Rabu, 21 Desember 2016

WORKSHOP - Kekuatan Musik Dalam Kehidupan Anak

"Madu telah habis.
Kupu-kupu dan lebah senang di hati.
Berbagi madu berbagi ceria.
Bersama-sama bersuka cita."
Itulah lagu yang kami nyanyikan ketika anak-anak berebut mainan atau enggan berbagi.

"Taratatataaa...dududududuuuu...siapkan tanganmu. 
Rapikanlah mainannya simpan di tempatnya."
Itulah lagu yang kami nyanyikan ketika mengajak anak merapikan mainan.

"Kulihat awan seputih kapas.
Arak berarak di langit luas.
Andai kudapat kesana terbang.
Akan kuraih kubawa pulang."
Lagu itu kami nyanyikan ketika seorang anak tantrum atau ketika kami menghadapi keunikan dari seorang anak berkebutuhan khusus.


Musik adalah penyejuk jiwa. Musik adalah rangkaian kata dan melodi untuk menyampaikan pesan bukan dalam bentuk wejangan, suruhan, ataupun bentakkan. Musik adalah salah satu alternatif untuk membantu mengatasi masalah fokus pada anak.

Tangga nada pentatonik, mood of the fifth, alat musik yang dinamakan lyre mungkin merupakan hal-hal yang baru kita dengar yang ternyata berperan besar dalam kehidupan anak.

Februari 2017, bagi para orang tua, guru, psikolog, ataupun pihak lain yang berkecimpung dalam hal tumbuh kembang anak dan peduli pada musik anak, kita akan bersama-sama mempelajari lagu dan permainan anak, membuat lagu bagi anak sesuai dengan kebutuhannya, belajar memainkan alat musik lyre, konsultasi individu bersama dengan Gotthard Killian, seorang musisi dari Australia.



Info lain : email jagadalit.waldorfschool@gmail.com
WA : 082116595559 (Mela)
FORM PENDAFTARAN http://bit.ly/JA_WORKSHOPS

Minggu, 18 Desember 2016

Merayakan Perjalanan Mereka

Ketika kami merasa tangan, hati, dan isi kepala kami tidak mampu menuliskan apa yang telah anak-anak lalui dalam perjalanan mereka hanya dalam satu atau dua digit angka, abjad, ataupun simbol-simbol lainnya, ketika kami merasa tidak "berhak" menilai apa yang telah anak-anak lakukan, maka akhirnya kami "hanya" dapat bercerita mengenai perjalanan mereka. 

Cerita itu diawali dengan pertanyaan Ibu Manda, salah seorang guru di Klab Anak Rabu sekaligus juga tempat kami bertanya ini dan itu. "Apakah udah tau gimana kepengennya orang tua dalam menyikapi raport? Apakah raport ini sangat penting dan sangat besar untuk orang tua? Jadi bahan orang tua menilai anak dan menilai sekolah seperti secara tradisional rapotan di Indonesia selama ini? Atau apakah rapotan ini hanya pelengkap dari peralatan pendidikan anak? Merupakan hal yang penting tetapi tidak sangat penting." Pertanyaan dalam beberapa kalimat yang kemudian kami cerna sebagai "Apakah kita, pihak sekolah, menginginkan orang tua memandang raport itu sesuatu yang segalanya yang dapat menjadi alat untuk menilai anak?" Suara hati ini kemudian menjawab "Tidak." 

Maka kami merangkai ribuan kata dalam sebuah buku cerita perjalanan mereka. Buku ini dapat kami selesaikan dalam waktu yang tidak begitu lama, namun apa yang ada  di dalamnya diambil dari cerita yang kami buat setiap hari. Apa yang dapat kami lihat, dengar, rasakan, dan kami ingat setiap harinya. Buku ini dan semua yang dilakukan anak-anak kemudian menjadi sumber pembelajaran kami.  Dari anak-anaklah kami banyak belajar. Anak-anak adalah guru kehidupan bagi kami. 



