum, lalu kita berubah pikiran.
    • Salah satu faktor penentunya adalah KOMUNIKASI. Bagaimana cara kita menyampaikan batasan-batasan tersebut. Dari beberapa sumber bacaan dan dari pengalaman mendampingi anak-anak di Jagad Alit, maka hal-hal yang sebaiknya diperhatikan adalah :
      • Sebelum kita menetapkan boundaries, tanya dulu pada diri sendiri, “apa manfaat/tujuan dari batasan ini?” “Apakah kita menetapkan batasan ini demi kepentingan anak atau demi kepentingan kita?” Seperti yang dikatakan Steve pada saat public talk dan spt yg ada dalam bukunya, THINK FIRST, THEN TALK - WAIT (What am I thinking? Why am I talking?) Misal, anak berlarian kesana kemari. Ketika kita menginginkan anak utk tdk berlarian, pikirkan dulu apakah demi keselamatan anak atau karena kita tidak mau mendengar suara-suara berisik dan kita tidak mau ruangan jadi berantakkan?
      • Ketika kita sudah yakin batasan itu demi kepentingan anak, maka sampaikan dengan kata-kata positif, “lari-larinya di luar ya...” Untuk beberapa situasi atau beberapa anak, mungkin saja kata-kata positif ini tidak mempan. Maka bukanlah hal yang tidak boleh untuk berkata “TIDAK.” Tetapi berdasar pengalaman kami, jangan berkata “JANGAN.” Ada perbedaan antara kata TIDAK/NOT dengan JANGAN/DON’T. “Ruang tamu tidak dipake untuk berlari-lari” menunjukkan bahwa kita adalah si pembuat peraturan/batasan dan itulah batasannya. “Jangan berlari-lari di ruang tamu” menunjukkan larangan, yang biasanya semakin dilarang, anak-anak malah melakukan hal tersebut untuk menunjukkan keberadaan dirinya. Kita ingat-ingat lagi dari bbrp materi public talk di Jagad Alit bahwa “I” atau “ego” anak mulai muncul saat mereka berusia 3 tahun.
      • Fokus pada objek atau predikat. bukan pada subjek pelaku agar anak merasa tidak dihakimi/disalahkan/dilarang. Hal ini bisa kita lakukan dengan menggunakan predikan/objek sebagai kata pertama. “LARI-LARINYA di luar ya.” Atau “RUANG TAMU tidak untuk berlari-lari.” Kalau kita memulai dg subjek pelaku maka akan spt ini “Manda, jangan lari-lari di ruang tamu,” atau “Manda, lihat ruang tamunya jadi berantakkan kan...”
      • Bicara hanya dengan beberapa kata dan perlahan-lahan (tidak cepat-cepat). Anak usia 7 th ke bawah BELUM memiliki kemampuan untuk memperhatikan penjelasan yang panjang lebar. Mereka juga belum memiliki kemampuan untuk memproses kata-kata secepat orang dewasa. “Lari-larinya di luar ya..” yang diucapkan pelan-pelan (jika perlu, seperti orang sedang belajar baca) akan lebih dapat diproses oleh anak daripada jika kita berkata, “larinya di luar jangan di ruang tamu, sempit kan...nanti kamu kesandung dan jatuh, atau nanti vas bunganya kesenggol. Kalo pecah gimana coba...ga bisa cari gantinya...nanti ibu sedih lo...”
      • Ketika kita menyampaikan batasan tersebut, yakinlah bahwa anak akan mendengarkan kita. Jangan ada perasaan ragu-ragu atau khawatir bahwa anak akan melawan. Keragu-raguan kita akan dapat dirasakan oleh anak melalui intonasi, ekspresi wajah, dan gesture kita. Secara tidak sadar, keragu-raguan itu akan tercermin ketika kita bicara. Dan ketika anak merasakan itu, maka mereka yang ambil alih kendali.
      • KONSISTENSI. Yakin dan konsisten thd apa yg sudah kita jadikan batasan. Anak punya berbagai cara untuk menguji konsistensi kita. Begitu kita tidak konsisten, maka cara itu akan dijadikan senjata dalam menghadapi situasi-situasi menantang lainnya.
    • Semua berproses. Tidak dlm sekejap, tdk dalam sehari dua hari, tidak dalam satu, dua, atau tiga kejadian. Sabar dan konsisten serta amati setiap kejadian sehingga kita bisa menemukan pendekatan yang pas bagi anak kita. Setiap anak berbeda. Parenting adalah seni bukan hanya ilmu. Dan ingat jg bhw anak belajar dari proses IMITASI. Ingat-ingat juga bahwa mendongeng dan bounding memegang peranan yang tdk kalah pentingnya.
  • PERANAN ORANG DEWASA SELAIN AYAH DAN IBU DI RUMAH
Ketika ada orang dewasa selain ayah dan ibu yang tinggal di rumah yang sama, maka tantangan utk membangun ritme dan boundaries yang sehat mungkin akan semakin besar. Apalagi kl ada perbedaan persepsi dan gaya pengasuhan. Ditambah lagi jika kita powerless karena berbagai sebab, misal : ga enak sama orang tua, ga enak sama mertua, takut menyakiti hati mereka, ga enak krn mereka yg seringnya ngasuh sementara kita seharian bekerja, dll. Makin banyak “tangan” yang terllibat dalam pengasuhan anak, maka tantangan akan semakin besar. Utk hal ini sepertinya blm banyak yg bisa dibahas, kecuali masalah KOMUNIKASI. Bagaimana menyampaikan kpd org yg terlibat dlm pengasuhan anak mengenai batasan-batasan sehingga tdk terjadi double standard. Perasaan tdk enak dll itu mungkin bisa dipertimbangkan dg pemikiran bhw yg kita lakukan adalah demi kepentingan anak, bukan demi kepentingan pihak-pihak lain. Tentunya setelah kita yakin benar bahwa apa yang kita tetapkan memang utk kepentingan anak.