“Where is the book in which the teacher can read about what teaching is? The children themselves are this book. We should not learn to teach out of any book other than the one lying open before us and consisting of the children themselves.”  
-Rudolf Steiner-

Maka jika kita mencari satu bentuk "penilaian" dalam buku itu, mungkin inilah yang dapat ditemukan, "Apakah kami memberikan lingkungan yang aman bagi anak baik secara fisik maupun psikologis? Apakah kami sebagai guru merupakan sebuah kurikulum? Karena anak akan meniru apa-apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dari kami."

“You have no idea how unimportant is all that the teacher says or does not say on the surface, and how important what he himself is as teacher.” 
-Rudolf Steiner-

“You will not be good teachers if you focus only on what you do and not upon who you are.” 
-Rudolf Steiner-






























Buku ini dan beberapa hasil karya anak-anak kami bagikan untuk dilihat, dibaca, dan dijadikan bahan refleksi di rumah, karena kami berharap buku ini tidak semata menghasilkan komentar spontan berisi pujian berlebih, evaluasi, ataupun komentar spontan membanding-bandingkan anak, "waahh...liat temen kamu udah bisa gambar orang."  Kami ingin buku ini menjadi kenangan indah yang menggambarkan betapa besarnya perjuangan seorang anak dalam perjalanan hidupnya. 

Dan saat ini adalah saat untuk mensyukuri dan merayakan perjuangan mereka hingga sampai pada moment kehidupannya saat ini. "Memaknai Hari Kelahiran," itulah tema yang  kami ambil untuk moment ini bersamaan dengan kelahiran beberapa orang di Bulan Desember yang dalam perjalanan hidupnya dapat memberikan makna bagi kehidupan dirinya dan orang lain. Bersamaan juga dengan moment Hari Ibu di Indonesia. Betapa besar dan mulia perjuangan seorang ibu. Dan sebagai seorang ibu, ayah, ataupun guru, marilah kita membuka mata hati kita untuk merasakan betapa besar perjuangan seorang bayi di dalam kandungan, hingga ia menemukan jalan lahirnya, membuka matanya, menggerakkan tangan dan kakinya, sampai pada moment kehidupannya saat ini. 













Selasa, 22 November 2016

Birthday at Jagad Alit

Celebrating a birthday is a time-honoured ritual. It is a day to recognize our birth, and the ongoing biographical journey we undertake. It can be a time for reflection on the growth and change we have experienced over the past 365 days and perhaps, to make adjustments to our course. It can be a time to peer through the looking glass into the future. A birthday can act as our own personal ‘New Year’; a time to set goals for our dreams, quietly and unobtrusively. 











We try to create something more meaningful for children. A birthday celebration acknowledges that the child has willingly entered into this life contract with a preconceived purpose. It then becomes a chance to give support to and give gratitude to this brave individual as they navigate through the ups and downs of life. It is also a chance for us to see beyond the outer exterior of a person and fish a little deeper.











In every way the celebrations were a simple recognition of our ‘birth-to-earth’ day and the fact that we all as spiritual beings with an individual soul “come from the stars”. A crown and cape worn by the child for the entire morning highlighted the fact that the child was King or Queen for the day. Teachers adapted the rainbow bridge birthday story and made the story their own to adapt to their children.



















Rabu, 26 Oktober 2016

Public Talk hari ketiga



Coba bayangkan ketika kita memiliki 2 orang bos di kantor. Bos yang satu mememerintahkan kita melakukan ini dan bos yang lain menyuruh kita menyelesaikan itu. Apa yang kita rasakan? Apa yang kemudian akan kita lakukan?

Ayah/Ibu : Pake sepatunya, kamu sudah bisa pake sendiri.
Kakek/nenek : sini, kakek pakein sepatunya. kasian dari tadi ga selesai-selesai pake sepatu.
Ayah/Ibu : Kalau sudah selesai main, dibereskan ya
Kakek/Nenek : Ga apa-apa, biar nanti nenek yang bereskan
Ayah/Ibu : Kenapa belum tidur? Ko masih nonton TV?
Kakek/Nenek : Tadi disuruh tidur ga mau, biar aja dia nonton dulu sebentar

Apa yang dirasakan anak ketika dia menghadapi 2 orang atau bahkan mungkin 4 orang bos di rumah? Karena bisa jadi pola asuh antara Ibu, Ayah, Nenek, Kakek masing-masing berbeda. Apa yang kemudian dilakukan anak? Apalagi jika kita tinggal di rumah mertua. Apalagi jika kemudian suami berkata "aahh biarinlah, ga enak kan kita sama ibu bapak, gitu aja ko diambil pusing."

Sistem kekeluargaan di Indonesia membuat orang-orang terdekat seperti kakek dan nenek menjadi pemeran pengganti saat orang tua terutama sang ibu saat bekerja. Pengasuhan yang dilakukan kakek dan nenek sering disebut grandparenting. Bisa diartikan grandparenting adalah kesempatan kedua yang lebih besar atau hebat (grand) untuk menjadi orangtua (parent) “kembali”. Pola asuh yang berbeda antara orangtua dan kakek-neneknya akan membuat si kecil tidak memiliki pegangan atau patokan yang jelas bagaimana seharusnya berperilaku.

Selasa, 25 Oktober 2016

Public Talk Hari Kedua



Bayangkan ketika kita sedang santai di rumah atau sedang memasak atau sedang mengerjakan pekerjaan rumah lainnya, tiba-tiba datang seorang tamu yang belum kita kenal. Apa yang kita rasakan? Kita akan bertanya-tanya siapa tamu itu, ada keperluan apa, apakah maksud kedatangannya baik atau buruk? Kita merasa cemas, was-was, atau bahkan merasa tidak aman. Bisa jadi kita kesal karena merasa terganggu oleh kedatangan yang tiba-tiba saat kita sedang mengerjakan sesuatu. Dan kemudian di tengah-tengah pembicaraan dengan tamu tersebut, kita teringat akan masakan yang belum selesai, cucian yang masih menumpuk, kamar yang masih berantakkan.

Keadaan seperti itulah yang juga dialami oleh anak ketika kita tiba-tiba meminta anak yang sedang asik bermain, untuk membereskan mainannya karena harus segera tidur, membangunkan anak untuk segera mandi, ataupun mengajak anak ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi.

Ritme bukan merupakan jadwal kegiatan yang tersusun dari jam sekian sampai dengan jam sekian. Lalu apakah ritme itu? Mengapa kegiatan anak harus berselang-seling antara kegiatan yang sifatnya mengarah pada dirinya sendiri dan kegiatan yang sifatnya mengarah keluar dirinya? Apa kaitan ritme dengan anak yang tidak mau tidur sendiri, anak yang hanya menyukai jenis makanan tertentu, anak yang tidak mau main sendiri tanpa ditemani, anak yang rewel ketika pulang sekolah? Apa kaitan antara ritme dengan ADHD?

"You and I" situation yang akan disampaikan oleh Edith berjalan beriringan dengan mindfulness, "Sadar Penuh Hadir Utuh," yang akan disampaikan oleh Adjie Silarus. Bukan hanya pemberian materi, tetapi juga berlatih untuk menyusun sebuah ritme dalam keluarga.

Senin, 24 Oktober 2016

Public Talk Hari Pertama

“Kenapa aku ga boleh maen bola di dalem rumah, kalau di rumah nenek boleh..."
"Kok Aldi sama Mamanya dibolehin makan permen...kenapa aku ga boleh..,"
“Gak mau...aku ga mau mandiiiii...itu kakak juga belum mandi...”
“Aku ga mau makan...ga suka!”

Pernah dengar kata-kata seperti itu? Lalu apa yang kita ucapkan sebagai orang tua? "Ya udah...sekali ini aja yaaa..." Itukah yang kita katakan? Hmmmhhh...lalu apa yang terjadi?