Kira-kira itulah yang kita diskusikan.
Semoga bermanfaat dan sampai bertemu bulan depan

Minggu, 01 Mei 2016

Hari Pendidikan Nasional

Apakah pendidikan yang kita terima sejak kecil hingga sekarang kita telah dewasa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

“Who am I and why do I exist?
What is my role in life and in the community?
How can I influence and make a difference in the world?”

Pendidikan seharusnya merupakan sarana untuk dapat melihat, membaca, memahami, dan memaknai kehidupan. Mempersiapkan anak,sehingga ketika dewasa mempunyai KEBEBASAN untuk memilih perannya di dunia ini.

Bagi saya pribadi, pertanyaan pertama dari ketiga pertanyaan itupun belumlah terjawab....

Pernyataan inilah yg kemudian mengawali ketertarikan saya utk mempelajari pendidikan waldorf

“Our highest endeavor must be to develop free human beings who are able of themselves to impart purpose and direction to their lives. The need for imagination, a sense of truth, and a feeling of responsibility—these three forces are the very nerve of education.”

-Rudolf Steiner-

Masih banyak pertanyaan yang ada dalam benak saya. Semoga terjawab di hari pertama Public Talk with Horst Hellmann and Sharing Session with Gobind Vashdev pd tanggal 16 Mei nanti...(2 hari setelah saya berumur empat puluh sekian tahun...)


Senin, 25 April 2016

Mindfulness for Moms bersama Adjie Silarus

Ketika alam semesta dan Sang Pencipta mengijinkan, maka hadirlah apa yg kita impikan. Hadir penuh...utuh... Bermula dari suatu waktu saya menemukan bukunya Adjie, Sejenak Hening, (secara kebetulan), kemudian (secara kebetulan) saya sharing di sebuah grup mengenai proses apa yang sedang saya lakukan yaitu diantaranya belajar utk mindful  kemudian kami berdiskusi mengenai isi buku tsb dan kemudian ada keinginan utk mengajak sang penulis buku utk bisa berbagi, berlanjut dengan saya upload buku Sejenak Hening di facebook dg mention Adjie Silarus dan (secara kebetulan) mendapat sahutan dari ybs dan salah seorang anggota grup, Shanty, maka bertemulah kami....(secara kebetulan = ketika alam semesta dan Sang Pencipta mengijinkan, karena tdk ada 1 kejadianpun yang terjadi secara kebetulan).