Rabu, 19 Oktober 2016

Public Talk - Parenting



Oct 28
19.00-21.00
TALK WITH Edith Van der Meer
LOVING AUTHORITY AND DISCIPLINE
Raising a child in today’s world is increasingly difficult and a most formidable task.
Establishing clearly articulated and well considered expectations as well as firm boundaries are
a very necessary part of successful parenting. True freedom is only possible if there are boundaries and limitations.
So, what is a parent to do? How does one find balance and establish authority in such turbulent and uncertain times?

Oct 29
14.30-18.00
TALK WITH EDITH AND SHARING SESSION WITH Adjie Silarus
RHYTHM AT HOME
Rhythm plays an important part in building a predictable and secure environment.
Rhythms establish a foundation of cooperation and connection = You and I situation
This builds trust in the world and is of particular benefit to ARD/ADHD children

Oct 30
09.00-12.30
TALK WITH EDITH AND SHARING SESSION WITH Dira J Sugandi
Perhaps the most important part of being a grandparent is having a second chance.
Through the relationship with their grandchildren, grandparents can try and
do better some of the things they felt less happy about as parents.
However tensions are likely to arise between the different generations when the needs and wishes of grandparents and parents conflict.
10% reg fee disc bagi para orang tua murid Jagad Alit, member Klab Anak Rabu, dan member free parenting session dan study group (min kehadiran 5 kali pertemuan)

Rabu, 12 Oktober 2016

ONLY FOR US, YOU, AND ALL OF YOU!

Oct 15, 2016
09.00 - 15.00
at Jagad Alit Play and Kinder
Jl. Babakan Jeruk IIE, Bandung

Yoga Session with Pujiastuti Sindhu
Parenting and Study Group Discussion with Edith Van der Meer
Mini Bazaar with the natural products and healthy foods

Registration
Email jagadalit.waldorfschool@gmail.com
WA 087823152314
Limited seat


Kamis, 29 September 2016

WE SHARE WE CARE

                  Bermain bersama semesta
                             Berkelana bersama cerita
Menyelami lautan imajinasi 
          Mengejar jutaan mimpi




Rahasia-rahasia semesta tempat kita tinggal akan dibuka sedikit demi sedikit melalui beragam aktivitas yang bisa diikuti anak usia 3-12 tahun, diantaranya bertemu Pauline Oud (penulis dan illustrator karakter Lily and Milo). Pauline akan berbagi mengenai pengalamannya dalam menulis buku anak dan membuat ilustrasinya. Selain itu, ada story reading bersama Pustakalana, bincang pendidikan bersama Jagad Alit mengenai pentingnya dongeng. Ada juga workshop permainan tradisional, outdoor activities, photo booth dan bazaar 

Clavis Indonesia sebagai salah satu penerbit International, hadir di tengah-tengah kita untuk membawa kisah-kisah inspiratif yang akan menjadi bagian dari jalan panjang anak-anak. Bekerja sama dengan Pustakalana Children’s Library dan Jagad Alit Waldorf School Playgroup & Kinder, acara sosial dengan tajuk We Share We Care ini merupakan upaya Clavis untuk mendukung anak-anak Indonesia menggapai mimpi mereka. 

Semua acara ini tidak dipungut biaya. Cukup daftar ke clavis.jagadalit@gmail.com lalu datang saat hari-H nya, Rabu 5 Okt 2016 jam 14.00-16.00 ke Jagad Alit di Jl.Babakan Jeruk III E, Terusan Pasteur Bandung. Setiap anak yang ikut beraktivitas akan mendapatkan goody bag dari Clavis.

Selasa, 20 September 2016

We strengthen our will in every school day

Di Jagad Alit, anak-anak tidak diharuskan melakukan suatu aktivitas. Hampir semua kegiatan diikuti anak-anak berdasarkan kemauan mereka sendiri. Begitu pula dengan kegiatan wet on wet painting ini. Ketika mereka sedang bermain bebas di dalam ruangan, terdengar suara guru menyanyikan lagu

Kupunya teman baruuuu
Kuberi nama tipyyyy
Kuajak dia bermaiiinn...

Lalu guru melakukan wet on wet painting sambil bercerita

Tipi sang kuas terbangun perlahan
Dengan hati-hati ia menggerakkan tubuhnya
Pagi itu matahari bersinar hangat
Tipi beranjak untuk mandi dan mengeringkan tubuhnya
Ia bersiap keluar menyapa mentari pagi
Warna kuningnya memberikan kehangatan
Tipi berjalan kesana kemari
Menari nari bersama mentari
Terus menari bersama mentari
Hingga siang menghampiri
Sebelum pulang, tak lupa ia mencuci kakinya hingga bersih
Dan mengeringkannya dengan lembut.

Satu persatu anak menghampiri dan berkata
"Ibu, aku juga mau melukis."

Sebagai orang dewasa kita tentu dapat merasakan perbedaan ketika kita melakukan sesuatu karena kemauan sendiri dengan ketika kita disuruh atau terpaksa melakukan sesuatu....




Sabtu, 10 September 2016

Eid Al Adha Celebration


To bring the light and share with others

Setiap anak memiliki waktu
Waktu untuk tumbuh dan berkembang
Waktu untuk membuka pikiran mereka

Tidak ada cerita perjalanan religius
Tidak kisah mengenai suatu pengorbanan
Belum saatnya....nanti ada waktunya

Saat ini mereka perlu merasakan kebaikan-kebaikan yang ada di bumi ini. 
Berbahagia dan berbagi kebahagiaan. 
Menjadikan bumi ini sebagai tempat yang aman bagi mereka.

www.tokecangnaturaltoys.com

Sang bintang bercahaya
Sang bulan bercahaya
Membawa sinar indahnya
Bahagialah sekelilingnya

Idul Adha datang membawa cahaya
Bersama indahnya sinar bulan dan bintang
Gelap berganti terang
Berbahagialah sekelilingnya

Idul Adha datang membawa cahaya
Berbagi kebahagiaan kita bersama
Seperti bulan dan bintang
Mari berbagi dengan hati riang

Kain hitam kami tinggalkan
sebagaimana kami ingin meninggalkan keburukkan









Kain putih kami kelilingi
sebagaimana kami ingin menebarkan kebaikan









Cahaya lilin dinyalakan sebagaimana kami ingin menyalakan sinar kebaikan
layaknya bulan dan bintang yang memberikan
ketentraman dan kebahagiaan bagi sekelilingnya


Sepanjang bulan ini circle time kami berisi sebuah cerita ttg
bunga, kupu-kupu dan lebah yang berbesar hati berbagi madu


Kupu-kupu datang menari
Lebah datang menghampiri
Bunga siap menanti 
Memberi madu untuk dinikmati

Seekor beruang besar datang mendekati 
Mengayun langkah... kiri..kanan..kiri..kanan 
Kupu dan lebah berbesar hati
Kepada seekor beruang mereka berbagi 

Dua ekor domba datang mendekati 
Beriringan melangkah.. kiri..kanan..kiri..kanan 
Kupu dan lebah berbesar hati
Kepada dua ekor domba mereka berbagi 

Tiga ekor kelinci datang mendekati 
Siap melompat hop..hop..hop 
Kupu dan lebah berbesar hati
Kepada tiga ekor kelinci mereka berbagi




Madu telah habis
Kupu-kupu dan lebah 
senang di hati
Berbagi madu berbagi ceria
Bersama sama bersuka cita





Kupu-kupu dan lebah berbesar hati
Kepada tiga ekor kelinci mereka berbagi

Semua yang terjadi di dunia ini bukanlah suatu kebetulan. Semua ada maksudnya. Juga ketika anak-anak mendapatkan hadiah tak terduga. Bertemu dengan seekor kelinci!

Anak-anak membagikan madu dan kurma kepada para bapak penjaga kemanan di sekitar Jagad Alit. Kebesaran hati mereka seolah mendapat jawaban! 