Mindfulness adalah sebuah konsep yang sebetulnya berasal dari budaya Timur. Sebut saja “salse/nyalse,” dlm artian rileks, santai, tdk terburu-buru, tdk dikejar-kejar sesuatu, mengerjakan sesuatu dlm kondisi yg nyaman. “Legowo,” dlm artian ikhlas, hati yang ikhlas baik dalam menerima sesuatu ataupun melepaskan sesuatu. Konsep ini sdh ada sejak lama dalam budaya Timur namun sayangnya kita kurang menyadari filosori yang terkandung di dlmnya.

Mindfulness..hadir penuh..utuh..disini..saat ini. Hadir penuh dan utuh, bukan hanya raga tetapi juga jiwa. Ketika kita berinteraksi atau bermain dengan anak, sangat penting kita “hadir,” bukan hanya fisik kita ada di dekat anak tetapi juga pikiran dan hati kita ada bersama anak secara utuh. Anak memiliki kemampuan yang luar biasa utk merasakan kondisi kita, termasuk ketika kita tdk hadir penuh utuh. Anak yang rewel, bisa jadi bukan karena kondisi mereka, tetapi krn kondisi kita yg tdk hadir penuh utuh. Anak bisa merasakan itu! Coba saja ketika waktunya tidur siang. Semakin kita menginginkan anak utk cepat tidur krn yg ada dlm pikiran kita adalah cucian yg masih numpuk, hrs cepat-cepat pergi krn ada janji meeting dg org, pekerjaan-pekerjaan yg belum selesai, maka semakin anak tdk bisa tidur cepat. Mereka bisa merasakan emosi kita, mereka bisa merasakan kondisi kita yg sedang terburu-buru hrs pergi, mereka bisa merasakan ketidaktenangan kita krn ada pekerjaan-pekerjaan yg hrs segera diselesaikan. Mindfulness..hadir penuh..utuh..disini..saat ini. Disini saat ini. Bukan besok atau minggu depan atau bulan depan atau tahun depan. Bukan pula kemarin atau minggu yang lalu atau bulan yang lalu atau tahun yang lalu. Masa depan belum terjadi dan masa lalu sudah terjadi. Kita ada sekarang, di saat ini, disini. Bukan artinya kita tdk memikirkan masa depan atau visi atau cita-cita kita. Bukan pula artinya kita tdk memikirkan masa lalu utk mengambil pelajaran dari masa lalu tsb. Tetapi saat ini yg kita pikirkan adalah apa yg ada di hadapan kita.  Melepaskan masa lalu, tidak terlalu merisaukan masa depan, tapi tetap melakukan pembelajaran akan yang terjadi di masa lalu, dan lebih matang merencanakan.

Pembelajaran masa lalu hanya bisa dipetik ketika sadar penuh di sini kini.
Perencanaan matang masa depan hanya bisa dibuat ketika sadar penuh di sini-kini.  Mindfulness melatih diri bukan untuk berinovasi (cepat), tapi lebih ke kaizen (perlahan tapi pasti). Tujuan jangka panjang dibreakdown sedetail mungkin  

Ketika kita sedang mengerjakan sesuatu tetapi pikiran kita mengembara ke masa lalu (kenapa ya kemarin saya tdk melakukan itu) ataupun masa depan (apa ya yg bsk hrs sy kerjakan) secara bersamaan, maka apa yg kita kerjakan saat ini akan tdk optimal. Tanpa kita sadari, kita akan lebih tdk efektif dan akan lebih tdk efisien ketika kita melakukan sesuatu secara bersamaan (multi tasking). Dan yg terpenting, kita akan merasa tdk tenang. Hidup menjadi sebuah beban yg cukup berat, krn ada kekhawatiran akan masa depan dan (mungkin) penyesalan akan masa lalu.