Nikmati kebahagiaan bersama





Sabtu, 27 Agustus 2016

CATATAN FREE PARENTING DISCUSSION 27 AGUSTUS 2016

Parenting discussion kali ini kami isi dengan sharing pengalaman antara interaksi orang tua bersama anak di rumah dan interaksi kami sebagai guru pendamping anak di sekolah. Beberapa hal yang kami diskusikan berkaitan dengan anak usia 3 sd 6th adalah mengenai :
  • MEMBANGUN RITME KESEHARIAN ANAK DI RUMAH
    • Ritme yang tersusun atas aktivitas breathing in dimana anak berfokus pada dirinya dan breathing out dimana anak memiliki kesempatan untuk menyalurkan energinya akan membantu anak untuk dapat melawati hari dengan rasa sehat. Aktivitas breathing in dan breathing out ini disusun berselang-seling. Begitulah ritme yang dilalui anak saat beraktivitas di Jagad Alit Play and Kinder dari jam 8.00 sd 10.45. Anak-anak datang ke sekolah setelah melalui perjalanan di dalam kendaraan, maka aktivitas yang pertama adalah free play outdoor (breathing out). Setelah hampir satu jam, anak-anak kami ajak untuk mengikuti circle time (breathing in). Lalu kami masuk ruangan. Mereka diberi kesempatan untuk menikmati free play indoor (breathing out), dan kamipun memberi kesempatan bagi anak-anak yang ingin mengikuti aktivitas art and craft atau yang ingin membantu menyiapkan snack (breathing in). Di dalam ruangan ini, biasanya aktivitas breathing out dinikmati anak-anak dalam rentang waktu yang lebih lama daripada breathing in. Kemudian kami menikmati snack bersama. Dan sebelum pulang, anak-anak mendengarkan dongeng (breathing in).
    • Ritme ini tentunya dapat dilanjutkan di rumah. Mulai dari anak tiba di rumah sampai dengan malam hari saat mereka tidur, disusun berselang seling antara aktivitas breathing in dan breathing out. Ada bbrp hal yang bisanya menjadi penyebab anak tidak menikmati harinya yaitu :
      • Kurangnya kesempatan anak utk menyalurkan energinya melalui aktivitas breathing out. Terkadang kita menganggap sepele aktivitas bermain anak. Kita berpikir anak main-main saja tdk jelas, lalu kita mencarikan aktivitas yang KITA nilai lebih bermanfaat, misal menggambar, membaca buku, membuat kerajinan tangan, shg akhirnya aktivitas breathing in lebih mendominasi. Tidak seimbang dengan aktivitas breathing out-nya.
      • Atau sebaliknya. Anak terlalu lelah karena berlarian kesana kemari. Bahkan mungkin makan pun sambil bermain atau sambil jalan-jalan diluar atau sambil lari-lari.
      • Waktu tidur yang kurang atau saat tidur malam terlalu larut. Tidur adalah waktu istirahat yang sangat penting. Beberapa sistem tubuh kita bekerja pada saat kita tidur malam. Energi dapat terbangun kembali setelah kita tidur cukup. Apa yang didapatkan pada hari itu akan terinternalisasi pada saat tidur malam.
    • Ritme yang kurang sehat dapat menyebabkan anak rewel, susah diatur atau over excited. Penting bagi kita untuk memperhatikan ritme yang sehat, daripada menilai bahwa anak kita adalah anak yg sulit diatur atau sering rewel.

  • MENETAPKAN BATASAN-BATASAN YANG SEHAT (HEALTHY BOUNDARIES)
    • Anak MEMBUTUHKAN boundaries agar mereka merasa aman. Tetapi anak tidak tahu batasan-batasan tersebut. Sehingga mereka terkadang/sering menguji kita utk mencari jawaban sampai dimana batasan-batasan tersebut. Mereka melakukan hal ini dan itu yang mungkin menurut kita sengaja mereka lakukan untuk membuat kita kesal atau marah. Atau mungkin kita kemudian beranggapan anak tersebut jahil atau nakal. Sekali lagi, mereka sedang mencari jawaban. Dan kitalah sumber jawaban tersebut. Tantangannya adalah bagaimana memberikan batasan yang sehat, tidak terlalu longgar dan tidak terlalu ketat sehingga anak malah tidak punya ruang untuk mengekspresikan dirinya. Tantangan lainnya adalah bagaimana kita konsisten terhadap batasan yg telah kita tetapkan. Jangan sampai saat ini kita berkata tidak, tetapi di lain waktu kita berkata iya. Atau kita berkata tidak tetapi ketika anak marah atau menangis atau tantrum, lalu kita berubah pikiran.
    • Salah satu faktor penentunya adalah KOMUNIKASI. Bagaimana cara kita menyampaikan batasan-batasan tersebut. Dari beberapa sumber bacaan dan dari pengalaman mendampingi anak-anak di Jagad Alit, maka hal-hal yang sebaiknya diperhatikan adalah :
      • Sebelum kita menetapkan boundaries, tanya dulu pada diri sendiri, “apa manfaat/tujuan dari batasan ini?” “Apakah kita menetapkan batasan ini demi kepentingan anak atau demi kepentingan kita?” Seperti yang dikatakan Steve pada saat public talk dan spt yg ada dalam bukunya, THINK FIRST, THEN TALK - WAIT (What am I thinking? Why am I talking?) Misal, anak berlarian kesana kemari. Ketika kita menginginkan anak utk tdk berlarian, pikirkan dulu apakah demi keselamatan anak atau karena kita tidak mau mendengar suara-suara berisik dan kita tidak mau ruangan jadi berantakkan?
      • Ketika kita sudah yakin batasan itu demi kepentingan anak, maka sampaikan dengan kata-kata positif, “lari-larinya di luar ya...” Untuk beberapa situasi atau beberapa anak, mungkin saja kata-kata positif ini tidak mempan. Maka bukanlah hal yang tidak boleh untuk berkata “TIDAK.” Tetapi berdasar pengalaman kami, jangan berkata “JANGAN.” Ada perbedaan antara kata TIDAK/NOT dengan JANGAN/DON’T. “Ruang tamu tidak dipake untuk berlari-lari” menunjukkan bahwa kita adalah si pembuat peraturan/batasan dan itulah batasannya. “Jangan berlari-lari di ruang tamu” menunjukkan larangan, yang biasanya semakin dilarang, anak-anak malah melakukan hal tersebut untuk menunjukkan keberadaan dirinya. Kita ingat-ingat lagi dari bbrp materi public talk di Jagad Alit bahwa “I” atau “ego” anak mulai muncul saat mereka berusia 3 tahun.
      • Fokus pada objek atau predikat. bukan pada subjek pelaku agar anak merasa tidak dihakimi/disalahkan/dilarang. Hal ini bisa kita lakukan dengan menggunakan predikan/objek sebagai kata pertama. “LARI-LARINYA di luar ya.” Atau “RUANG TAMU tidak untuk berlari-lari.” Kalau kita memulai dg subjek pelaku maka akan spt ini “Manda, jangan lari-lari di ruang tamu,” atau “Manda, lihat ruang tamunya jadi berantakkan kan...”
      • Bicara hanya dengan beberapa kata dan perlahan-lahan (tidak cepat-cepat). Anak usia 7 th ke bawah BELUM memiliki kemampuan untuk memperhatikan penjelasan yang panjang lebar. Mereka juga belum memiliki kemampuan untuk memproses kata-kata secepat orang dewasa. “Lari-larinya di luar ya..” yang diucapkan pelan-pelan (jika perlu, seperti orang sedang belajar baca) akan lebih dapat diproses oleh anak daripada jika kita berkata, “larinya di luar jangan di ruang tamu, sempit kan...nanti kamu kesandung dan jatuh, atau nanti vas bunganya kesenggol. Kalo pecah gimana coba...ga bisa cari gantinya...nanti ibu sedih lo...”