Mindfulness jg berarti berani melepaskan. Hidup pada akhirnya sebenarnya adalah sebuah proses melepaskan...mengikhlaskan sesuatu yg melekat. Kehidupan adalah belajar utk melepaskan bukan belajar mendapatkan.  Berani memilih apa yg hrs kita lepaskan dan berani menerima apa yg sdh pada saatnya kita lepaskan. Yg pertama adalah berani utk mengatakan tdk utk kesempatan yg tdk sejalan dg nilai-nilai kita dan yg kedua adalah berani utk melepaskan apa yg sdh kita usahakan sedemikian rupa tetapi ternyata alam semesta dan Sang Pencipta tdk mengijinkan, krn mgkn hal itu bukanlah yg terbaik bagi kita. Batasan utk mengatakan tdk...kapan kita memilih utk mengatakan tdk, ada pd diri kita sendiri. Terkadang kita lebih mengarahkan lensa kita keluar (melihat dan mendengarkan org lain melalui berbagai media dan kemudian membandingkan diri kita dg org lain), dan memberikan porsi lebih sedikit utk mengarahkan lensa kita ke dalam (melihat, mendengarkan, dan merasakan kemampuan kita sendiri). Seyogyanya keduanya berjalan seimbang. Seperti  filosofi Timur Sisi  Yin-Yan , manusia itu dibagi dlm 2 ranah yaitu being dan doing. Seringkali kita berperan sebagai human doing daripada human being.  Kita akan akan kelelahan tanpa dibekali being.


Visi, cita-cita, keinginan, juga berharap, bergerak cepat, masa depan, mendapatkan dan berusaha supaya tidak lepas yang sudah didapatkan itu termasuk “Doing.”
Sedangkan yang termasuk “Being” adalah menerima, ikhlas, bersabar, hening, saat ini, di sini-kini. 

Catatan sy dari apa yg sy bisa cerna. Mohon maaf jika ada kekeliruan dalam menangkap.  Hidup tak hanya terus bergerak dalam riuh keramaian , tapi juga sesaat butuh terdiam dalam keheningan.

Terimakasih tak terhingga utk Adjie Silarus, Shanty, dan teman-teman. Terimakasih juga tentunya  kpd Ira, utk bantuan dan foto-fotonya. Ada secercah harapan utk bisa bertemu dan berdiskusi lagi karena dlm konsep pendidikan Waldorf, salah satu tugas guru dan orang tua adalah melakukan inner working, refleksi dan pembelajaran ke dalam diri sendiri utk mengeluarkan yang terbaik bagi anak-anak kita....


Minggu, 10 April 2016

PUBLIC TALK by HORST HELLMANN


PUBLIC TALK
Speaker : HORST HELLMANN

May 16 (16.00-18.30) 
ASPECTS OF THE WALDORF CURRICULUM
Waldorf school education is not a pedagogical system 
but an art- the art of awakening what is actually there 
within the human being

May 17 (09.00-11.30) 
STORYTELLING ENHANCES THE STRENGTH OF THE CHILD'S SOUL 
What kind of stories shall we tell to our kids at what age? 
Choose the right picture books.

May 18 (16.00-18.30) 
WRITING, READING, BRAIN DEVELOPMENT
Are the children ready to learn? Are we unconsciously pushing them? The danger of early learning!

May 19 (09.00-11.30) 
DISCIPLINE, PUNISHMENT, AWARD, AND GUIDANCE FOR AGE 3-12
Three principles in education: fear, ambition and love. 
Each age in human development is different.