      • Ketika kita menyampaikan batasan tersebut, yakinlah bahwa anak akan mendengarkan kita. Jangan ada perasaan ragu-ragu atau khawatir bahwa anak akan melawan. Keragu-raguan kita akan dapat dirasakan oleh anak melalui intonasi, ekspresi wajah, dan gesture kita. Secara tidak sadar, keragu-raguan itu akan tercermin ketika kita bicara. Dan ketika anak merasakan itu, maka mereka yang ambil alih kendali.
      • KONSISTENSI. Yakin dan konsisten thd apa yg sudah kita jadikan batasan. Anak punya berbagai cara untuk menguji konsistensi kita. Begitu kita tidak konsisten, maka cara itu akan dijadikan senjata dalam menghadapi situasi-situasi menantang lainnya.
    • Semua berproses. Tidak dlm sekejap, tdk dalam sehari dua hari, tidak dalam satu, dua, atau tiga kejadian. Sabar dan konsisten serta amati setiap kejadian sehingga kita bisa menemukan pendekatan yang pas bagi anak kita. Setiap anak berbeda. Parenting adalah seni bukan hanya ilmu. Dan ingat jg bhw anak belajar dari proses IMITASI. Ingat-ingat juga bahwa mendongeng dan bounding memegang peranan yang tdk kalah pentingnya.
  • PERANAN ORANG DEWASA SELAIN AYAH DAN IBU DI RUMAH
Ketika ada orang dewasa selain ayah dan ibu yang tinggal di rumah yang sama, maka tantangan utk membangun ritme dan boundaries yang sehat mungkin akan semakin besar. Apalagi kl ada perbedaan persepsi dan gaya pengasuhan. Ditambah lagi jika kita powerless karena berbagai sebab, misal : ga enak sama orang tua, ga enak sama mertua, takut menyakiti hati mereka, ga enak krn mereka yg seringnya ngasuh sementara kita seharian bekerja, dll. Makin banyak “tangan” yang terllibat dalam pengasuhan anak, maka tantangan akan semakin besar. Utk hal ini sepertinya blm banyak yg bisa dibahas, kecuali masalah KOMUNIKASI. Bagaimana menyampaikan kpd org yg terlibat dlm pengasuhan anak mengenai batasan-batasan sehingga tdk terjadi double standard. Perasaan tdk enak dll itu mungkin bisa dipertimbangkan dg pemikiran bhw yg kita lakukan adalah demi kepentingan anak, bukan demi kepentingan pihak-pihak lain. Tentunya setelah kita yakin benar bahwa apa yang kita tetapkan memang utk kepentingan anak.

Kira-kira itulah yang kita diskusikan.
Semoga bermanfaat dan sampai bertemu bulan depan

Rabu, 17 Agustus 2016

MEMAKNAI HARI KEMERDEKAAN





Kita seperti layang-layang
Tak kenal takut berteman awan
Terbang tinggi mengudara
Terbang tinggi berputar melayang




Setiap anak memiliki waktu
Waktu untuk tumbuh dan berkembang
Waktu untuk membuka pikiran mereka



Tidak ada cerita kepahlawanan disini
Tidak kisah perjuangan dengan tombak dan senjata

Tidak ada untaian kata yang mengungkapkan 
betapa hebatnya para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia
Tidak ada pertanyaan mau jadi apa mereka nanti utk mengisi kemerdekaan ini
Belum saatnya....nanti ada waktunya






Saat ini mereka perlu kebebasan
Saat ini mereka perlu keberanian
Saat ini mereka perlu rasa mencintai



Bebas bermain
Berani melangkah
Mencintai sesama



Itu saja...
Dan hari ini menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi mereka...




Usaha dan kerja keras bukanlah bersakit-sakit
Menikmati hasil bukan demi kesenangan sendiri


Bekerja bersama
Nikmati bersama
.................................................