Single session 150K
Full three days 375K
Full four days 475K

Venue : Jagad Alit - Waldorf  School
Jl. Babakan Jeruk IIIE Bandung - Indonesia

To register please contact :
jagadalit.waldorfschool@gmail.com
SMS/WA only 0812-2266-4736


About Horst Hellmann
Born in 1943 in Germany. Horst Hellmann has spent 30 years teaching in Steiner schools. Since 1982 he has been giving seminars to teachers who want to be Steiner Waldorf teachers in Australia, India, Philippines, Thailand and Taiwan. He has been involved in setting up of 14 schools across Australia and Asia, as well as the teacher training seminar in Iloilo in 2005. In 2004, he resigned from active teaching and became more active in Asia, especially supporting new initiatives. At present he is focusing on a young waldorf-inspired school in Davao, Tuburan Institute, and Dulyapat in Khonkaen, Thailand.

Kamis, 14 Januari 2016

Public Talk



It's an honor to have them!
Public talk
February 6, 2016 - 09.00
at Jagad Alit - Waldorf

Anneke Maissan
Anneke has worked as a nurse for 22 years in an Anthroposophical Health care centre. Since 1991 she has a private practice as a psycho social worker, doing biography work, relationship work, and counselling. She wrote a book: ‘Opvoeden is mensenwerk’ (Education is human work).
About her talk: The four steps to maturity. Anneke will speak about the elements that are important during the three seven year periods of the child’s development i.e. reverence, learning by example and imitation, loving authority and truth, so when the child turns 21, he or she may have truly matured.

George Maissan
George has worked for 35 years as an Anthroposophic doctor at the Therapeuticum Calendula in Gouda, Holland. He also worked for Weleda and wrote a repertorium for young doctors about anthroposophical medicines.
About his talk: Waldorf Education as a healing art. When we speak about the healing art of Waldorf education we presume that people are ill before they receive education. The notion of illness is not about regular illness. We will work this out by using the concept of the Three-fold human being.

Edith van der Meer
Edith has been a handwork teacher at Taikura Rudolf Steiner School, Hastings, New Zealand for 14 years and a kindergarten teacher at the same school for 7 years. She is currently involved in kindergarten support, and gives parent and craft courses. She helps to coordinate the Steiner Early Childhood course at Taruna College in New Zealand.
About her talk: Simplicity Parenting. Today’s busier, faster society is waging an undeclared war on childhood. With too much stuff, too many choices, too little time, children become anxious. There are ways to help parents reclaim for their children the space and freedom needed for the child’s individuality to flourish.

Minggu, 22 November 2015

Free Parenting Session

Free parenting session

Sabtu 28 Nov 2015
11.00 - 12.30
Jagad Alit - Waldorf
Jl. Babakan Jeruk IIIE Bandung

Untuk para orang tua, kita kumpul lagi yu!
Kali ini kita akan membahas mengenai ritme keseharian di rumah. Ritme berbeda dengan schedule. Apa bedanya? Nanti kita bahas.

Dalam rangka mendukung deklarasi Hari Dongeng Nasional, akan ada juga sesi mendongeng yang mudah-mudahan dapat menjadi inspirasi bagi para orang tua untuk mendongeng di rumah.

Konfirmasi melalui email jagadalit.waldorfschool@gmail.com


Senin, 02 November 2015

Pendidikan mainstream, pendidikan alternatif, dan pendidikan Waldorf

Free parenting session tgl 31 Okt membahas ttg berbagai jenis konsep pendidikan yang ada. Mulai dari ruang kelas, area outdoor, mainan-mainannya, metoda pendidikannya, guru-guru dan cara pendekatan ke anak, dan banyak lagi. Mudah-mudahan apa yang dibawa pulang, dapat menjadi bahan pertimbangan memilih  konsep pendidikan yang paling baik untuk anak-anak kita. Setiap anak itu unik. Konsep pendidikan yang satu akan cocok untuk seorang anak, tetapi mungkin kurang cocok untuk anak yang lain.


Rabu, 28 Oktober 2015

Free Parenting Session

Bagi para orang tua yang memiliki anak usia 3-6th, sekarang ini banyak sekali sekolah yang menjadi alternatif. Mulai dari playgroup dan TK yang berkonsep umum atau yang mengusung konsep khusus seperti leadership based, entrepreneurship based, religion based, sekolah alam, Montessori, Waldorf, atau mungkin Reggio Emilia. Orang tua yang memilih homeschooling-pun biasanya menggunakan konsep tertentu untuk mendampingi anaknya. Pada dasarnya semua konsep memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Hanya saja pendekatannya yang berbeda-beda.

Pendidikan seperti apakah yang paling sesuai untuk anak kita?
Sharing yu! Supaya kita mendapatkan masukan-masukan untuk memilih konsep pendidikan yang terbaik bagi anak kita, baik bagi orang tua yang bermaksud untuk menyekolahkan anaknya ataupun orang tua yang memilih untuk homeschooling.

Free parenting session
Ditujukan terutama bagi para orang tua 
yang memiliki anak usia 3-6th
Sabtu 31 Oktober 2015
Jam 10.00-12.00
di Jagad Alit - Waldorf
Jl. Babakan Jeruk IIIB no 18 Bandung

Mohon konfirmasi kehadiran by email jagadalit.waldorfschool@gmail.com atau whatsapp ke 087823152314



Rabu, 30 September 2015

Rundown Workshop

Demi kenyamanan dan kelancaran acara, maka kami membatasi jumlah peserta workshop dan saat ini target peserta hampir terpenuhi. Terimakasih untuk teman-teman yang telah mendaftar. Berikut adalah rundown acaranya.

The Senses as The Windows to Connection With The World
Workshop with Stephen Spitalny
October 3, 2015
09.00 - 15.00
Jagad Alit - Waldorf Playgroup & Kindergarten
Jl. Babakan Jeruk IIIB no 18 Bandung

Registration fee 300K
(snack and lunch included)

To register, please contact 
fani.funy@gmail.com cc jagadalit.waldorfschool@gmail.com
limited for 25 seats


Kamis, 24 September 2015

Confirmed Oct 3, 2015
The Senses as The Windows to Connection With The World
Workshop with Stephen Spitalny

October 3, 2015
09.00 - 15.00
Jagad Alit - Waldorf Playgroup & Kindergarten
Jl. Babakan Jeruk IIIB no 18 Bandung

Registration fee 300K
(snack and lunch included)

To register, please contact 
fani.funy@gmail.com cc jagadalit.waldorfschool@gmail.com
limited for 25 seats


Minggu, 13 September 2015

Perkembangan Indera Anak

Manusia tidak hanya memiliki 5 panca indera tetapi ada 12 indera yang berkembang sesuai dengan tahapan usianya Perkembangan indera peraba, indera kehidupan, indera gerak dan indera keseimbangan pada usia 0-7 tahun akan mempengaruhi perkembangan indera di tahapan usia selanjutnya.
The Senses as The Windows to Connection With The World
Workshop with Stephen Spitalny

September 19, 2015
09.00 - 15.00
Jagad Alit - Waldorf Playgroup & Kindergarten
Jl. Babakan Jeruk IIIB no 18 Bandung

Registration fee 300K
(snack and lunch included)

To register, please contact 
fani.funy@gmail.com cc jagadalit.waldorfschool@gmail.com
limited for 25 seats

Dear friends... Mr. Stephen Spitalny has come to Indonesia. But due to unpredictable.medical necessity on Mr. spitalny's part, unfortunately we have to postpone the workshop. most likely until Friday, 2nd Oct.
Please wait for further confirmation.
---
Teman-teman... Mr Stephen Spitalny sudah tiba di Indonesia. Tetapi diakibatkan ada kepentingan mendadak yang menyangkut kesehatan pihak Mr. Spitalny, dengan terpaksa, kami menunda workshop ini. Diperikirakan hingga Jumat, 2 Oktober. Mohon tunggu konfirmasi selanjutnya.